
Malam yang seharusnya jadi waktu beristirahat, namun malam itu ribuan prajurit bersiap dan bersiaga di gerbang kota Yang.
Ratusan pendekar tampak telah berada di luar gerbang Kota Yang, para pendekar yang di pimpin oleh seorang pemuda berumur delapan belas tahun.
Mereka adalah para pendekar dari Pulau Larangan yang turun langsung untuk menghadapi rencana penyerangan sekitar dua puluh ribu pasukan iblis.
"Mo Gei, kita harus mempersiapkan perangkap bagi pasukan sekte iblis itu, begitu mereka masuk perangkap, baru kita hadapi mereka secara langsung," kata Lee Tang Yin pada Wong Mo Gei.
"Saya setuju dengan pendapat, Tuan. Tapi membuat perangkap membutuhkan waktu, Tuan," jawab Wong Mo Gei.
"Kita akan meminta bantuan roh suci untuk membuat perangkap, dengan bantuan mereka pula kita bisa mengalahkan pasukan iblis yang memasuki daerah ini," kata Lee Tang Yin lagi.
"Tidak salah jika saya mengajak, Tuan Lee Tang Yin dalam menghadang pasukan iblis itu, Tuan Lee Tang Yin begitu berpengalaman," puji Wong Mo Gei.
"Terima kasih, Mo Gei. Menyiapkan perangkap itu berguna untuk mengacaukan barisan mereka dan juga sebagai pemecah mental mereka, kita bisa menghabisi mereka dengan mudah, jika berhasil membuat mereka panik," tambah Lee Tang Yin lagi.
"Bagaimana Tuan-tuan, Setuju?" tanya Wong Mo Gei pada para pendekar yang lain termasuk Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin.
"Pendapat Tuan Lee Tang Yin itu sangat bagus, aku setuju Mo Gei," jawab Cek Pei.
"Aku rasa itu pilihan terbaik," kata Wa Hua Wa menimpali.
"Ya, kita akan menunggu mereka di tempat sepi pemukiman ini, setelah mereka kacau kita bisa bantai mereka," Singa Merah menimpali.
"Bagaimana Tuan Jenggot Api?" tanya Wong Mo Gei pada Jenggot Api yang berdiri di samping Singa Merah.
"Pimpinan di sini kau, anak muda. Kami mengikuti perintah kalian, selagi itu bagus, kita jalankan," jawab Jenggot Api.
"Berarti semua setuju?"
"Ya, kami setuju Mo Gei!" jawab para pendekar itu berbarengan.
"Raja naga api, aku membutuhkan bantuanmu," kata Wong Mo Gei pada roh sucinya.
"Hamba sudah mendengar Tuanku, hamba akan memanggil beberapa roh suci naga yang lain," jawab raja naga api lagi.
"Oh ya, raja naga. Apa kau tidak mempunyai nama dan gelar? Maafkan aku yang selama ini belum menyadari," kata Wong Mo Gei.
"Ho ho ho...! Tuanku, kami para roh suci adalah mahluk kayangan, jadi kami juga mempunyai nama, tapi para roh suci baru bisa berkomunikasi bagai manusia karena kekuatan hamba, mungkin sudah ada yang berkenalan atau berkomunikasi dengan nama mereka masing-masing," jawab roh suci raja naga.
"Berarti kami yang tidak mengenal roh suci kami sendiri raja naga, maafkan kekurangan manusia-manusia termasuk diriku ini raja naga," kata Wong Mo Gei lagi.
"Ho ho ho...! Tuanku, Tuanku adalah manusia yang di pilih, tentu kami maklumi kekurangan para majikan kami, kami juga salah, karena tidak memperkenalkan nama kami pada majikan kami sendiri," jawab roh suci raja naga api lagi.
"Baiklah, siapa namamu raja naga api, biar kita bisa saling mengenal lebih dekat," tanya Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Ho ho ho...! Apa kita selama ini kurang dekat Tuanku, Hamba merasa kita tidak ada jarak Tuanku," jawab roh suci raja naga api sambil tertawa, "Nama hamba adalah Zui Kiang, Tuanku,
"Jadi, aku harus memanggilmu apa raja naga, Zui apa Kiang?"
"Ho ho ho...! Terserah Tuanku saja, tapi hamba lebih suka Tuanku memanggil hamba raja naga api,"
"Baiklah raja naga Zui Kiang, aku akan memanggilmu dengan panggilan itu mulai saat ini,"
"Terima kasih Tuanku," raja naga api langsung berubah menjadi cahaya dan keluar dari tubuh Wong Mo Gei.
"Pasukanku, aku membutuhkan bantuan kalian," kata raja naga api setelah membentuk seekor naga dan mendarat di depan Wong Mo Gei.
Wuss! Wuss!
Beberapa roh suci langsung menjelma menampakkan diri mereka dan mendarat di depan para pendekar.
Ada sekitar dua puluh ekor roh suci yang keluar dari tubuh tuan mereka termasuk roh suci naga terbang WA Hua Wa, roh suci naga air Cek Pei, tidak ketinggalan roh suci naga api Zhang Sin Ming.
Setelah mengumpulkan pasukannya, roh suci raja naga api memimpin pasukan roh suci menyiapkan perangkap menggunakan kekuatan mereka. Tidak butuh waktu lama perangkap telah siap di gunakan.
Padang rerumputan menjadi tempat perangkap itu, pasukan roh suci membuat perangkap yang begitu berbahaya bagi pasukan iblis.
Setelah melaksanakan perintah tuan mereka, semua roh suci itu berkumpul di depan para pendekar.
"Pasukanku, aku dan tuanku, Wong Mo Gei telah saling berkenalan dengan memperkenalkan nama, sekarang saatnya kita memperkenalkan diri pada tuan kita," kata raja naga api Zui Kiang.
Suatu perkenalan antara roh suci itu menjadi tontonan yang menarik bagi para pendekar.
"Tuan-tuan, persiapkan diri kalian, pasukan iblis sudah berada di ujung desa Sekte Api itu," kata roh suci raja naga api Zui Kiang.
"Kita sembunyi dulu di dalam hutan sana, begitu mereka masuk wilayah dan terkena perangkap, kami yang akan membuat mereka kacau lebih dulu," kata roh suci naga terbang WA Hua Wa.
"Baik, kami serahkan urusan perangkap itu pada kalian," jawab Wong Mo Gei, "Ayo, Tuan-tuan,"
Sekejap mata para pendekar itu menghilang dari tempat itu, mereka bergerak bagai bayangan melompat ke atas dahan pepohonan di belakang mereka.
Di ujung Desa Sekte Api, tampak ribuan prajurit sekte iblis berjalan memasuki desa.
"Periksa semua rumah!" perintah Jendral Kelelawar Hantu, tanpa banyak bicara pasukan iblis kelelawar hantu langsung memeriksa keadaan tempat itu.
"Lapor Tuanku, tempat ini telah di dikosongkan," lapor salah seorang kepala pasukan iblis.
"Kurang ajar, jadi para manusia itu sudah mengantisipasi kedatangan kita. Seluruh pasukan kita serbu gerbang kota Yang malam ini, kita jadikan manusia sebagai santapan pagi kita!"
"Hoaarrr.....!!"
__ADS_1
Terdengar menggema teriakan semangat dua pasukan sekte iblis itu.
"Gerbang kota ada di depan sana, serbu.....!!"
"Hoaaarrr.....!!
"Aaarrkk....!!"
Teriakan kesakitan dan keterkejutan pasukan iblis yang sedang berlari kencang terdengar ramai saling bersahutan. Para iblis itu jatuh tumpang tindih ke dalam lobang besar yang di siapkan para roh suci.
Belum hilang keterkejutan mereka.
"Bakar...!" perintah raja naga api Zui Kiang, begitu cepat para roh suci sudah berada di depan lobang besar itu.
"Hoaaarrr.....!!
Wurrr....!
Wurrr......!
"Aaarrrk.....!!"
Seluruh roh suci yang membuat barisan langsung secara serentak menyemburkan api mereka ke arah ribuan pasukan sekte iblis yang berdesakan di dalam lobang perangkap itu. Jerit kesakitan melolong di tengah malam itu.
Kibaran api membakar para prajurit iblis membuat tempat itu terang-benderang di sinari cahaya api.
"Habisi mereka...!"
.
.
Bersambung....
Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
__ADS_1
Koment.
Dan Votenya.