
Wong Mo Gei dan Cek Pei telah berdiri sekitar tiga tombak di depan Zio Jin dengan begitu tenang tanpa mengalami suatu hal apa pun.
Zio Jin tampak terkesiap, tangannya menggenggam gagang pedang bergambar kepala burung di pinggangnya.
"Masih mau lanjut, Kisanak?"
"Bangun kalian cepat!" teriak Zio Jin dengan keras, anak buahnya berusaha bangun walau agak linglung. Tanpa menunggu perintah lagi kedua puluh orang Perompak Tengkorak Merah itu langsung kembali mengepung Wong Mo Gei dan Cek Pei.
"Hmm.., rupanya kalian memang perlu mandi pagi ini, agar keluar dari mimpi semalam," dengus Wong Mo Gei, sekali melesat pemuda itu bagaikan kilat. Dalam sekejap kedua puluh orang anggota Perompak Tengkorak Merah itu sudah bermentalan ke arah laut.
"Aaaa....!"
Jeritan susul menyusul terdengar menyayat hati. Satu persatu para perompak itu tercebur ke dalam laut. Zio Jin hanya mampu ternganga tanpa mampu mengeluarkan suara, bagaimana tidak. Anak buahnya yang selama ini ia andaikan kini di buat bagai daun kering tertiup angin, berterbangan.
"Kau... Kau manusia atau iblis," terdengar serak dan tersendat suara Zio Jin itu, tubuhnya langsung berkeringat dingin membasahi seluruh tubuhnya sampai ke wajah.
"Ha ha..! Tadi mulutmu begitu sombong, Kisanak. Sekarang di mana keberanianmu sebagai perompak kejam itu," kata Cek Pei sambil tertawa mengejek.
"Apakah aku ini begitu seram, Kisanak. Sehingga kau menyangka kalau aku adalah Iblis?"
Wong Mo Gei malah tertawa mendengar perkataan Zio Jin yang mengacung ke arah pertanyaan tersebut.
"He he... Mo Gei, kau sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, aku takut ia malah ngompol karena takut padamu," timpal Cek Pei sambil tertawa.
Wa Hua Wa dan Sin Yin muncul dari dalam kapal, kedua gadis itu terbangun mendengar suara ribut-ribut di geladak kapal.
"Mo Gei, kenapa banyak orang yang berenang di bawah sana?" tanya Wa Hua Wa sambil tertawa melihat puluhan perompak berusaha berenang ke arah kapal mereka.
"Mereka tampaknya lagi berenang pagi, sekalian latihan renang!" seloroh Sin Yin sambil tertawa.
"Kau benar Sin Yin, mereka belum mandi, jadi Mo Gei menyuruh mereka mandi dulu," sahut Cek Pei sambil tertawa. Zio Jin tambah berkeringat dingin melihat musuh kini ada empat orang pendekar muda. Ada penyesalan yang timbul dalam hati Zio Jin, jika ia tidak merapat ke kapal Lee Tong. Semua ini tidak akan terjadi.
"A... Apa mau kalian?" terbata-bata suara Zio Jin itu.
"Ka... Ka... Kami ti..., tidak mau apa apa," jawab Cek Pei menirukan perkataan Zio Jin yang terbata-bata tersebut. Wong Mo Gei jadi tertawa di ikuti oleh Wa Hua Wa dan Sin Yin. Mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Kurang asam, kau, Cek Pei. Kau membuat perutku sakit saja," kata Wong Mo Gei sambil tersenyum cengegesan. Mantan anak buah si Mata Satu pun ikut tertawa melihat Zio Jin gemetar ketakutan sampai bicara pun tidak becus lagi.
__ADS_1
Tubuh Zio Jin tampak gemetaran, keringat mengucur dari tubuhnya. Wajah seram Perompak Tengkorak Merah itu jadi pucat pasi. Tanpa di minta dan di perintahkan Zio Jin langsung berlutut menyerahkan diri.
"Ampun... Ampuni aku pendekar, jangan bunuh aku...," ucap Zio Jin dengan wajah menunduk.
"Cepat tinggalkan kapal kami sebelum pikiranku berubah," kata Wong Mo Gei dingin.
"Baik. Tuan," jawab Zio Jin, tanpa banyak bicara pimpinan Perompak Tengkorak Merah langsung berjalan kembali ke kapalnya memakai sekeping papan penyeberangan. Karena tubuhnya sudah gemetaran Zio Jin hampir jatuh saat menyeberang.
"Ha ha ha...!" tawa Cek Pei terlepas ketika melihat Zio Jin hampir jatuh, dengan sempoyongan akhirnya laki-laki itu berhasil menyeberang. Setelah sampai ke kapalnya, Zio Jin langsung memerintahkan anak buahnya melepaskan tali pengikat dan menjauh.
Kini Wong Mo Gei bersama awak kapal Perompak Mata Satu meneruskan perjalanan mereka menuju Pulau Larangan.
Setelah dua hari dua malam perjalanan mereka mencapai pulau yang penuh dengan para Perompak dan para pendekar buronan dari berbagai negara itu. Sudah puluhan tahun tidak ada para prajurit atau pun para jendral perang yang berani melakukan pengejaran ke Pulau Larangan ini.
Melihat kapal Si Mata Satu yang menepi, penjaga dermaga segera menambatkan tali kapal Perompak Mata Satu yang di berikan oleh Long Yin.
Begitu Long Yin turun dari kapal dengan di ikuti Wong Mo Gei dan kawan-kawannya, puluhan perompak penjaga pantai langsung mengepung mereka.
"Long Yin, mana Lee Tong? Kenapa kau dengan para pemuda ini?" tanya salah seorang perompak yang berkepala botak, di antara para perompak yang ada di sana si botaklah yang mempunyai tubuh paling besar dan kekar.
"Tuan Lee Tong sudah tidak ada di dunia ini Ming Tan," jawab Long Yin.
"Para pendekar ini yang membunuh Lee Tong,"
"Apa kau tidak salah, Long Yin. Anak-anak ini sanggup membunuh Lee Tong?" tanya Ming Tan setengah tidak percaya.
"Kau mau percaya atau tidak terserah Ming Tan, itu urusanmu," jawab Long Yin lagi.
"Kepung mereka!" perintah Ming Tan. Tanpa banyak bicara puluhan orang perompak berwajah seram itu langsung mengepung Wong Mo Gei bersama ketiga temannya.
"Tampaknya kita tidak perlu latihan lagi, Sin Yin," kata Wa Hua Wa sambil mengerling ke arah Sin Yin. Sin Yin hanya tersenyum dan melangkah kesamping Wa Hua Wa dua tindak. Ke empat pendekar muda itu membentuk lingkaran. Cek Pei melintangkan pedangnya sama datar di depan dada.
"Ayo. Jika kalian ingin menjajal kemampuan kami," ujar Wong Mo Gei begitu tenang, hanya ia yang tidak memakai pedang. Kerena pedang naga kayangan di simpan Wong Mo Gei di penyimpanan dimensi milik raja naga api.
"Habisi mereka!" teriak Ming Tan seraya melambaikan tangannya ke depan. Puluhan para perompak itu langsung melompat menyerang, ada yang menyerang dengan tinju ada juga dengan tendangan.
"Hup!"
__ADS_1
Wa Hua Wa melentingkan diri ke udara menghindari serangan beberapa orang perompak berwajah sangar yang menentangnya. Wa Hua Wa berjumpalitan sekali di udara dan menjejak kaki di belakang para penyerangnya.
"Hiyaaa...!"
Jerit melengking keluar dari gadis cantik berbaju merah itu, maka seketika tubuhnya melesat seraya memberikan tendangan ke arah dua orang perompak yang baru berbalik arah, ke arahnya.
Duk!
Duak!
"Aagkh....!"
Dua orang perompak itu langsung terjungkal ke tanah, kedua perompak itu menggeliat kesakitan di tanah.
Sementara Wong Mo Gei bergerak cepat dengan jurus 'Cakar Naga Api'.nya, beberapa gerakan saja membuat perompak yang menyerangnya harus jatuh dengan bagian tubuh terkoyak seperti terkena cakaran binatang buas. Para perompak yang terkena cakaran Wong Mo Gei tidak ada yang mampu bangun lagi.
.
.
"
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.