
Hiruk pikuk di alun-alun istana kerajaan Yin dan Yang begitu ramai. Ratusan orang bahkan mungkin ribuan rakyat dari tujuh sekte berbondong-bondong menuju alun-alun.
Hari ini adalah hari dimana semua kekuatan roh suci dari tujuh sekte di pertandingkan. Kompetisi tahunan yang di tunggu oleh para pendekar muda. Di mana mereka bisa menunjukkan kebolehan mereka dalam kekuatan roh suci mau pun di segi ilmu kedikjayaan beradu kepandaian ilmu beladiri, baik bermain pedang dan ketangkasan bertarung dengan tangan kosong.
Tiga tahun sudah sejak Wong Mo Gei dan Cek Pei mau pun Wa Hua Wa membangkitkan kekuatan roh suci. Tanpa di ketahui oleh kedua orang tuanya dan para penduduk tujuh sekte Wong Mo Gei mengikuti kompetisi tahunan itu.
Selain mereka bertiga hanya tiga orang dari Sekte Batu yang mengetahui roh suci yang dimiliki oleh Wong Mo Gei.
Tampak para prajurit Kerajaan berjaga-jaga di setiap sudut benteng istana. Ketiga orang pemuda dari Sekte Batu itu juga telah menjadi sahabat Wong Mo Gei. Kekalahan mereka di bangunan tua dua tahun yang lalu membuat mereka menjadi teman akrab.
"Mo Gei, apa kau sudah mendaptarkan diri di kompetisi?" tanya Tan Lung Xian, salah seorang teman mereka dari Sekte Batu tersebut.
"Jangan keras-keras, nanti orang-orang malah dengar," yang menjawab adalah Cek Pei, sedangkan Wong Mo Gei hanya tersenyum.
"Kau sendiri sudah mendaftar?" tanya Cek Pei pada Tan Lung Xian.
"Kami sudah mendaftarkan diri dari tadi, kalau tidak salah kami tadi di nomor urut kelima puluh tiga," jawab Tan Lung Xian.
"Aku melihat tahun ini bakal banyak peserta di banding tahun-tahun kemarin," kata Shen Liang menyela.
"Ya, dari Sekte Awan Putih ada sekitar sepuluh orang yang mendaftarkan diri, termasuk Wang Man Chu pemenang lomba tahun kemarin," tambah Tan Lung Xian, sedangkan Lin Yang Mie tampak diam saja mendengar celoteh kelima temannya.
"Lin Yang, kau kenapa diam saja, apa ada sesuatu yang kau cemaskan?" tanya Wa Hua Wa sambil tertawa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Wa Hua Wa, aku hanya merasa lapar. Bagaimana kalau kita cari makan di luar, aku lihat di luar tembok banyak yang berjualan makanan," jawab Lin Yang Mie.
"Hehehe..! Lin Yang, kau hanya mikirin makan saja, nanti kau malah jadi gembul!"( panggilan untuk orang gendut ) tukas Tan Lung Xian sambil tertawa. Di banding dua Tan Lung dan Shen Liang, Lin Yang Mie memang mempunyai tubuh lebih gendut. Lin Yang Mie adalah seorang anak pedagang yang cukup kaya.
"Baiklah kalau kalian tidak mau, aku cari makan sendiri, perutku sudah keroncongan," rungut Lin Yang Mie.
"Ya baiklah, tapi siapa yang traktir hari ini?" tanya Tan Lung Xian sambil tertawa.
"Soal bayar, tidak usah di pikirkan. Sekarang kita cari tempat makan, pertandingan nanti akan membutuhkan tenaga," kata Lin Yang Mie sambil tersenyum.
"Tumben. Hari ini kau pintar Lin Yang! Hehe..!" tawa Tan Lung Xian sambil merangkul bahu Lin Yang Mie, "Ayo teman-teman yang dikatakan Lin Yang benar, pertandingan nanti akan butuh tenaga lebih," tambah Tan Lung Xian.
"Hmmm...! Apa selama ini aku bodoh?" tanya Lin Yang Mie dengan wajah lucunya.
"Bodoh sih nggak, cuma keseringan makan. Lupa berlatih!" jawab Sheng Liang sambil tertawa. Lin Yang Mie hanya merungut dengan memonyongkan bibirnya kedepan, membuat wajahnya tampak lucu. Sehingga Wong Mo Gei dan yang lain tertawa.
"Wajahmu yang lucu, tau... Hahaha..!" tawa Tan Lung Xian sambil memegang bahu Lin Yang. Lin Yang bukannya tersinggung malah ikut senyam-senyum. Tawa mereka berenam terdengar riuh. Orang-orang yang berlalu lalang tampak banyak yang memperhatikan mereka.
"Hehe..! Tampaknya kelinci mau ikut kompetisi tahunan, atau hanya jadi penonton?" kata salah seorang Wang Man Chu, sambil memandang kearah rombongan Wong Mo Gei yang tidak mempedulikan orang lain.
"Pemuda dari Sekte Batu itu, bukankah dulu mereka suka berbuat onar? Kenapa sekarang mereka berteman dengan pemuda Sekte Api?" tambah salah seorang teman Wang Man Chu yang memakai baju hitam kuning.
"Kalian kenapa, selalu saja suka menghina orang lain, dan mengurusi urusan orang? baru dua tahun Sekte kita bisa jadi pemenang kompetisi tahunan. Itu pun sejak ayah Mo Gei tidak ikutan kompetisi karena ia sudah lewat umur," tukas Wang Man Chu tampak kesal dengan celoteh kedua temannya.
__ADS_1
"Iya, Man Chu, maafkan kami," ucap dua orang itu, "Coba kalian lihat, apa mereka sibuk dengan urusan orang lain? Tidak kan, mereka hanya mengurus urusan mereka," tambah Wang Man Chu sambil berjalan. Wang Man Chu memang sudah dua kali memenangkan kompetisi tahunan, namun ia tidak berani sombong. Kakeknya ketua Sekte Awan Putih sangat menghormati ayah dan ibu Wong Mo Gei.
"Ingat Man Chu, janganlah berlaku sombong, biasanya kekuatan besar terlahir dari keturunan orang hebat seperti Zhang Shin Ming dan Shin Yuan Ma, kita belum tau apa yang ada di balik cahaya merah yang menyelubungi cahaya kelinci di tubuh pemuda itu. Jangan remehkan dia, jika kau tidak ingin malu," nasehat kakek Wang Man Chu saat ia memenangkan kompetisi tahunan dua tahun yang lalu. Wang Man Chu jadi agak penasaran apa Mo Gei mengikuti kompetisi atau tidak.
Sementara itu Wong Mo Gei bersama kelima temannya tampak memasuki warung mie dan mengambil sebuah meja untuk duduk, di meja itu tampak sebuah nomor bertuliskan nomor satu dalam hurup cina.
"Maaf anak muda, tempat itu sudah di pesan oleh seorang juragan," ucap pelayan warung mi itu.
"Maaf Paman, bukannya kami membandel, tapi saya lihat hanya meja ini yang kosong," jawab Cek Pei sopan.
"Iya nak, tidak ada yang berani menggunakan meja itu, kau lihat di sana sudah tertulis jangan di ganggu," jelas pelayan itu lagi.
"Emangnya siapa dia, Paman? Sehingga kalian begitu takut padanya?" tanya Wa Hua Wa.
"Dia adalah pemenang kedua lomba tahunan dua tahun berturut-turut, pemuda itu mempunyai kekuatan roh suci beruang api anak muda," jawab pelayan itu mulai tampak takut.
"Biar saja Paman, jika dia datang nanti kami yang akan bicara dengannya," ucap Wa Hua Wa menenangkan pelayan tersebut.
"Baiklah... Jika terjadi sesuatu jangan salahkan saya anak muda," kata pelayan itu sambil berlalu pergi, tidak lama kemudian pelayan itu kembali lagi, "O, iya. Kalian pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Mienya enam, Paman. Porsi besar!" jawab Lin Yang Mie. Pelayan itu hanya menggangguk dan cepat-cepat berjalan kearah belakang. Rupanya serombongan pemuda sudah berdiri di pintu masuk warung itu.
.
__ADS_1
.
Bersambung...