
Puluhan tombak yang meluncur deras ke arah Wong Mo Gei dan kawan-kawannya di tunggu dengan tebasan pedang ke empat orang itu. Rata-rata tombak itu putus dua dan tiga.
"Dari mana datangnya tombak-tombak," desis Wa Hua Wa seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tampaknya dari ujung lorong ini, hati-hatilah, takutnya bakal ada senjata-senjata rahasia yang lain yang mengincar nyawa kita," kata Wong Mo Gei memperingatkan.
Pedang Naga Kayangan masih tergenggam erat di telapak tangan Pemuda berpakaian
serba merah itu, cahaya merah dari pedang naga kayangan membuat ruangan itu bersinar bagai terkenal semburat matahari yang akan terbenam.
Wong Mo Gei berjalan pelan di ikuti oleh Cek Pei Wa Hua WSin Yin dari belakang secara pelan-pelan, dari ujung lorong yang mereka lewati tiba-tiba muncul sekitar dua puluh bangsa dedemit dari bangsa iblis yang memakai baju zirah bagai prajurit siap berperang.
Para penghuni Labirin Kematian itu menatap Wong Mo Gei dan teman-temannya, tanpa ada yang memerintah sekitar dua puluh bangsa iblis itu langsung menyerang ke arah Wong Mo Gei dan kawan-kawannya itu.
Melihat musuh-musuhnya menyerang, Wong Mo Gei tanpa pikir panjang lagi langsung melesat bagai kilat ke arah kompi pasukans penghuni Labirin Kematian itu.
"Heaaa...!"
Set! Set!
Crass! Crass!
Dalam sekali gerakan saja pasukan manusia dedemit itu berjatuhan ke tanah dengan tubuh tertembus pedang naga kayangan di tangan Wong Mo Gei. Darah Hijau mengalir dari tubuh pasukan iblis itu.
Baju zirah besi di tubuh pasukan dedemit sekitar dua puluh orang itu menjadi penutup tubuh sebagai kain di buat oleh pedang naga kayangan.
Cek Pei dan Wa Hua Wa tampak terdiam melihat penyerang mereka habis dibantai oleh Wong Mo Gei.
Suasana hening menyelimuti lorong yang di terangi oleh obor-obor tertancap di dinding lorong itu.
"Ini labirin atau sebuah lorong gua sungguh tempat yang menakutkan," gumam Wa Hua Wa.
"Tampaknya yang dikatakan oleh Singa Merah merah dan Pendekar Rambut Api
itu benar, kita harus berhati-hati terhadap ruangan labirin ini, aku lihat di sisi kanan dan di sisi kiri kita terdapat beberapa buah pintu namun tidak jelas kemana arah pintu itu," kata Cek Pei.
__ADS_1
"Kita tidak bisa berdiam diri di sini, kita harus tetap maju," kata Wong Mo Gei menimpali.
Begitu mereka maju, sekita lima puluh tombak mereka berjalan ke depan tiba-tiba terdengar suara-suara auman bagai suara naga.
"Dari mana suara itu?" tanya Wa Hua Wa sambil menatap Wong Mo Gei dan Cek Pei, namun kedua pemuda itu tidak menjawab mereka berempat jadi menghentikan langkah mereka.
"Hoaaaarrr..!
Tiba-tiba dari arah ujung lorong di depan mereka muncul sesosok makhluk yang mirip ular namun berkepala tiga, tanduk besar di kepalanya saking besarnya tubuh makhluk yang mirip ular itu.
Hampir memenuhi lorong yang ada di depan mereka.
"Apa itu ular, atau seekor naga?" kata Cek Pei seakan bertanya pada diri sendiri.
"Tenang, Tuanku. Itu adalah makhluk ular yang dalam masa pertapaan untuk menjadi seekor naga berkepala tiga. Dia adalah penunggu Pulau Larangan ini sekaligus Labirin Kematian ini," kata raja naga api dari dalam tubuh Wong Mo Gei.
"Jadi, apa yang harus ku lakukan raja naga?"
"Sebaiknya, Tuan bersiap. Biar hamba yang akan menghadapi ular yang dalam masa tapa untuk menjadi seekor naga itu," jawab raja naga api dari dalam raga Wong Mo Gei.
kedua tangannya di depan dada, cahaya
merah bercampur putih mulai menyelubungi kedua tangan Wong Mo Gei itu.
Cahaya merah itu tiba-tiba melesat ke depan Wong Mo Gei dan langsung menjelma menjadi seekor naga yang bertanduk dan sebuah mahkota seorang raja di kepalanya.
"Kenapa kau berada di sini raja naga api?" ular besar berkepala tiga itu tiba-tiba mengeluarkan suara dan lantung merendahkan kepalanya ke lantai Labirin Kematian itu, seakan memberi hormat pada raja naga api di depanya.
"Aku berada disini bersama Tuanku, Wong Mo Gei. Apakah kau yang di sebutkan sebagai makhluk penunggu Labirin Kematian ini, ular berkepala tiga?" tanya raja naga api.
"Maafkan hamba tuan. Hamba sudah bertahun-tahun berada di sini, menunggu waktu hamba untuk menjadi seekor naga, ampuni hamba, hamba tidak berniat menghalangi perjalanan, Tuanku raja naga api. Hamba tahu bahwa hamba tidak apa-apanya dibandingkan dengan Tuanku raja naga api. Hamba mohon maafkan hamba, jika hamba tidak tahu bahwa Tuanku di Pulau Larangan ini," ucap ular besar berkepala tiga itu.
"Ha ha ha...! Aku tahu kau adalah ular yang sedang bertapa menuju tujuanmu menjadi seekor naga, ular,"
"Maafkan hamba, Tuan. Tapi hamba tidak tahu, kalau hamba akan berhadapan dengan Tuan, apa yang bisa hamba bantu sekarang, Tuanku?" tanya ular besar berkepala tiga itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tuanku Wong Mo Gei melalui Labirin Kematian ini tanpa hambatan, pertapa ular," kata raja naga api, sementara Wong Mo Gei bersama Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin melihat percakapan dua makhluk besar diadakan mereka.
"Maafkan hamba, Tuan-tuan. Hamba tidak tahu kalau tuan-tuan ini adalah teman-teman raja naga, hamba akan mengantar tuan-tuan kemana pun tuan-tuan pergi," ucap ular besar berkepala tiga itu.
"Baiklah, pertapa ular. Aku akan kembali ke dalam tubuh tuanku Wong Mo Gei, sekarang ku serahkan padamu untuk menjadi penunjuk jalan tuanku," kata raja naga api sebelum lenyap dari pandangan.
"Sekarang tujuan Tuanku mau kemana?" tanya ular berkepala tiga kepada Wong Mo Gei begitu Rajan ada api kembali ke dalam tubuhnya.
"Kami berniat menuju ruangan tempat Lee Tang Yin berada, pertapa ular," jaWong Mo Gei.
"Baiklah, Tuanku. Hamba akan mengantarkan, Tuanku ke sana. Jika Tuan mau, Tuan bisa naik ke punggung hamba, maka para dedemit yang ada di dalam Labirin Kematian ini tidak akan ada yang mengganggu tuan atau hamba yang akan berada di depan?" kata ular besar berkepala tiga alias pertapa ular itu.
"Baiklah jika engkau berkenan, silahkan engkau duluan. Kami akan mengikuti dari belakang," jawab Wong Mo Gei.
"Baik, Tuanku. Sekarang tuanku ikuti hamba," kata ular besar berkepala tiga itu. Ular besar berkepala tiga itu lalu memasuki sebuah pintu di sebelah kanan Wong Mo Gei dan kawan-kawannya, ular besar itu bergerak dengan perlahan.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Dan Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.