Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Kabut Hitam


__ADS_3

Cahaya rembulan masih cukup menerangi, walau samar-samar cahayanya. Namun masih menjadi penerang di kegelapan malam, suara binatang malam hampir tidak terdengar, suara hiruk pikuk para prajurit yang berlalu lalang membuat malam seakan ramai bagaikan sebuah pasar.


Para prajurit bantuan dari istana yang membawa bantuan pengobatan terus bekerja walau malam terus larut, para prajurit yang tewas dan gugur di medan perang belum sempat mereka kebumikan.


Tenda besar yang di jadikan tempat perawatan para prajurit yang terluka tampak penuh dan ramai, para tabib yang di kirimkan Kaisar Cong Ming tampak bekerja keras mengobati para prajurit yang terluka.


Di sebuah tenda yang cukup besar, tampak para pendekar dari tujuh sekte sedang beristirahat, luka kecil di tubuh mereka tidak menjadi perihal bagi para pendekar itu. Mereka tampak memilih tempat untuk bersemedi memulihkan tenaga.


Di depan kemah itu tampak sebuah dipan tempat pembaringan, di sana terbujur seseorang yang tampaknya cukup berpengaruh. Dia adalah Panglima Ming Woo San yang tewas tadi sore, tidak jauh dari sana tampak Tian Shan duduk pada sebuah kursi yang di siapkan para prajurit.


Zhang Sin Ming dan Shin Yuan Ma pun berada di sana, begitu pun dengan Wong Mo Gei dan ketiga temannya. Wang Man Chu pun juga ada di sana, para pendekar muda itu tampak terdiam melihat situasi yang di luar perkiraan mereka.


"Mo Gei, kau tidak istirahat, nak?" Shin Yuan Ma menghampiri sang putra.


Wong Mo Gei hanya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan ibunya tersebut, "Mo Gei, belum mengantuk, Ibu,"


"Apa yang kau pikirkan, ibu lihat kau melamun dari tadi?"


"Mo Gei, tidak menyangka saja Ibu, jika pasukan iblis begitu cepat datangnya. Tampaknya korban akan semakin banyak ibu," jawab Wong Mo Gei.


"Yah, yang kau katakan benar, anakku. Pasukan iblis memang bisa kita pukul mundur hari ini, namun yang datang hari ini baru sebagaian kecil dari pasukan sekte iblis, kemungkinan esok mereka akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar lagi,"


"Yang di katakan ibumu benar, Mo Gei. Yang datang hari ini baru pasukan iblis kelelawar, masih ada enam sekte iblis yang lain," timpal Tian Shan.


"Jadi kita harus bagaimana, Kek?" tanya Wong Mo Gei.


"Sebaiknya kita istirahat, pertempuran besar menunggu kita esok," jawab Tian Shan.


"Baik, Kek," jawab Wong Mo Gei, "Ayo, Cek Pei, Wa Hua Wa, Sin Yin. Kau juga Man Chu, " ajak Wong Mo Gei.


"Kita harus istirahat, esok mungkin akan lebih berat dari hari ini," timpal Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin hanya mengangguk kedua gadis itu berjalan ke arah sebuah tenda khusus wanita.

__ADS_1


"Mo Gei, apa kau tidak merasa lelah?" tanya Wang Man Chu sambil berjalan menyusul Cek Pei dari belakang.


"Sebagai manusia, tentu saja aku lelah, Man Chu. Tapi aku masih bisa mendapat bantuan tenaga dari kedua roh suciku," jawab Wong Mo Gei sambil menghentikan langkahnya.


"Kau sungguh beruntung mempunyai dua roh suci, Mo Gei," timpal Cek Pei lagi.


Wong Mo Gei hanya tersenyum mendengar perkataan Cek Pei tersebut.


"Beruntung atau tidaknya, kita lihat saja nanti. Kalau takdir ku gugur dalam pertempuran esok, kita tidak ada yang tahu kan," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum tipis.


"Jika penguasa roh suci raja naga api yang tewas, berarti dunia ini akan di kuasai oleh sekte iblis, Mo Gei," yang menjawab Wang Man Chu.


"Kenapa kau bicara seperti itu, Man Chu?"


"Entahlah, aku cuma merasa kau adalah manusia pilihan yang di siapkan pencifta untuk situasi yang kita hadapi saat ini, Mo Gei,"


"Itu kan menurutmu,"


"Bukan hanya aku yang berpikiran seperti itu, Mo Gei, hampir seluruh orang-orang dari tujuh sekte berpikiran seperti itu, mereka menaruh harapan besar padamu, Mo Gei,"


"Berarti sekarang mereka kecewa padaku, Cek Pei, karena begitu banyak korban hari ini," kata Wong Mo Gei seakan menyesali diri sendiri.


"Itulah pertempuran, Mo Gei. Saat di pulau larangan kau yang menjadi andalan kami, dan hasilnya begitu gemilang, kau sanggup menaklukkan para pendekar-pendekar di pulau larangan, tapi kali ini berbeda. Musuh kita adalah pasukan iblis yang berniat menghancurkan manusia, jadi wajar ada korban. Sehebat apa pun kita, kita tidak akan bisa menghadapi ribuan pasukan iblis itu sendiri, Mo Gei. Kekuatan roh suci kita juga mempunyai batasan," jawab Cek Pei menyemangati sepupunya itu.


"Terima kasih, Cek Pei. Kau memang saudara dan sahabat terbaikku,"


"Hmmm...! Kau sempat putus asa dengan kekuatan roh sucimu, tapi lihat sekarang. Kau adalah penguasa roh suci terkuat yang pernah ada," kata Cek Pei lagi.


"Ya, sudah sebaiknya kita istirahat, persiapkan diri kita untuk esok hari, jika mendengar celoteh mu terus kapan kita istirahat nya," jawab Wong Mo Gei sambil tertawa.


"Dasar, Kau," balas Cek Pei sambil ikut tertawa, Wang Man Chu pun ikut tersenyum melihat tingkah Wong Mo Gei dan Cek Pei itu.

__ADS_1


"Aku bersyukur bisa menjadi teman Wong Mo Gei, pemuda ini mempunyai hati yang begitu mulia," Wang berbisik dalam hati.


Sementara di luar tenda kemah itu kesibukan masih terus terjadi.


.


*******


Matahari seperti enggan menampakkan diri pagi ini, karena perkemahan tampak sudah cukup sepi tidak begitu ramai seperti tadi malam, walau tampak ada ratusan prajurit yang berjaga-jaga.


Embun pagi, dan kabut putih kehitaman menyelimuti kawasan itu, entah apa penyebabnya, apa karena tempat itu berdampingan dengan hutan, atau berkaitan dengan mitos masyarakat yang mengatakan kalau kabut hitam adalah kabut yang menandakan akan ada bencana yang akan menimpa.


Di kejauhan tampak ribuan prajurit berkuda sedang menuju Sekte Batu, kali ini pasukan di pimpin langsung oleh Panglima besar Kerajaan Yin dan Yang, yaitu Panglima Tio Bu Ki.


Arak-arakan prajurit tampak begitu panjang dengan persenjataan lengkap, lebih dari separuh kekuatan pasukan Kerajaan Yin dan Yang di kirimkan ke perbatasan antara hutan larangan dan Kerajaan Yin dan Yang.


Surat yang di tujukan untuk semua kerajaan tetangga pun telah di kirimkan dengan merpati pos.


Bersambung....


Jangan dukung novel ini ya teman-teman.


Dengan


Hadiah.


Rate.


Like.


Koment.

__ADS_1


Dan Votenya.


Terima kasih banyak.


__ADS_2