
"Saat ini bukan masalah nyawa kalian yang aku pikirkan, namun rakyat seluruh negeri ini dalam masalah karena kelakuan dan
keserakahan mu, Yun Lau!" kata Maharaja Cong Ming.
"Panglima, persiapkan semua pasukan kita dan kirimkan surat pemberitahuan ke seluruh negeri-negeri tetangga bahwa dunia saat ini terancam lagi karena pasukan iblis!"
perintah Maharaja Cong Ming pada panglimanya.
"Baik, Maharaja," jawab Panglima Tio Bu Ki.
"Seluruh pendekar, seluruh prajurit dan seluruh kerajaan-kerajaan kecil yang ada. Jangan ada yang tidak di beritahu agar mereka yang bisa mengungsi secepatnya,
dan agar mereka bisa mengantisipasi
bagaimana menghadapi pasukan iblis yang sedang dalam perjalanan menuju dunia manusia saat ini!" perintah Maharaja Cong Ming lagi.
"Baik. Tuanku!" jawab Panglima
Tio Bu Ki lagi.
Pangeran Yun Lau bersama pangeran Ka See
dan panglima Ming Woo San di perintahkan oleh Maharaja Cong Min pada prajurit untuk memenjarakan mereka bertiga, namun Panglima Ming Woo San meminta pada Maha Raja Cong Ming untuk pergi ke medan perang.
Panglima Ming Woo San siap mati di medan perang dan meminta agar ia di perbolehkan berada di dalam barisan pasukan terdepan pasukan kerajaan yang sedang menunggu dengan para prajurit iblis dari sekte iblis itu.
"Hamba mohon, Maharaja. Jika Maharaja belum mau membunuh hamba biarkan hamba yang terlebih dahulu mempertaruhkan nyawa menghadapi pasukan iblis itu," pinta Panglima Minggu bosan sambil bersujud.
Maharaja Cong Ming hanya terdiam Melihat kesungguhan hati Panglima Ming Woo San itu yang tampak bersujud di depannya.
"Baik. Jika itu keputusanmu, tapi aku harap kau tidak menikam kami dari belakang untuk kedua kalinya Ming Woo San. Jika sampai itu terjadi, maka aku sendiri yang akan memenggal kepala mu!" jawab Maharaja Cong Ming.
"Terima kasih banyak, Maharaja. Hamba tidak akan menyia-nyiakan kebaikan hati Maharaja lagi para Jenderal Kerajaan Yin dan Yang dan para pendekar yang mempunyai roh suci itu tentu tidak akan membiarkan aku berlaku curang lagi," ucap Panglima Ming Woo San, "Tuanku, hamba sudah sangat senang di berikan kesempatan untuk menjadi orang yang pertama menghadapi kematian melawan pasukan iblis, Sekte Iblis itu," tambahnya lagi. Ming Woo San tampak belum berubah dari sujud di depan Maharaja Cong Ming.
"Bangunlah! Ming Woo San, persiapkan dirimu. Jenderal Mu Rong, berikan dia pakaian perang dan biar dia berada di barisan paling depan!" perintah Maharaja Cong Ming.
"Baik, Tuanku," jawab Jendral Mu Rong, salah seorang jenderal yang berada di sana
__ADS_1
tiga orang prajurit langsung diperintahkan membawa dan mengawal Ming Woo San ke tempat prajurit bertukar pakaian dan setelah itu mereka langsung meninggalkan tempat itu dan meninggalkan istana Yin dan Yang dengan berkuda.
Sesampainya di sana Ming Woo San, memang langsung maju ke depan barisan para prajurit.
"Apa yang dia lakukan, apakah dia tidak di hukum?" tanya salah seorang pendekar yang berada disana pada Tian Shan.
"Seperti yang kita tahu, saat ini mereka bukan musuh kita lagi. Sekali gerakan kita, kita bisa membunuh Ming Woo San. Namun
yang akan datang menyerang kita bukanlah para prajurit manusia melainkan para iblis yang mempunyai jumlah yang begitu besar dan kekuatan di atas kita manusia," jawab Tian Shan.
"Jadi kakek apa yang terjadi dengan pangeran Yun Lau?" tanya Wong Mo Gei penasaran.
"Kakek rasa Pangeran Yun Lau dan putranya sekarang sedang berada di penjara, belum ada berita jika mereka di hukum mati. Apalagi melihat Ming Woo San sudah berada di sini dan memberanikan diri berada di barisan depan berarti Pangeran Yun Lau dan putranya masih hidup," jawab Tian Shan.
"Sungguh baik hati Maharaja Cong Ming itu kakek, dia bisa memaafkan seorang pengkhianat negara seperti Ming Woo San dan Pangeran Yun Lau," lanjut Wong Mo Gei lagi.
"Ya. Memang dari mudanya,Cong Ming terkenal mempunyai hati yang cukup baik terhadap siapapun, seingatku dulu Maharaja Cong Ming tidak pernah membeda-bedakan
Yun Lau sebagai adik satu ayahnya, dia menyayangi Pangeran Yun Lau bagai adik kandungnya sendiri, namun keserakahan lah yang membuat Yun Lau berubah. Mungkin saja perbuatan itu berhubungan dengan ibunya yang menginginkan putranya menjadi
Kaisar di Kerajaan Yin dan Yang ini," tutur Tian Shan lagi.
Panglima Ming Woo San yang tampak tidak memberikan perlawanan, jatuh terpental dari kudanya.
"Bangun Ming Woo San! Bangun! Kau harus membayar nyawa putriku!" bentak Yan Hui, kepala prajurit itu.
Panglima Ming Woo San beringsut bangun dengan perlahan, darah tampak mengalir dari sela-sela bibirnya.
"Heaaa...!"
Buak!
"Agkh.!"
Panglima Ming Woo San mengeluh perlahan ketika tendangan Yan Hui kembali menghantam dadanya, Panglima Ming Woo San tampak memang sengaja tidak memberikan perlawanan dan membiarkan kepala prajurit itu melampiaskan kemarahan dan dendamnya.
Begitu Yan Hui kembali hendak menyerang Panglima Ming Woo San, jendral Mu Rong segera melompat menghalangi.
__ADS_1
"Tahan, Yan Hui. Sabar. Aku tahu, kau marah pada Ming Woo San, tapi tidak ada gunanya kau membalas dendam. Putrimu tidak akan kembali lagi," cegah Jendral Mu Rong dengan lembut.
"Tapi Jendral, dia itu bukan manusia, tapi iblis yang berwujud manusia. Biarkan aku membunuhnya!" jawab Yan Hui dengan suara masih meninggi.
"Yan Hui, aku tau kemarahanmu, tapi Maharaja Cong Ming yang mengirim dia ke barisan depan bersama kita. Setidaknya kita hormati Kaisar kita," kata Riu Ru Long kepala Sekte Batu yang juga berada di tempat itu dan berusaha menyabarkan kemarahan Yan Hui.
Sedangkan Panglima Ming Woo San tampak masih terbaring di tanah dengan mulut mengalir darah segar, tapi walau terluka tampak laki-laki itu masih dalam keadaan biasa saja.
"Bangun lah, Ming Woo San," Jendral Mu Rong membantu Panglima Ming Woo San.
"Terima kasih," ucap Panglima Ming Woo San.
Jendral Mu Rong hanya mengangguk dan berkata, "Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil. Aku bisa mengatasinya," jawab Panglima Ming Woo San sambil memegangi dadanya yang tadi terhantam tendangan Yan Hui cukup keras.
.
.
.
Bersambung....
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
Koment.
Dan Votenya.
__ADS_1
Terima kasih banyak.