
Jika tidak berlatih bersama Cek Pei daWa Hua Wa, Wong Mo Gei memilih tetap di rumah. Hari-harinya banyak dihabiskan membaca kitab-dan buku di perpustakaan pribadi kedua orang tuanya. Shin Yuan Ma terkadang menemani Wong Mo Gei di perpustakaan sambil menghibur sang putra tunggalnya tersebut.
Pada suatu hari tanpa sengaja Wong Mo Gei menemukan sebuah buku yang menceritakan tentang sebilah pedang yang sangat sakti. Pedang itu telah terkubur lebih dari lima ratus tahun di sebuah bangunan tua, tidak jauh dari Desa Tirai Bambu. Tempat itu bernama Kuburan Pedang.
Banyak sudah para pemuda maupun pendekar yang mencoba mencari dan memiliki pedang sakti tersebut. Namun sampai saat ini belum ada seorang pun yang berhasil memiliki pedang yang bernama pedang naga kayangan itu.
Wong Mo Gei yang penasaran dengan cerita di buku yang ia baca itu, akhirnya memutuskan bertanya pada ibunya, Shin Yuan Ma, "Ibu Mo Gei menemukan buku ini di perpustakaan, apakah pedang yang di ceritakan buku ini memang ada Ibu?" tanya Wong Mo Gei.
"Ya, buku itu memang menceritakan pedang naga kayangan. Pedang itu memang ada, namun sampai saat ini belum ada seorang pendekar pun yang berhasil memilikinya. Berhasil pun mereka menemukan pedang naga kayangan, namun para pendekar itu tidak berhasil mencabut pedang yang tertancap di batu besar di tengah kuburan pedang," jawab Shin Yuan Ma menjelaskan pada Wong Mo Gei.
"Berapa banyak pedang di sana, Ibu?" tanya Wong Mo Gei lagi.
"Jika jumlah yang kau tanyakan, ibu juga tidak tau, karna disana begitu banyak pedang yang tersimpan," tutur Shin Yuan Ma sambil tersenyum.
"Apakah orang dengan roh suci yang kuat seperti ayah tidak mampu mencabut pedang naga kayangan itu Ibu?" tanya Wong Mo Gei lagi, ia tampak begitu penasaran tentang pedang naga kayangan itu.
"Apa kau menginginkan pedang itu Anakku?" tanya Shin Yuan Ma, "Ibu lihat kau begitu penasaran dengan pedang naga kayangan," tambahnya lagi.
"Ibu, bolehkah Mo Gei pergi ke Kuburan Pedang itu?" tanya Wong Mo Gei meminta izin,"Mo Gei ingin melihat langsung pedang naga kayangan itu Ibu," tambah Wong Mo Gei lagi tampak memelas merayu ibunya.
"Nanti ibu tanyakan dengan ayahmu, jika ayahmu mengizinkan, ibu juga tidak keberatan," jawab Shin Yuan Ma sambil membelai rambut putra tunggalnya tersebut.
"Terima kasih, Bu," ucap Wong Mo Gei sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau belum makan dari pagi, makan dulu sana," perintah Shin Yuan Ma.
"Baik, Bu," jawab Wong Mo Gei seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
****
Suasana siang begitu terik, matahari bersinar terang di atas langit. Suasana yang terasa sunyi menyelimuti kediaman keluarga Zhang Shin Ming tersebut. Siang itu Zhang Shin Ming pulang dari kebunnya, Shin Yuan Ma menceritakan keinginan Wong Mo Gei pada suaminya.
"Jika itu bisa menghibur Mo Gei, izinkan saja dia pergi istriku, Aku tidak ingin putra kita itu terlalu larut dengan kekecewaannya, Aku lihat Mo Gei setelah gagal memiliki roh suci yang kuat, dia jarang keluar rumah selama setahun ini," jawab Zhang Shin Ming sambil menyantap makanannya.
"Ya, kau benar suamiku, jika tidak Cek Pei dan Wa Hua Wa yang menjemputnya, Wong Mo Gei boleh di bilang tidak pernah keluar rumah, dia lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan dan di kamarnya," tutur Shin Yuan Ma.
"Rupanya dia berhasil menemukan buku tentang pedang naga kayangan itu," kata Zhang Shin Ming sambil tersenyum, "Mo Gei dimana?" tanya Zhang Shin Min.
"Mungkin beristirahat di kamarnya, setelah makan tadi dia tidak muncul di perpustakaan. Biasanya jika mau keluar dia minta izin dulu," jawab Shin Yuan Ma sambil menuangkan air putih ke dalam gelas keramik di depan suaminya. Kehidupan orang-orang di Desa Tirai Bambu memang sudah cukup maju, gelas dan piring yang mereka gunakan semuanya keramik hasil kerajinan tangan para penduduk.
Tok! Tok! Tok!
"Boleh ayah masuk, Mo Gei?" kata Zhang Shin Ming setelah mengetuk pintu kamar Wong Mo Gei. Mendengar suara ayahnya Wong Mo Gei bergegas bangkit dan segera membuka pintu kamarnya.
"Silahkan masuk ayah, ada apa? Kenapa tidak memanggil Mo Gei keluar?" tanya Wong Mo Gei sambil mempersilahkan Zhang Shin Ming masuk ke kamarnya.
"Ayah dengar dari ibumu, kau ingin pergi ke Kuburan Pedang?" tanya Zhang Shin Ming sambil duduk di atas tempat tidur milik Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Maafkan Mo Gei Ayah, jika Ayah mengizinkan?" ucap Wong Mo Gei dengan begitu sopan.
"Kau memang putra ayah yang sangat baik, kau memilih tidak banyak keluar rumah, karna tidak ingin dapat masalah dengan para pemuda remaja yang merendahkanmu, kan?" kata Zhang Shin Ming, "Jika itu bisa menghiburmu, tidak apa-apa, pergilah. Tapi ajaklah Cek Pei dan Wa Hua Wa, ayah takut kalau anak-anak yang mempunyai roh suci yang lebih kuat darimu, akan menghalangi dan mengganggumu," tambah Zhang Shan lagi.
"Terima kasih, Ayah..," ucap Wong Mo Gei kesenangan, tidak lama kemudian terdengar suara Shin Yuan Ma memanggil Wong Mo Gei dan Zhang Shin Ming.
"Suamiku, Mo Gei, ayo kesini, ibu buat makanan kecil, kita makan bersama!" seru Shin Yuan Ma dari arah ruang makan.
"Baik, Ibu!" sahut Wong Mo Gei dan Zhang Shin Ming berbarengan.
*******
Suasana pagi begitu sejuk menyelimuti Desa Tirai Bambu. Udara dingin menyelimuti desa itu. Matahari mulai menampakkan wajahnya dipupuk timur. Pagi-pagi sekali Cek Pei dan Wa Hua Wa, tampak telah berlari kearah rumah Wong Mo Gei.
"Mo Gei, bangun...! Kita latihan..!" seru Cek Pei dari depan pagar rumah Wong Mo Gei. Cek Pei berniat masuk kedalam rumah untuk membangunkan Wong Mo Gei, karna ia tau sekarang Wong Mo Gei sering kesiangan karena sibuk membaca buku hingga sering telat tidur. Baru saja Cek Pei hendak mendorong pintu rumah Zhang Shin Ming itu secara perlahan, tapi tiba-tiba.
"Haaa...!"
"Ehhh...!" Cek Pei terkejut bukan kepalang, ia langsung melompat mundur, "Kurang ajar kau, Mo Gei! Kau sengaja membuatku kaget," kata Cek Pei sambil memegang dadanya.
"Hahaha...! Kaget ya? Maaf-maaf!" ucap Wong sambil tertawa, Cek Pei hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah lama ia tidak di usili oleh sepupunya tersebut. Hari ini Cek Pei melihat Mo Gei yang selama ini hilang kini kembali. Wa Hua Wa pun ikut tertawa melihat Cek Pei berhasil di kejutkan oleh Wong Mo Gei.
.
__ADS_1
.
Bersambung..