
Singa Merah mengeluh tertahan begitu kepalan tinju kirinya beradu dengan siku kanan Wong Mo Gei. Laki-laki berwajah seram dengan pakaian dan rambut berwarna merah itu berusaha menarik kepalan tangan kanannya yang di tangkap Wong Mo Gei itu.
"Hukh!
Singa Merah berusaha menarik kepalan tinjunya yang ada di dalam genggaman telapak tangan Wong Mo Gei, namun semakin kuat Singa Merah berusaha menarik Wong Mo Gei semakin memperkuat genggaman tangannya.
"Huh!"
Singa Merah berusaha keras mencoba menarik kepalan tinjunya, namun tidak kunjung berhasil, wajahnya mulai memerah karena terlalu memaksakan tenaga dalamnya. Lama kelamaan tenaga Singa Merah semakin terkuras. Keringat mulai menetes dari keningnya.
"Ah..!"
Singa Merah mengeluh, kehabisan tenaga. Perlahan Singa Merah jatuh berlutut di depan Wong Mo Gei.
"Ampun, Tuan. Saya menyerah, baru kali ini saya bertemu orang muda yang begitu kuat," keluh Singa Merah, tangan kanannya masih dalam genggaman telapak tangan Wong Mo Gei.
Wong Mo Gei perlahan melepaskan genggaman tangannya pada kepalan tinju Singa Merah itu.
"Izinkan saya mendampingi perjalanan, Tuanku. Saya akan menjadi bawahan, Tuanku," kata Singa Merah. Sementara itu Jenggot Merah tampak terdiam, wajahnya menunduk menahan malu.
"Bagaimana? Jenggot Api? Apa kau masih ingin melanjutkan?" tanya Wu Tong Qian penuh kemenangan.
"Kau membelot, Wu Tong Qian," jawab Jenggot Api.
"Aku tidak membelot Wu Tong Qian, aku pun telah di kalahkan oleh pendekar-pendekar muda ini," kata Wu Tong Qian.
"Bagaimana seorang yang mempunyai kekuatan roh suci harimau taring panjang, di taklukan oleh seorang anak muda?"
"Mereka mempunyai roh suci yang jauh di atasku, Jenggot Api," jawab Wu Tong Qian. Jenggot panas hanya terdiam lalu berkata, " Jadi kalian tetap ingin ke istana bawah tanah?"
"Ya, mereka ingin mencari tau tentang penculikan tujuh gadis perawan di wilayah Kerajaan Yin dan Yang," jawab Wu Tong Qian.
"Kau tahu resiko menantang istana bawah tanah Wu Tong Qian, sebaiknya kau tetap di sini. Aku tidak menjamin keselamatanmu. Masalah mereka mau kesana aku akan mengantar sampai ke tangga pintu menuju istana bawah tanah," kata Jenggot panas.
"Ya, Tuan Wu Tong, sebaiknya, Tuan tetap di sini. Terima kasih telah mengantar kami sejauh ini," ucap Wong Mo Gei, "Ayo, Tuan Jenggot Api, antarkan kami menuju istana bawah tanah," pinta Wong Mo Gei pada Jenggot Api.
"Tuan, Jenggot Api. Sebaiknya, Tuan tetap di sini, biar saya yang akan mendampingi pendekar muda ini, ke istana bawah tanah," kata Singa Merah.
__ADS_1
"Kau yakin mau mendampingi mereka, Singa Merah?" tanya Jenggot Api meyakinkan.
"Ya, saya telah di kalahkan secara telak. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, saya akan menjadi bawahan orang yang mengalahkan saya secara telak. Pendekar muda inilah orangnya," jawab Singa Merah yakin.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu tinggal," kata Jenggot Api lagi.
"Ayo, Tuan, saya akan mengantar, Tuan ke istana bawah tanah," kata Singa Merah seraya berjalan meninggalkan ruangan itu. Puluhan orang-orang yang ada di ruangan itu segera menyibak memberi jalan pada Wong Mo Gei dan ketiga temannya.
Sebuah ruangan berpintu di masuki oleh Singa Merah, begitu pintu itu di buka, sebuah lorong kecil bertangga terdapat di dalam pintu itu.
"Ayo, Tuan. Lewat sini," kata Singa Merah. Wong Mo Gei hanya mengangguk, mereka pun memasuki pintu itu sebuah lorong yang cukup panjang terpampang di depan mata. Lorong itu tampak di terangi oleh obor yang berjejer di dinding dengan jarak tertentu.
Lorong kecil itu tampak memutar dan menurun, tapi di dalam lorong itu terdapat tangga batu yang begitu bagus, tersusun rapi dari batu.
Cukup lama mereka berjalan menyusuri tangga itu. tangga itu terus berputar ke arah kiri mereka.
"Seberapa jauh lagi, Mo Gei? Ku rasa kita sudah berjalan cukup jauh. Tapi belum juga kita sampai," tanya Wa Hua Wa.
"Maaf, Tuan-tuan, lorong ini menuju bawah bukit, jadi cukup panjang," yang menjawab adalah Singa Merah dari depan.
"Entahlah, Tuan. mungkin jika kita ukur dengan tombak maka tidak kurang dari dua ribu batang tombak, Tuan," jawab Singa Merah sambil terus berjalan.
"Kau sudah pernah ke sana, Singa Merah?" tanya Cek Pei lagi.
"Sering, Tuan. Saya mengantar orang yang lolos dari penyeleksian di Pagoda Kematian," jawab Singa Merah.
"Bukankah belum ada yang mengalahkanmu, Singa Merah?"
"Peraturannya, siapa yang bisa bertahan dari lima jurus bertarung dengan Si Kembar dari Neraka, akan bisa lolos ke istana bawah tanah, Tuan," jawab Singa Merah.
"Berarti kita aman, selagi bersamamu, Singa Merah?" Cek Pei berusaha menepis kejenuhan mentusuri lorong yang begitu panjang itu, jadi ia terus bertanya pada Singa Merah.
"Tidak juga, Tuan. Di istana bawah tanah, mempunyai beberapa tingkat para satrianya, mereka di latih dan di beri kekuatan oleh tuan Lee Tang Yin," jawab Singa Merah, laki-laki berpenampilan serba merah itu tampak tidak keberatan menjawab semua pertanyaan Cek Pei.
"Sekuat itukah? Lee Tang Yin itu, Singa Merah?"
"Dia penguasa Pulau Larangan ini, Tuan. Batu kekuatan hasil pencarian para perompak di setorkan padanya,"
__ADS_1
"Batu kekuatan? Maksudnya?"
Batu kekuatan adalah batu yang di sebut batu sihir, sebuah batu yang bisa menambah kekuatan seseorang, dengan batu itu setiap pemenang pada pertandingan bulanan. Mereka akan mendapat hadiah batu kekuatan, di setiap pertandingan di ruang berikutnya, siapa yang kalah berarti harus menyerahkan batu kekuatan pada sang pemenang, siapa yang sanggup bertahan hingga akhir kompetisi akan memiliki banyak batu kekuatan yang bisa dia gunakan untuk menambah kekuatannya," jelas Singa Merah.
"Tampaknya kita masuk ke sarang harimau," desah Wa Hua Wa mendengar penjelasan Singa Merah tersebut.
"Kita bukan harimau, kita naga, Wa Hua Wa. Jadi bukan masalah masuk ke kandang harimau," kata Cek Pei.
"Kau yakin kita bisa kembali dari Pulau Larangan ini, Cek Pei?" tanya Sin Yin agak ragu.
Selama raja naga bersama kita aku yakin," jawab Cek Pei sambil tersenyum.
"Kita Sampai, Tuanku," kata Singa Merah begitu di depan sebuah pintu yang tertutup rapat. Pintu itu terbuat dari besi baja yang tampak begitu kuat. Wa Hua Wa dan Sin Yin tampak saling pandang satu sama lainnya.
Wong Mo Gei dan Cek Pei tampak begitu tenang, begitu pun dengan Singa Merah. Walau sebenarnya ada keraguan di dalam hati laki-laki berpenampilan serba merah itu.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.
__ADS_1