
Suasana di dalam alun-alun istana Yin dan Yang itu tampak begitu ramai. Namun tidak ada suara selain dari suara anak-anak yang bermain dan tidak mempedulikan pertarungan.
Wong Mo Gei tampak melintangkan pedang naga kayangan di lengan kanannya. Cahaya merah semburat masih tampak menyelubungi batang pedang naga kayangan.
"Heaaah...!"
Walau hatinya ragu, Pok Cai tetap melakukan serangan. Ayunan dan kibasan beserta tusukan trisula emasnya mencerca cukup cepat ke arah Wong Mo Gei.
Trang! Trang! Trang!
Berkali-kali kedua senjata itu berbenturan di udara, bunga api memercik dari pergeseran kedua mata senjata itu. Sejauh ini Wong Mo Gei masih menangkis dan menghindari serangan trisula emas di tangan Pok Cai itu. Wong Mo Gei memang sengaja sejauh ini tidak memberikan serangan balasan, Wong Mo Gei masih menggunakan jurus-jurus dasar ilmu 'Pedang Naga Kayangan'.
"Hup!" juri penengah yang berada di pinggir gelanggang melompat keluar menjauh. Juri penengah itu tampak ragu dan takut jika ia akan terkena imbas pertarungan dua anak muda dengan senjata yang legendaris tersebut.
"Hiaaa...!" Pok Cai berteriak nyaring sambil mengibaskan trisula emas di tangannya. Angin panas menderu ke arah Wong Mo Gei. Wong Mo Gei cepat melintangkan pedang naga kayangan di depan dadanya. Sebuah cahaya merah membentuk perisai bersegi empat tampak melindunginya.
Dess!
Setelah menangkis serangan Pok Cai, Wong Mo Gei mengibaskan pedang naga kayangan kearah Pok Cai, cahaya merah membentuk mata pedang menderu cepat ke arah Pok Cai. Pok Cai terkesiap dan berusaha melompat menghindar. Namun terlambat cahaya itu telah mengenai tubuhnya.
Dess..!
"Aaakh...!" Pok Cai langsung terpental keluar dari gelanggang itu setelah menabrak pembatas gelanggang itu hingga patah. Pok Cai cepat melompat bangun tapi ia sudah berada di luar gelanggang. Perlahan Pok Cai menyeka darah di bibirnya, pertanda Pok Cai mengalami luka dalam walau tidak parah. Wong Mo Gei tadi hanya mengerahkan sekitar lima persen dari tenaga dalam yang ia miliki. Namun respon pedang naga kayangan begitu besar sehingga tenaga dalam Wong Mo Gei yang mengalir di ubahnya menjadi sekitar dua puluh persen.
Juri penengah cepat melesat ke atas panggung kompetisi itu, "Karena Pok Cai telah terdesak hingga keluar gelanggang, maka pertandingan ini di menangkan oleh Wong Mo Gei!" kata juri penengah dengan lantang. Wong Mo Gei menyarungkan kembali pedang naga kayangan kedalam warangka yang ada di balik punggungnya itu.
"Kau pandai menyimpan rahasia Wong Mo Gei, selamat kau mengalahkan juara kedua kompetisi dua tahun berturut-turut," kata juri penengah tersebut memberi selamat pada Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Paman," ucap Wong Mo Gei sambil memberi hormat. Shin Yuan Ma dan Zhan Shin Ming melesat keatas gelanggang menemui putra mereka tersebut.
"Mo Gei..!" seru Shin Yuan Ma dari samping.
"Ibu..!" sahut Wong Mo Gei sambil berlari kearah ibu dan ayahnya. Wong Mo Gei langsung memeluk ibunya, "Mo Gei menang bu," tambahnya lagi.
"Tidak mungkin pendekar pedang naga kayangan kalah anakku," jawab Shin Yuan Ma sambil tersenyum senang.
"Pendekar Naga Kayangan, gelar yang cocok untuk anak kita sayang," timpal Zhang Shin Ming dari samping sambil menepuk pelan bahu Wong Mo Gei.
"Ayah..," sapa Wong Mo Gei sambil melepas pelukan ibunya dan memeluk ayahnya.
"Tampaknya tahun ini pedang harimau suci di mendapatkan tandingannya," kata Shin Yuan Ma sambil memeluk Wong Mo Gei yang baru saja melepaskan pelukan dari ayahnya, "Sejak kapan kau memiliki pedang sakti itu anakku?" tanya Shin Yuan Ma.
"Maafkan Mo Gei ayah, ibu. Mo Gei mendapatkan pedang naga kayangan saat pergi ke Kuburan Pedang dua tahun yang lalu," jawab Wong Mo Gei, "Mo Gei masih punya satu kejutan lagi untuk ayah ibu, dan juga semuanya," tambah Wong Mo Gei.
"Bermain rahasia ya, sama ibu dan ayah," seloroh Zhang Shin Ming sambil tertawa.
"Tentu saja anakku," jawab Shin Yuan Ma sambil tersenyum.
"Mo Gei, kau baru mengalahkanku adu kedikjayaan, mari kita selesaikan pertandingan kita. Kita adu kekuatan roh suci milik kita, roh suci siapa yang paling kuat!" teriak Pok Cai sambil melompat ke atas gelanggang.
"Pok Cai, apa tidak sebaiknya kau beristirahat dulu, memulihkan tenaga," cegah juri penengah itu. Namun Pok Cai yang sudah tidak mempedulikan lagi keadaannya sendiri.
"Jangan halangi aku Paman, biarkan aku menyelesaikan pertandingan ini," kata Pok Cai tanpa bergeming menatap kearah Wong Mo Gei. Pok Cai ingin segera membayar rasa malunya dengan memenangkan pertandingan adu kekuatan roh suci yang mereka miliki. Pok Cai merasa yakin ia akan menang, karena ia mengetahui bahwa roh suci milik Wong Mo Gei adalah seekor kelinci.
"Bagaimana Mo Gei? Apa kau siap melanjutkan pertandingan?" tanya juri penengah itu.
__ADS_1
"Siap, Paman," jawab Wong Mo Gei sambi tersenyum. Tiba-tiba Tian Shin Lau melesat ke atas gelanggang itu, "Kau istirahatlah dulu Ming Te, biar aku yang akan jadi juri mereka," kata Tian Shin Lau.
"Baiklah.. Hati-hati!" jawab Ming Te setelah itu ia melesat ke arah kerumunan para penonton dan berjalan kearah tempat para juri yang lain duduk.
Wong Mo Gei jadi terdiam melihat yang maju sebagai juri penengah atau wasit itu adalah pamannya sendiri, ayah Cek Pei.
"Kau siap anakku?" tanya Shin Yuan Ma, tampak agak ragu melepas putranya untuk bertanding kekuatan roh suci.
"Tentu saja Mo Gei siap ibu, jangan cemaskan Mo Gei. Mo Gei tidak akan apa-apa!" ucap Wong Mo Gei menenangkan kecemasan ibunya.
"Berhati-hatilah, beruang hitam terkenal kedatangannya anakku," nasehat Shin Yuan Ma pada Wong Mo Gei.
"Baik ibu," jawab Wong Mo Gei. Shin Yuan Ma dan Zhang Shin Ming memegang pundak Wong Mo Gei sebelum berjalan turun meninggalkan gelanggang kompetisi itu. Mereka berdua kembali ke tempat duduk yang tadi mereka tempati.
"Bersiaplah..!" perintah Tian Shin Lau sambil berdiri di tengah gelanggang. Sedangkan Wong Mo Gei berdiri di ujung sebelah kanan Tian Shin Lau dan Pok Cai berdiri di sebelah kiri Tian Shin Lau.
Wong Mo Gei menunduk sambil mengangkat tinju kanan di depan wajahnya. Sedang kan telapak tangan kirinya menggenggam kepalan tinju kanan.
Setelah memberi hormat, Pok Cai tampak merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, cahaya putih kehitaman menyelubungi kedua tangan Pok Cai itu, Setelah itu Pok Cai perlahan merenggangkan kedua telapak tangannya. Perlahan cahaya putih kehitaman itu berkumpul di tengah dan membentuk bulatan sebesar kepala.
Cahaya itu makin membesar kemudian perlahan mengambang keudara dan semakin membesar hingga melebihi besarnya kepala gajah. Tidak lama kemudian di dalam lingkaran cahaya itu muncul seekor beruang hitam berukuran raksasa.
"Hauuuummmm....!!"
Auman beruang besar berwarna hitam itu membuat tempat itu terasa bergetar. Beruang besar itu melompat turun dan berdiri di samping Pok Cai.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa beri dukungan pada novel ini ya teman-teman. Novel ini author masukkan ke kontes.