
Trang!
"Heh..!"
Seketika itu para Perompak anak buah si Mata Satu begitu terkejut lesatan gelas keramik yang melayang di udara begitu cepat itu membuat pedang di tangannya lepas tanpa terasa, yang ia rasakan sekarang adalah tangannya terasa nyeri dan kesemutan.
Para penduduk yang memperhatikan tampak ternganga melihat gelas keramik itu kembali melayang, berputar dan dengan begitu lembut turun ke bawah. Air yang ada di gelas keramik itu tidak tumpah sedikit pun.
"Siapa yang berani mencampuri urusan Perompak Pulau Larangan. Hah!"
Perompak Mata Satu mengembor marah, matanya menatap ke sekeliling dan berhenti begitu melihat cangkir keramik itu kembali mendarat di atas meja di depan Wong Mo Gei dan kawan-kawannya.
"Kau....!" suara Perompak Mata Satu seakan tersendat, begitu melihat Wong Mo Gei minum dari gelas keramik yang telah di lemparkan untuk menahan laju pedang bengkok anak buahnya tadi.
"Ya, aku..., aku yang menggagalkan pedang anak buahmu menebas pemuda yang tidak berdaya itu," ujar Wong Mo Gei seraya bangkit dari duduknya. Cek Pei dan Wa Hua Wa juga Sin Yin hanya diam melihat ke arah Perompak Mata Satu bersama sekitar dua puluh orang anak buahnya.
Cek Pei hanya diam, tapi tangan kirinya telah menggenggam pedangnya, yang terbalut sebuah kain berwarna merah. Begitu juga Sin Yin dan Wa Hua Wa.
"Ha ha ha....! Rupanya ada pelancong yang ingin mengantarkan nyawanya. Kau belum tau siapa si Mata Satu, anak muda!" geram Si Mata Satu.
Wus!
Tiba-tiba Wong Mo Gei sudah berdiri di depan Si Mata Satu dan anak buahnya. Jarak Wong Mo Gei dengan para perompak itu kini tinggal sekitar dua tombak lagi.
"Sebaiknya kau serahkan harta yang kau punya, atau kau akan jadi santapan ikan hiu di dasar lautan!" ancam Si Mata Satu.
"Cobalah... Jika kalian memang mampu!" tantang Wong Mo Gei dengan sebuah senyum tipis menyungging.
"Tangkap dia, anak-anak!"
Si Mata Satu langsung melambaikan tangannya ke depan. Sekitar lima orang anak buahnya yang memiliki tubuh kekar langsung melompat mengepung Wong Mo Gei. Mereka berencana menangkap putra Zhang Shin Ming itu.
Buak! Buak!
Duak! Bek!
Aaakh....!!"
Begitu mereka berlima sadar, mereka sudah berada di tanah sambil memegangi bagian tubuh yang di hajar Wong Mo Gei dengan begitu cepat. Anak buah si Mata Satu yang lain tampak ternganga, tidak percaya.
"Kapan dia bergerak, aku tidak melihat pemuda itu bergerak," kata salah seorang penduduk yang melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Iya, tiba-tiba para perompak itu sudah tergeletak begitu saja," jawab penduduk yang lain.
"Bajingan....! Habisi dia...!" teriak si Mata Satu dengan wajah memerah menahan amarah. Belum pernah ia melihat anak buahnya tidak bisa berbuat apa-apa seperti ini sebelumnya.
"Heaaa....!"
"Yeaah...!"
Sekitar tujuh orang anak buah si Mata Satu lansung menghunus pedang bengkok dari balik pinggang mereka, tanpa ampun lagi mereka segera mengayunkan pedang mereka ke arah Wong Mo Gei dari segala arah. Kini Wong Mo Gei benar-benar sudah terkurung pedang para perompak itu dari segala arah.
"Hup!"
Duak! Duak!
Buak! Duak!
"Aaakh...!"
Empat orang yang paling depan menyerang, tiba-tiba terjungkal ke belakang dengan pedang di tangan mereka terlepas dan jatuh ke tanah. Belum lagi sisanya bisa berbuat apa, Wong Mo Gei sudah bergerak begitu cepat sehingga para perompak itu tidak mampu melihat gerakannya.
Tiga orang perompak itu lansung terpental ke tanah sekitar tiga tombak jauhnya. Dalam sekejap mata tujuh orang perompak itu sudah menggeliat kesakitan di tanah.
"Kurang ajar! Heaaa...!"
Tap!
"Heh...!"
Si Mata Satu terkejut bukan main, begitu menyadari pukulannya yang ia rasakan cukup cepat. Kini dengan begitu mudah di tangkap pemuda di depannya itu. Wong Mo Gei meremas sedikit pegangan tangannya pada kepalan tinju Si Mata Satu.
"Agkh..!"
Si Mata Satu meringis kesakitan sambil berusaha menarik kepalan tinjunya dari genggaman tangan Wong Mo Gei. Namun usaha laki-laki berbaju hitam dengan penutup mata di mata sebelah kiri itu sia-sia, wajahnya sampai memerah menahan sakit dan karena mengerahkan tenaga.
"Siapa kau sebenarnya?"
Terdengar bergetar suara Perompak bermata satu itu.
"Aku, kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi yang perlu kau tahu aku adalah orang yang akan menghentikan sepak terjang para penjahat seperti kau ini," jawab Wong Mo Gei dengan nada suara datar, tapi penuh dengan ancaman dan terdengar dingin mematikan.
Wong Mo Gei melepaskan cengramannya pada kepalan tinju Si Mata Satu dan mendorongnya hingga jatuh terduduk. Si Mata Satu segera bangkit berdiri.
__ADS_1
"Kau boleh punya tenaga yang kuat bajingan, tapi kau akan mati di ujung pedangku ini," kata si Mata Satu sambil mengacungkan pedangnya ke arah Wong Mo Gei.
"Kau memang manusia tidak tahu diri, sudah di ampuni masih berniat menghabisi orang. Anjing tetaplah anjing!"
Wong Mo Gei tampak mendengus melihat Si Mata Satu masih berniat bertarung dengannya, padahal niatnya mempecundangi si Mata Satu tadi berharap perompak itu bisa sadar.
"Kau memang harus di enyahkan dari dunia ini," balas Wong Mo Gei dengan tatapan dingin ke arah si Mata Satu yang bersiap menyerangnya. Si Mata Satu menunjukkan kebolehannya bermain pedang di depan Wong Mo Gei, dengan maksud menggertak pemuda berkekuatan roh suci dua itu.
Jurus-jurus pedang yang di mainkan oleh si Mata Satu cukup cepat bagi seorang pendekar biasa, tapi bagi seorang Wong Mo Gei yang telah mempunyai mata bak mata naga yang bisa melihat gerakan secepat kilat sekali pun. Sehingga pemuda itu dapat melihat seberapa cepat gerakan pedang di tangan si Mata Satu itu.
"Tuanku, habisi saja manusia seperti dia, hanya menjadi sampah di tengah masyarakat," kata raja naga seraya membuka matanya, "Atau perlu hamba yang memberi dia pelajaran, Tuanku, atau perlu hamba jadikan dia daging panggang saja,"
"Tidak raja naga, aku perlu dia hidup-hidup, karena aku perlu dia untuk mencapai pulau larangan dengan aman," jawab Wong Mo Gei membatin.
"Ho ho ho...! Aku tidak salah memilih Tuan sebagai abdiku raja naga, Tuan Wong Mo Gei adalah seorang pemuda yang cerdik," timpal kelinci bulan sambil menggeliat duduk.
"Eh..., kenapa kalian yang sibuk, istirahat sana, aku mungkin akan perlu bantuan kalian dalam waktu dekat, ku dengar pulau larangan di penuhi tokoh-tokoh sakti yang bersembunyi di sana," kata Wong Mo Gei tanpa di dengar orang lain.
"Bersiaplah... Bajingan! Makan pedangku! Heaaa...!"
Si Mata Satu melesat ke arah Wong Mo Gei dengan pedang menusuk dan menikam, begitu cepat ke arah titik mematikan di tubuh pemuda itu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Like
Hadiah
Koment
Favorit
Dan Votenya.
__ADS_1
Terima kasih banyak.