
Angin semilir bertiup pelan di pagi ini. Matahari mulai naik di ufuk timur. Sebuah kapal perompak baru mulai meninggalkan Desa Nelayan yang baru mereka sandari.
Wong Mo Gei tampak berdiri di geladak kapal bersama Cek Pei. Pemuda itu menikmati pemandangan laut yang belum pernah ia lihat dalam hidupnya, Walau begitu Wong Mo Gei bisa berenang, karena saat kecil ia sering mandi di danau yang ada di bawah bukit bulan sabit.
"Apa yang kau pikirkan, Mo Gei?"
"Tidak ada, aku hanya menikmati pemandangan ini, Cek Pei. Baru pertama kalinya kita bertemu luasnya lautan, Walau pun aku sempat berpikir bahaya yang akan kita hadang dalam perjalanan ini," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Aku yakin, perjalanan ini akan cukup sulit bagi kita yang belum punya banyak pengalaman di dunia persilatan, tapi dengan kekuatan roh suci yang kita miliki. Aku yakin kita bisa menyelesaikan tugas yang di berikan oleh kakek Tian Shan pada kita ini," kata Cek Pei sambil duduk di atas anjungan geladak kapal yang cukup besar itu.
Ombak yang menerpa kapal cukup kecil sehingga kapal mereka melaju dengan begitu tenang. Wa Hua Wa dan Sin Yin menghampiri dua teman seperjalanan mereka itu.
Jelang siang, mereka sudah cukup jauh meninggalkan pantai. Para perompak tampak sibuk mengurusi peralatan kapal, seperti tali layar dan kemudi.
"Tuan, dari tadi kalian berdiri di geladak, apa kalian tidak kepanasan?" tanya seorang perompak yang baru selesai menaikkan layar kapal.
"Tidak apa-apa, kami ingin menikmati indahnya lautan," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Jika Tuan-tuan ingin istirahat, kamar si Mata Satu sudah kami bersihkan. Kalian bisa beristirahat di sana," kata perompak itu.
Kapal yang mereka naiki melaju perlahan menyusuri lautan yang begitu luas, bagai tanpa batas itu.
Sehari semalam mereka di perjalanan, para perompak itu tampak senang dengan sikap Wong Mo Gei bersama ketiga temannya. Mereka tidak pernah di bentak apalagi di pukuli seperti saat bersama si Mata Satu.
Begitu matahari terbit sebuah kapal dengan bendera bergambar tengkorak merah, tiba-tiba merapat dan menempel di kapal yang mereka naiki. Para perompak tampak agak ketakutan, karena mereka tau siapa yang merapat ke kapal mereka.
Kapal itu adalah kapal Perompak Tengkorak Merah yang terkenal di lautan ini. Pimpinan Perompak Tengkorak Merah melompat ke kapal yang di tumpangi Wong Mo Gei.
"Si Mata Satu! Keluar kau, apa kau tidak mau menyambut sahabatmu ini datang!" teriak pimpinan Perompak Tengkorak Merah dengan cukup lantang, seorang perompak langsung datang menemui Zio Jin, pimpinan Perompak Tengkorak Merah itu.
"Maaf tuan, si Mata Satu sudah tidak ada di kapal ini lagi," jawab salah seorang anak buah kepercayaan Si Mata Satu.
"Kau Long Yin, anak buah kepercayaan Lee Tong, bukan? Di mana Lee Tong?" tanya Zio Jin menyebut nama asli si Mata Satu.
"Tuan Lee Tong sudah tewas bertarung dengan pimpinan kami yang baru," jawab Long Yin.
"Apa? Siapa perompak yang berani membunuh adik Lee Tang Yin?" bentak Zio Jin seakan tidak percaya penuturan Long Yin.
__ADS_1
"Seorang pendekar muda dari negeri delapan mata angin," jawab Long Yin meyakinkan.
"Di mana pendekar muda itu?" tanya Zio Jin, "Aku yang akan membunuhnya, Lee Tang Yin pasti akan senang aku membunuh, pembunuh adiknya," kata Zio Jin setengah berbisik.
"Seseorang cepat bangunkan tuan Wong Mo Gei dan tuan Cek Pei," perintah Long Yin pada dua temannya yang tampak terdiam. Salah seorang dari mereka mengangguk dan langsung berlari ke dalam kapal.
"Sejak kapan kapal si Mata Satu bersih begini? Kapal ini tidak mirip kapal perompak lagi," gumam Zio Jin seperti berbicara pada dirinya sendiri.
"Tuan mencari kami?"
Tiba-tiba Wong Mo Gei dan Cek Pei sudah berdiri tidak jauh dari Zio Jin. Laki-laki itu tampak cukup terkejut karena tidak menyadari kedatangan Wong Mo Gei dan Cek Pei.
"Ha ha ha...! Dasar lemah kau Lee Tong, bertarung dengan anak-anak saja kau sudah tewas. Ha ha ha...!" Zio Jin berusaha menutupi keterkejutannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, kisanak? tanya Wong Mo Gei lagi.
Sekitar tiga puluh orang anak buah Zio Jin menyeberang ke kapal Wong Mo Gei. Seluruh anak buah Zio Jin itu mempunyai tubuh yang kekar-kekar dan berotot. Wajah mereka tampak seram karena jenggot dan jambang tidak pernah di potong apalagi di cukur.
"Ha ha ha...! Anak kemarin sore sudah berani membunuh seorang perompak dari Pulau Larangan, kalian memang sudah bosan hidup rupanya," kata Zio Jin sambil tertawa terbahak-bahak. Memang kalau di lihat Wong Mo Gei dan Cek Pei hanyalah orang biasa yang bisa di anggap remeh.
"Kau memang perlu di buat jadi makanan hiu di lautan ini anak muda," geram Zio Jin.
"Tanyakan pada ikan hiu yang kau sebut itu," dengus Wong Mo Gei sambil menatap tajam.
"Habisi dia, anak-anak. Buang dia ke laut!" perintah Zio Jin pada anak buahnya. Sekitar lima orang anak buah Zio Jin bergerak hendak menangkap Wong Mo Gei dan Cek Pei.
"Heaaa...!"
Begitu para perompak itu mendekat Wong Mo Gei dan Cek Pei bergerak begitu cepat, dalam sekejap mata kelima perompak itu sudah ada di lantai meringis kesakitan.
"Bajingan! Mereka tidak boleh di beri ampun. Bunuh mereka!" bentak Zio Jin keras. Sekitar lima belas orang anak buahnya langsung menghunus pedang langsung berlompatan menyerang ke arah Wong Mo Gei dan Cek Pei.
"Hup!"
Trang!
Pedang para perompak itu saling beradu di tengah, tapi sasaran mereka lenyap entah kemana. Begitu para perompak itu sadar mereka sangat terkejut.
__ADS_1
"Apa yang kalian serang kisanak, kami di sini," kata Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Heaaa...!"
Para perompak itu kembali melompat sambil mengayunkan pedang mereka. Namun belum sampai pedang mereka menyentuh tubuh Wong Mo Gei dan Cek Pei. Cakar jemari Wong Mo Gei telah lebih dulu bersarang di tubuh mereka.
Creb! Srat!
"Aaaa....!"
Jerit kesakitan terdengar dari mulut para perompak itu, di susul mereka terpental ke atas lantai kapal dengan luka bagai di cakar seekor srigala, mereka menggeliat kesakitan.
"Apa yang terjadi? Anak buahku di buat mainan oleh mereka," desis Zio Jin. Kepala perompak Tengkorak Merah itu sampai tersurut mundur sekitar dua tindak kebelakang.
Wong Mo Gei dan Cek Pei telah berdiri sekitar tiga tombak di depan Zio Jin dengan begitu tenang tanpa mengalami suatu hal apa pun.
Zio Jin tampak terkesiap, tangannya menggenggam gagang pedang bergambar kepala burung di pinggangnya.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.
__ADS_1