Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Kompetisi Berlanjut


__ADS_3

"Tuanku, kita meriahkan dulu kompetisi ini, aku ingin bertarung walau hanya bermain," kata raja naga api sambil kembali berputar di sekeliling tubuh Wong Mo Gei.


"Terserah kalian para roh suci, kalian yang punya kekuatan," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.


"Apa Tuanku keberatan?"


"Tentu tidak raja naga, tapi jangan kalian hancurkan gelanggang ini, aku dan Pok Cai sudah merusaknya," jawab Wong Mo Gei malah tertawa.


"Jadi, Siapa pemenangnya ini, kalian masih mau bertanding?" tanya Tian Shin Lau.


"Pemenangnya sudah jelas Wong Mo Gei Paman, beruang apiku tidak akan mampu mengalahkan raja naga api, walau cuma dalam permainan," yang menjawab adalah Pok Cai.


"Ho ho ho..! Beruang api, jangan terlalu rendah diri dulu, lihat tuanku, seorang pemuda yang begitu pesimis," kata raja naga api sambil terbang memutar kearah atas.


"Apa yang harus ku lakukan? Beruang api itu mungkin bisa ku hadapi, tapi roh suci Wong Mo Gei. Tidak ada yang bakal sanggup menghadapinya disini," guman Tian Shin Lau dalam hati.


Raja naga api dan beruang api saling berhadapan di depan kedua tuan mereka. Tanpa diminta beruang api melompat kearah raja naga api sambil mengayunkan cakarnya. Raja naga api juga tidak tinggal diam, raja naga api menukik cepat keudara menghindari serangan beruang api itu.


"Hooaaarrr....!!"


Beruang api itu menyemburkan ke arah raja naga api, raja naga api pun membalas menyemburkan api untuk menghadang semburan api dari mulut beruang api.


Para penonton bersorak sorai, memandang pemandangan yang jarang terjadi, raja naga api dan beruang api mengadakan pertarungan bagai pertarungan sungguhan. Raja naga api sengaja menahan kekuatannya untuk mengimbangi kekuatan beruang api.


Wong Mo Gei dan Pok Cai menjadi penonton dari sudut yang berlawanan. Selama pertarungan berlangsung udara di sekitar alun-alun itu terasa begitu panas akibat raja naga api dan beruang api mengadu kekuatan api mereka.


Setelah merasa lelah beruang api pun melompat mundur ke samping tuannya Pok Cai. Sedangkan raja naga api terbang kearah atas tempat Wong Mo Gei berdiri.


"Maaf raja naga, kita harus menyudahi permainan, aku sudah hampir kehabisan tenaga," ucap Beruang api sambil menunduk memberi hormat pada raja naga api.

__ADS_1


"Ho ho ho...! Beruang api, kau cukup tangguh untuk seekor beruang, terima kasih kau telah menemaniku bermain. Sekarang beristirahatlah beruang api," jawab Raja naga api sambil tertawa. Beruang api hanya mengangguk lalu tubuhnya tiba-tiba sirna, beruang api kembali kedalam tubuh Pok Cai untuk istirahat.


"Pertarungan selanjutnya Wa Hua Wa dari Sekte Api melawan Pan Lin Min dari Sekte Awan Hitam!" kata Tian Shin Lau dengan suara lantang. Tidak lama kemudian Wa Hua Wa berjalan kearah panggung gelanggang kompetisi. Dari sudut sebelahnya tampak seorang gadis cantik berbaju ringkas berwarna hitam, dan celana yang ia kenakan berwarna hijau tua.


"Apa kalian siap?" tanya Tian Shin Lau pada Wa Hua Wa dan Pan Lin Ming, kedua gadis itu menjawab dengan menganggukkan kepala dengan kedua tangan memberi hormat.


"Apa kalian siap bertarung dua ronde? Ronde pertama bertarung adu kedikjayaan dan ronde kedua bertarung memakai kekuatan roh suci," tanya Tian Shin Lau lagi.


"Kalau saya siap saja Paman, entah dengan Lin Ming," jawab Wa Hua Wa.


"Saya juga siap Paman," jawab Pan Lin Ming.


"Baik, ronde pertama adu kedikjayaan memakai tangan kosong dan memakai senjata," kata Tian Shin Lau dari tengah panggung gelanggang.


Wa Hua Wa dan Pan Lin Ming bergerak maju ke tengah gelanggang dan saling memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan mereka. Wa Hua Wa dan Pan Lin Ming melangkah mundur untuk saling bersiap dengan membuka kuda-kuda mereka.


"Hiyaaa...!!"


Pan Lin Ming bergerak maju menyerang ke arah Wa Hua Wa dengan kepalan tinjunya mencerca kearah wajah Wa Hua Wa. Wa Hua Wa pun tidak tinggal diam, gadis cantik berbaju merah itu bergerak menyongsong serangan tinju Pan Lin Ming.


Tap! Tap!


Wa Hua Wa dengan begitu tangkas dan gesit menapaki setiap tinju Pan Lin Ming dengan telapak tangannya. Pertarungan kedua gadis muda itu berjalan cukup cepat, keduanya saling menyerang dan menangkis serangan masing-masing. Namun tidak begitu lama Wa Hua Wa mulai tampak berada di atas angin serangan cakar naga terbangnya mulai mendesak Pan Lin Ming.


Pan Lin Ming yang memakai Jurus-jurus cakar harimau berusaha mengimbangi serangan Wa Hua Wa. Namun kecepatan dan tingkat tenaga dalam Wa Hua Wa tampaknya berada di atas tenaga dalam Pan Lin Ming. Sehingga serangan Wa Hua Wa jauh bertenaga di banding serangan Pan Lin Ming itu.


"Hiyaaa..!"


Wa Hua mengarahkan cakar telapak tangannya kearah dada Pan Lin Ming, gadis itu berusaha mengelak dengan menggeser tubuhnya kesamping kiri. Namun Wa Hua Wa rupanya dengan begitu cepat memberikan sebuah serangan dengan menendang ke arah perut Pan Lin Ming.

__ADS_1


"Heh..!" Pan Lin Ming tampak terkejut, ia tidak menduga jika Wa Hua Wa mengubah pola serangannya begitu cepat, tendangan kaki kanan Wa Hua Wa tepat menghantam perutnya.


Buak!


"Aakh..!" Pan Lin Ming mengeluh kesakitan sebelum tubuhnya terdorong kebelakang dan menhantam pagar pembatas gelanggang itu.


Brak!


"Ukh..!" Pan Lin Ming jatuh berlutut, darah segar tampak mengalir dari sudut bibir kanannya. Melihat Pan Lin Ming terluka Wa Hua Wa yang hendak meneruskan serangannya jadi mengurungkan niatnya.


"Bagaimana Lin Ming, apa masih bisa di teruskan?" tanya Tian Shin Lau menghampiri Pan Lin Ming.


"Masih Paman, saya tidak apa-apa," jawab Pan Lin Ming sambil menyeka darah di bibirnya dengan lengan baju kirinya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, ini hanya sebuah pertandingan kompetisi bukan pertarungan sungguhan," cegah Tian Shin Lau, ia mengetahui kalau Pan Lin Ming sudah mengalami luka dalam.


"Tidak apa-apa Paman, kurang seru, jika saya terlalu cepat menyerah," jawab Pan Lin Ming sambil tersenyum. Pan Lin Ming merentangkan tangan kanannya ke samping, sebuah pedang berwarna putih keperakan muncul di dalam genggaman telapak tangan kanannya.


Wuss..!


Set! Set!


Pan Lin Ming langsung berdiri dan bersiap-siap dengan jurus pedang yang ia miliki. Wa Hua Wa pun tidak tinggal diam, sebuah pedang yang ia dapatkan dari Kuburan Pedang dua tahun yang lalu di panngilnya. Pedang baha merah tampak tergenggam ditangan Wa Hua Wa, namun pedang itu belum terhunus dari warangkanya.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2