
Tidak Ayal lagi Manusia Batu langsung terpental lintang-pukang dan menabrak beberapa orang yang ada di depannya.
Manusia Batu segera melompat bangun, tapi darah sudah mengalir dari sela-sela bibirnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu tampak cukup terkejut karena melihat Manusia Batu yang paling menakutkan bagi mereka di hajar dalam serangan pertama.
"Tidak mungkin... pemuda itu adalah Dewa, manusia biasa tidak mungkin sekuat itu..," kata salah seorang pendekar yang melihat pertarungan itu.
"Ya, dia, Dewa... Atau Iblis? Dia begitu kuat?" jawab salah seorang lagi, seakan tidak percaya.
Memang selama ini Manusia Batu belum pernah terkalahkan, jangan pululan tangan manusia. Pedang dan tombak tidak sanggup
membuat Manusia Batu tenaga dalam pun tidak pernah mampu melukainya.
Senjata-senjata para pendekar itu kebanyakan retak dan patah bila mengenai tubuh Manusia Batu, namun sekarang di hadapan mereka Manusia Batu dalam satu serangan kini di banting bagai karung kapas ke lantai oleh Wong Mo Gei.
Tentu saja semua itu adalah hal yang mustahil bagi para pendekar itu, tapi itu bukan mustahil bagi kekuatan penguasa roh suci raja naga api itu.
Apa Kekuatan Dewa atau kekuatan iblis?
Mereka menatap aneh setengah ketakutan dan setengah benci.
Sam Cong Tieng pun seakan tidak percaya melihat Apa yang terjadi saat ini.
Manusia Batu yang di kenalnya sebagai manusia tidak terkalahkan di ruangan kedua. Kini harus terluka dalam serangan pertama yang tampaknya hanya
sebuah bantingan namun bisa membuat Manusia Batu mengeluarkan darah.
"Siapa sebenarnya anak muda ini?" Sam Cong Tieng dalam hati, "Apakah Dia adalah manusia pilihan dalam lima ratus tahun?"
Sam Cong Tieng seakan tidak percaya melihat semua ini. Namun karena Wong Mo Gei memiliki pedang naga kayangan yang telah menjadi legenda di dunia persilatan Selama ratusan tahun ini membuat orang nomor satu di ruangan kedua itu tampak terdiam.
Tugasnya di ruangan kedua sebagai wakil dari Lee Tang Yin, ada keraguan dalam hati Sam Cong Tieng.
"Apakah kali ini istana bawah tanah akan takluk di tangan seorang pendekar yang begitu muda?" desis sabu Sam Cong Tieng dalam hati.
"Tampaknya kali ini Lee Tang Yin harus menerima konsekuensi semua perbuatan adiknya dan semua dukungannya terhadap Pangeran Yun Lau," rutuk Sam Cong Tieng dalam Hati.
Sementara itu Manusia Batu telah bergerak berjalan pelan ke araWong Mo Gei.
"Anak muda, kau memang seorang pendekar pilihan. Puluhan tahun aku hidup sebagai Pendekar atau monster Aku tidak tahu. Namun hari ini aku baru merasa bertemu seorang anak muda yang mampu mengalahkan aku dalam pukulan pertama.
__ADS_1
Aku berjanji padamu aku akan mengabdi dan menjadi pengikut mu anak muda,"
"Terima kasih Kakek, Paman, saya tidak tahu apa yang harus saya panggil. Kalau boleh saya bertanya. Berapa umur pendekar yang ada di hadapan saya ini?" ucap Wong Mo Gei sambil bertanya.
"Jika umur yang kau tanyakan
umurku saat ini sudah melebihi enam puluh tahun. Namun wajah dan tubuhku ini tidak pernah berubah," jawab Manusia Batu.
"Apa yang membuat tubuhmu tidak pernah berubah? tanya Wong Mo Gei lagi.
"Ada orang yang mengatakan kalau aku adalah anak monster tapi mungkinkah seorang manusia menikah dengan monster? Tidak mungkin kan? Ada orang yang mengatakan kalau aku adalah anak gondoruwo, berarti aku ini adalah Bajang. Tapi aku tidak mempunyai kekuatan.
makhluk halus itu, tapi entah kenapa tubuhku ini bagai sebuah batu,"
"Apakah pendekar tidak mengingat dari mana pendekar mendapat kekuatan itu?"
Seingatku semua ini sudah ada di tubuhku semenjak kecil dan entah dari mana aku mendapatkan semua ini aku tidak pernah belajar kungfu secara langsung kepada seorang guru, aku hanya belajar kungfu dari teman-temanku sesama perompak. Namun
tubuhku ini mempunyai kekuatan yang tersimpan. Namun hari ini kekuatan itu seakan tidak ada apa-apanya di hadapanmu, anak muda," kata Manusia Batu.
Semua orang yang ada di sana kini bagai melihat seorang Dewa ada juga yang melihat sebagai seorang iblis penakluk dunia.
Semua orang
rendah kepada Wong Mo Gei, semua orang-orang itu kini sangat ketakutan Apakah mereka? akan dibantai atau dijadikan Taklukan yang lebih menyakitkan lagi mereka akan dijadikan sebagai budak. itulah yang ada di dalam pemikiran orang-orang yang hanya ingin menjadi penakluk dunia
Namun semua yang mereka pikirkan tidak ada di dalam otak Wong Mo Gei, Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin semua mereka hanya ingin mencari tahu apa yang terjadi dan apa tujuan dari orang-orang yang menculik tujuh orang gadis perawan di negeri mereka? dan siapa para penculik itu dari mana asalnya sedangkan yang mereka tahuSekte Angin Barat dan Angin Timur telah lama menghilang dan semua orang-orang yang mendukung Pangeran Yun Lau kini tinggal nama.
Namun hanya segelintir orang-orang termasuk Sam Cong Tieng yang mengetahui jika Pangeran Yun Lau sedang menyusun kekuatan untuk mengadakan pemberontakan dan menaklukkan kembali Kerajaan Yin dan Yang.
"Anak muda, karena kau telah menjadi pemenang di dalam ruang kedua ini. Maka
tumpukan batu kekuasaan batu merah itu kini menjadi milikmu. Terserah apa yang mau kau lakukan dengan batu itu apa kau ingin menggunakannya sendiri atau kau ingin menjualnya? kata Sam Cong Tieng.
Manusia Batu dan Pendekar Tang Liau Mie
hanya mengangguk menyetujui.
Para pendekar yang ada disana hanya memandang dengan penuh takjub setengah ketakutan, mereka berpikir bahwa Wong Mo Gei ingin menaklukkan Pulau Larangan dan mengejar semua kekuatan batu merah yang ada di Pulau Larangan, dengan kekuatan yang yang dia miliki saat ini saja dia sudah hampir tidak terkalahkan. Bagaimana kalau dia memiliki semua batu merah itu? Apakah dia benar-benar menjadi seorang pendekar yang kekuatannya sebanding dengan kekuatan Dewa atau memang dia adalah iblis penakluk dunia yang mengincar kekuatan batu merah itu begitulah pikiran mereka.
Apakah dia adalah iblis pemilik dari batu kekuatan kekuasaan batu merah itu,
__ADS_1
bermacam-macam pemikiran para pendekar yang ada di dalam ruangan itu.
Semua pemikiran baik dan buruk timbul di dalam benak mereka namun mereka tidak berani berbuat apa-apa.
ketakutan di hati mereka, membuat mereka diam seribu bahasa menatap penuh makna yang tidak dimengerti oleh mereka satu sama lainnya.
"Terima kasih. Saya tidak menginginkan kekuatan batu merah itu, tapi jika memang itu sudah menjadi hak saya sebagai pemenang pertarungan di ruang kedua ini.
Saya akan membawa seluruh batu merah yang menjadi hak saya sebagai oleh-oleh ke negeri delapan mata angin," kata Wong Mo Gei.
"Baik, anak muda jika itu yang kau katakan kami akan membuat sebuah peti untuk memasukkan batu merah yang menjadi milikmu jika kau berhasil keluar dari istana bawah tanah ini nanti, kami yang akan mengantarkan semua batu merah yang kau punya sampai ke pantai Pulau Larangan,"
kata Sam Cong Tieng.
"Baiklah, terima kasih atas semua pengertian Tuan Sam Cong Tieng. Kami harus melanjutkan perjalanan,"
"Silahkan, Singa Merah akan tetap menjadi penuntun kalian karena dia mengetahui semua selak beluk di dalam istana bawah tanah ini," kata Sam Cong Tieng.
Kini Wong Mo Gei dan teman-temannya melanjutkan perjalanannya menuju sebuah ruangan yang lebih besar dan tampak lebih dari sebuah ruangan yang di sebut di istana
bawah tanah ini dengan nama ruang ketiga yang disebut juga dengan ruang batu biru.
Ruang batu permata biru, Kenapa ruang itu di sebut dengan ruang batu biru? itu yang akan dicari tahu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.