Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Perseteruan Berlanjut


__ADS_3

Suasana yang tadinya ramai kini tiba-tiba sunyi senyap, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ada di pelataran istana Yin dan Yang tersebut diam dan memandang kearah Wong Mo Gei. Banyak dari orang-orang itu saling berbisik memandang kearah Wong Mo Gei.


"Mo Gei, apa yang kau lakukan nak? Kenapa ada yang menantangnya?" guman Zhang Shin Ming setengah berbisik. Zhang Shin Ming berniat mencegah Wong Mo Gei maju, namun Shin Yuan Ma mencegah dengan memegangi lengan tangan suaminya.


"Sayang.. Kita biarkan saja dulu... Kita lihat apa yang dilakukan Mo Gei, anak kita itu bukan pemuda bodoh. Lihat dia begitu percaya diri," ucap Shin Yuan Ma sambil berbisik pada Zhang Shin Ming.


"Zhang, coba cegah Wong Mo Gei, pemuda yang menantangnya adalah pemenang kedua kompetisi dua tahun yang lalu," kata Tian Shan pada Zhang Shin Ming.


"Ya aku tau Paman, tapi biarkan saja dulu, Mo Gei anak yang pintar, dia tidak mungkin menerima tantangan pemuda itu tanpa perhitungan," jawab Zhang Shin Ming tenang. Tian Shan hanya mengangguk.


Wong Mo Gei tampak berjalan santai kearah tengah gelanggang. Semua orang yang ada di sana memandang setengah tidak percaya melihat Wong Mo Gei menerima tantangan Pok Cai tersebut.


"Apa yang di pikirkan putra Zhang Shin Ming itu, apa dia sanggup mengalahkan pemuda yang menjadi pemenang nomor dua kompetisi tahunan dua tahun itu?" bisik salah seorang penonton pada temannya.


"Entahlah.. Mo Gei kan putranya Zhang Shin Ming, entah ilmu apa yang dia simpan, lihat dia begitu santai tanpa takut sedikit pun, mungkin dia sudah punya persiapan yang tidak kita ketahui," jawab temannya. Kedua orang itu adalah orang-orang Sekte Api.


"Mo Gei, tunggu! Apa semua ini tidak akan membahayakan jiwamu nak?" tanya Tian Shin Lau pada keponakannya tersebut.


"Terima kasih Paman, tapi Mo Gei tidak apa-apa," jawab Wong Mo Gei kalem dengan sebuah senyuman yang membuat Tian Shin Lau yakin pada keponakannya itu.


"Baiklah.. Hati-hati!" nasehat Tian Shin Lau. Wong Mo Gei hanya mengangguk sambil menunduk memberi hormat. Lalu Wong Mo Gei pun memasuki pagar pembatas gelanggang itu.


"Hmm..! Dia begitu tenang, kekuatannya saat di warung tadi begitu kuat!" guman Pok Cai dalam hati.


"Mo Gei, apa kau yakin?" tanya juri penengah yang kebetulan adalah teman Zhang Shin Ming, ayah Wong Mo Gei.


"Saya yakin Paman," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bagus, keyakinan kita sendiri adalah sebuah kekuatan hati," kata juri penengah tersebut.


"Baiklah.. Saling memberi hormat!" perintah juri penengah sambil bergerak mundur kebelakang. Wong Mo Gei mengangkat kedua kepalan tinjunya di depan wajah hendak memberi hormat.


"Heaaah...!" tanpa aba-aba Pok Cai langsung menyerang kearah Wong Mo Gei dengan sebuah jurus cakar. Wong Mo Gei terkesiap, namun pemuda itu cepat menarik mundur tubuhnya. Kepalan tinjunya cepat mengayun kearah lengan Pok Cai.


Duk!


"Sha..!" Wong Mo Gei pun tidak tinggal diam, hasil latihannya selama lima belas tahun yang cukup mumpuni, dengan begitu tangkas Wong Mo Gei mengimbangi serangan Pok Cai.


Pok Cai memainkan jurus-jurus cakar, tampaknya Pok Cai sudah menguasai Jurus-jurus Beruang Hitam, aura panas serangan Pok Cai cukup membuat sekitar jadi panas.


Setelah cukup lama melakukan serangan tangan kosong, Pok Cai melompat kebelakang. Pok Cai tampak merapatkan telapak tangan di depan dada.


Bless!


"Trisula Emas!" Zhang Shin Ming tampak terkesiap, hatinya mulai mencemaskan putra si mata wayangnya, Wong Mo Gei. Namun Wong Mo Gei tampak begitu tenang melihat Pok Cai memegang trisula emas.


"Tuanku, hati-hati, Trisula Emas itu cukup berbahaya, Tuan akan kehilangan tenaga jika tergores mata trisula itu," suara raja naga api menggiang di telinga bathin Wong Mo Gei.


"Jadi aku harus bagaimana raja naga?" tanya Wong Mo Gei membathin.


"Tuan harus menggunakan pedang naga kayangan, kekuatan trisula emas itu akan lemah bila berhadapan dengan pedang naga kayangan," jelas raja naga.


"Terima kasih raja naga, pantas Pok Cai sombong, dia rupanya memiliki sebuah senjata yang cukup kuat," ucap Wong Mo Gei lagi dalam hati.


"Hup!" Wong Mo Gei tampak merapatkan kedua telapak tangannya diatas kepala.

__ADS_1


Bless!


Pedang naga kayangan tiba-tiba tersampir di bahu Wong Mo Gei. Secara perlahan tangan kanan Wong Mo Gei memegang gagang pedang naga kayangan.


Srek!


Secara perlahan pedang naga kayangan keluar dari warangkanya. Cahaya merah api semburat keluar dari mata pedang mustika itu.


"Pedang naga kayangan!" ucap para pendekar yang hadir ditempat itu. Juri penengah yang ada di dalam gelanggang sampai tersurut mundur hingga menabrak pembatas gelanggang.


"Yi ha...!" Cek Pei dan Wa Hua Wa bersorak dari luar gelanggang, beberapa orang tampak terkejut melihat Cek Pei dan Wa Hua Wa tidak terkejut. Maharaja Yin dan Yang tampak mengangguk-angguk sambil senyum sendiri setelah berhasil mengusai keterkejutannya.


"Sayang! Putra kita memiliki pedang naga kayangan!" ucap Shin Yuan Ma sambil memeluk Zhang Shin Ming.


"Ya, istriku, Wong Mo Gei rupanya bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa merahasiakan semua itu dari kita. Mo Gei memang pandai memberi kejutan," jawab Zhang Shin Ming sambil tersenyum bangga. Semua orang yang selama ini memandang remeh pada Wong Mo Gei tampak ternganga dan berdecak kagum pada putra Zhang Shin Ming dan Shin Yuan Ma tersebut.


"Wong Mo Gei.. Rupanya ada rahasia besar yang kau simpan cucuku," guman Tian Shan sambil tersenyum puas. Sedangkan Tian Shin Lau hanya senyam senyum sambil menunjuk kearah Cek Pei dan Wa Hua Wa.


"Sejak kapan, Mo Gei memiliki pedang naga kayangan, apa sejak tiga tahun yang lalu?" guman Tian Shin Lau dalam hati, "Jadi saat Cek Pei mendapatkan pedang baja putih, Mo Gei mendapatkan pedang naga kayangan!" guman Tian Shin Lau lagi.


Wong Mo Gei melintangkan pedang naga kayangan di depan wajahnya. Cahaya merah tampak mengalir dari tubuh pemuda itu. Sementara Pok Cai tampak terdiam, ada penyesalan dalam hatinya. Namun ia masih mengacungkan Trisula Emas kearah Wong Mo Gei.


"Apa yang harus kulakukan, pedang legendaris itu berada di tangan Mo Gei, mundur, tidak mungkin. Harapanku sekarang hanya adu kekuatan roh suci yang mungkin bisa aku menangkan?" guman Pok Cai dalam hati, ia mulai ragu apa ia mampu mengalahkan Wong Mo Gei, apalagi dengan pedang naga kayangan. Cahaya keemasan di trisula emas Pok Cai jadi meredup.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2