Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Tunduknya Roh Suci Harimau Taring Panjang


__ADS_3

Seekor harimau taring panjang berwarna hitam langsung muncul di samping Wu Tong Qian. Harimau taring panjang itu cukup besar, tubuhnya mencapai sebesar gajah remaja. tinggi tubuhnya sekitar tiga meter setara dengan satu tombak setengah.


"Haauuumm......!!"


Auman harimau putih itu menggema di daerah pantai Pulau Larangan itu.


"Habisi dia, hitam!" perintah Wu Tong Qian seraya melambaikan tangannya kedepan. Tiba-tiba sebuah gelombang cahaya tiba-tiba menyebar begitu cepat langsung mengenai semua yang ada di sana termasuk harimau taring panjang roh suci Wu Tong Qian itu.


"Maaf, Tuanku.. Dia bukan lawan kita," tiba-tiba roh suci harimau taring panjang berbicara langsung pada tuannya.


"K.. Kau bisa berbicara langsung, hitam? Kenapa?" Wu Tong Qian tersentak kaget dan sampai mundur dua tindak.


"Sebuah kekuatan menerpaku, Tuan. Sepertinya raja naga ada di sini," kata roh suci harimau taring panjang sambil melihat ke sekeliling tempat itu.


"Apa maksudmu, dia bukan lawan kita, hitam?"


"Pemuda itu...," harimau taring panjang menghentikan ucapannya.


Naga air telah muncul di samping Cek Pei dan menatap tajam ke arah roh suci harimau taring panjang.


"Roh suci naga air?" Wu Tong Qian tersentak. Wajahnya berubah pucat, bibirnya bergetar seakan tidak mampu lagi bersuara. Wu Tong Qian baru pertama kali melihat roh suci seekor naga.


Wuss!


"Ho ho ho...! Naga air, apa kabarmu?" sapa raja naga api begitu menampakkan wujud di atas Wong Mo Gei.


"Hamba baik-baik saja Tuanku raja naga api," jawab naga air sambil menundukkan kepalanya ke tanah memberi hormat pada raja naga.


"Raja Naga, jadi kekuatanmu yang membuat ku kau kami bisa berbicara langsung pada Tuan kami?"


"Ho ho ho..! Harimau taring panjang, apa tuanmu masih ingin melanjutkan pertarungan itu?" raja naga api bergerak berputar melingkari harimau taring panjang dengan begitu cepat. Hawa panas menerpa ke arah Wu Tong Qian, sehingga tubuhnya seketika basah bermandikan keringat.


Kedua kaki Wu Tong Qian mulai terasa gemetaran, walau bibirnya berusaha menutup rapat, menekan ketakutan yang menggerogoti mentalnya.


Wu Tong Qian langsung jatuh berlutut dengan tubuh gemetaran, keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Bibirnya gemetar hampir tidak mampu berkata-kata.

__ADS_1


"Tuan, Tuan Wu Tong. Sebaiknya jangan melawan lagi, raja naga api adalah roh suci terkuat dari seluruh roh suci yang ada. Jika Tuan masih melanjutkan perseteruan ini, aku tidak akan ikut campur," kata roh suci harimau taring panjang pada Wu Tong Qian.


"A... Aku menyerah, aku akan menjawab semua yang ingin kau tanyakan," kata Wu Tong Qian terdengar terbata dan parau suaranya, sambil memandang ke arah Cek Pei.


"Bagus, itu lebih baik, Tuan. Kami tidak ingin membunuh siapa pun, kecuali orang itu sudah kelewat batas," sambut Cek Pei. Tanpa di minta kedua roh suci kembali menjadi cahaya putih dan kembali ke dalam tubuh tuannya.


"Tapi, kalian telah membunuh Lee Tong, kalian harus berhadapan dengan orang-orang bawahan Lee Tang Yin kakak Lee Tong," desah Wu Tong Qian.


"Kau tampak cemas menyebut orang yang bernama Lee Tang Yin itu, Tuan Wu Tong. Begitu menakutkan kah dia?" tanya Cek Pei.


"Dia adalah orang terkuat di Pulau Larangan ini,"


Apa yang menyebabkan kau begitu takut pada orang itu?"


"Dia mempunyai istana bawah tanah di Pulau Larangan ini, Pendekar. Setiap ruangan istana bawah tanah milik Lee Tang Yin berisi puluhan bahkan mungkin ratusan orang-orang pilihan yang mempunyai tenaga dan kepandaian di atas para perompak yang berkeliaran di Pulau Larangan ini," jelas Wu Tong Qian.


"Mengapa Lee Tang Yin mempersiapkan orang-orang pilihan itu, Tuan Wu Tong?" tanya Cek Pei lagi.


"Secara pribadi aku tidak pernah mengetahuinya, tapi Lee Tang Yin pernah mengatakan dia akan menjadi penguasa Pulau Larangan ini, itu saja," tutur Wu Tong Qian lagi.


"Kalian bisa bertamu ke rumahku, sebelum kalian melanjutkan perjalanan ke puncak bukit," kata Wu Tong Qian.


"Puncak bukit? Apa itu? Tuan Wu Tong," tanya Cek Pei tampak tidak mengerti maksud Wu Tong Qian tersebut.


"Setelah kesana, kau akan tahu apa itu puncak bukit," jawab Wu Tong Qian masih berteka-teki. Wong Mo Gei hanya menepuk pelan punggung Cek Pei sambil mengangguk dan berbisik.


"Kita ikuti permainan orang-orang Pulau Larangan ini, Cek Pei," bisik Wong Mo Gei, "Tampaknya banyak rahasia dan misteri dari Pulau Larangan ini yang perlu kita ungkap,"


Cek Pei hanya mengangguk mengerti rencana Wong Mo Gei itu. Wa Hua Wa dan Sin Yin hanya saling pandang melihat dua pemuda itu saling berbisik.


***********


Setelah selesai bertamu ke rumah Wu Tong Qian Wong Mo Gei dan Cek Pei melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak bukit. Wu Tong Qian yang jadi pendamping mereka berempat sedangkan anak buah Lee Tong tetap tinggal di kapal. Wu Tong Qian menceritakan apa yang dia tahu pada Wong Mo Gei dan kawan-kawannya, tapi mereka belum mendengar soal penculikan tujuh gadis perawan tersebut.


"Tuan Wu Tong. Kenapa kau memilih mengantar kami ke puncak bukit? Bukankah ini bisa membahayakan nyawamu?" yang bertanya adalah Wong Mo Gei.

__ADS_1


"Jika di bagian bawah, akulah penguasanya, Pendekar. Jadi aku masih cukup di hargai di sana, mudah-mudahan kita bisa mendapatkan informasi yang kalian cari tentang penculikan tujuh gadis perawan itu," jelas Wu Tong Qian.


Mereka terus berjalan hingga mencapai kaki bukit yang cukup tinggi, kini di depan mereka terdapat tangga batu yang begitu terjal dan yang satunya agak melandai, namun memutar. Kedua tangga itu menuju arah yang sama yaitu puncak bukit.


Wu Tong Qian mengajak Wong Mo Gei dan kawan-kawannya melalui tangga yang berliku, "Kita lewat jalan ini saja, Pendekar. Jika melalui tangga lurus itu kita memang lebih cepat sampai, tapi kita tidak bisa menikmati keindahan tempat ini. Jika lewat tangga yang kita lewati sekarang, kita bisa melihat danau yang ada di bawah bukit bagian utara," tutur Wu Tong Qian menjelaskan.


Wong Mo Gei dan Cek Pei hanya mengangguk menyetujui perkataan Wu Tong Qian tersebut. Begitu pun Wa Hua Wa dan Sin Yin. Setelah sampai di puncak bukit batu yang cukup tinggi itu, mereka menemukan sebuah bangunan membentuk Pagoda yang cukup besar dan bertingkat.


Wu Tong Qian mengajak Wong Mo Gei dan ketiga temannya memasuki Pagoda besar itu. Begitu mereka masuk sebuah tempat mirip restoran terdapat di sana, puluhan orang berpakaian ala pendekar yang memiliki senjata bermacam-macam. Ada yang bersenjata pedang, tongkat, tombak dan masih banyak model senjata yang lain.


Puluhan orang itu langsung memandang ke arah Wa Hua Wa dan Sin Yin bagai hewan buas menatap mangsanya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Favoritnya ya teman-teman

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2