
Matahari mulai bersinar terang sekitar tiga tombak di ufuk timur. Udara yang berhembus segar, menyambut hari. Namun di aula besar Sekte Api tampak puluhan orang telah berkumpul, orang-orang itu adalah para pendekar dari Sekte Api.
Tampak di depan aula berdiri ketua Sekte Api, Tian Shan. Sebagai ketua Sekte Tian Shan yang lebih dulu sampai di aula pertemuan para tokoh Sekte Api itu. Pagi ini Tian Shan mendapat kabar bahwa di Sekte Tanah telah terjadi penculikan tujuh orang gadis perawan tadi malam.
"Apa yang terjadi, Ayah, Ibu?" tanya Wong Mo Gei langsung menemui ayah dan ibunya tampak berdiri di barisan paling depan.
"Tadi malam telah terjadi penculikan tujuh orang gadis perawan di Sekte Tanah, Maharaja Cong Ming memerintahkan urusan ini di tangani oleh para pendekar dari Sekte Api," jawab Shin Yuan Ma.
"Kami juga di libatkan, Ibu?" tanya Wong Mo Gei lagi.
"Ya, kakekmu, Tian Shan yang mengirim surat melalui merpati pos pada kalian tadi," yang menjawab adalah Zhang Shin Ming, ayah Wong Mo Gei.
Setelah semua berembuk, Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa di kirim ke Sekte Tanah. Sebagai pendekar bantuan dari Sekte Api.
Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa, penuh semangat pergi menjalankan tugas itu. Bagi ketiga pendekar muda Sekte Api itu, ini adalah petualangan yang mereka tinggu-tunggu.
"Untuk utusan dari Sekte Api, di panggil ke istana oleh Maharaja Cong Ming," kata salah seorang perwira kerajaan yang baru sampai di aula pertemuan para tokoh Sekte Api itu.
"Wong Mo Gei, Cek Pei dan Wa Hua Wa yang mewakili Sekte Api ke istana. Sedangkan Zhang Shin Ming, Shin Yuan Ma dan Tian Shin Lau mewakili sebagai kelompok investigasi yang pergi ke Sekte Tanah," perintah ketua Sekte Api, Tian Shan.
"Baik! Kek," jawab Wong Mo Gei berbarengan bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa.
"Tuan, silahkan kembali ke istana lebih dulu, kami akan menyusul," kata Wong Mo Gei pada perwira prajurit Kerajaan Yin dan Yang itu.
"Baik, Pendekar, kedatangan kalian di tunggu," jawab perwira itu. Setelah berpamitan perwira itu segera meninggalkan tempat itu dengan beberapa orang prajurit pengawalnya.
Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa, segera berpamitan pada orang tua mereka yang juga bersiap untuk berangkat ke Sekte Tanah.
Wong Mo Gei segera memanggil raja naga api, dengan menaiki punggung raja naga api. Mereka melesat meninggalkan tempat itu dengan begitu cepat.
Mereka langsung menuju aula istana Kerajaan Yin dan Yang. Para tamu dari sekte lain juga sudah berada di aula istana, karena sekte mereka lebih dekat dengan istana.
Setelah mendapat surat perintah dari Maharaja Cong Ming. Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa di perintahkan menyelidiki sebuah pulau larangan yang berada di seberang lautan negeri delapan mata angin. Sin Yin dari Sekte Es dan Air menjadi teman seperjalanan mereka bertiga.
Keempat pendekar muda itu di beri kuda yang terbaik di Kerajaan Yin dan Yang. Mereka pun memulai perjalanan mereka menuju pulau larangan.
Sedangkan Wang Man Chu dan Pok Cai menjadi kelompok penyelidik yang menyelidiki hutan di pinggir Desa Bukit Batu.
__ADS_1
Singkat cerita Wong Mo Gei telah mencapai sebuah desa yang cukup jauh dari kerajaan Yin dan Yang. Desa itu para penduduknya rata-rata bekerja sebagai nelayan. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga hari Wong Mo Gei bersama ke empat temannya itu baru sampai ke Desa nelayan itu.
"Mo Gei, kita cari warung makan dulu, perutku sudah cukup keroncongan, makanan yang kita bawa pun sudah habis," ajak Cek Pei.
"Ya, mudah-mudahan di desa ini ada warung dan penginapan. Kita istirahat semalam di sini," jawab Wong Mo Gei, "Bagaimana, Wa Hua Wa?"
"Kalau aku sih, ikut saja. Kalian yang laki-laki sebagai pemimpin, ya kan, Sin Yin," jawab Wa Hua Wa sambil mengerling ke arah Sin Yin.
"Aku ikut saja," jawab Sin Yin sambil tersenyum.
"Baiklah... Sebaiknya kita pelankan lari kuda. Aku tidak mau terjadi keributan dengan penduduk desa, kelihatannya di depan sana cukup ramai," kata Wong Mo Gei seraya memelankan lari kudanya. Setelah melihat sebuah warung makan, mereka berempat menghentikan laju kuda mereka dan singgah di depan warung itu.
"Kalian mau cari makan anak muda?" tanya seorang laki-laki setengah baya, menyambut kedatangan mereka.
"Ya, Paman. Kami mencari warung makan dan penginapan," jawab Wong Mo Gei ramah.
"Kebetulan warung kami menyediakan penginapan, tapi di belakang anak muda," kata laki-laki itu lagi.
"Baik, Paman. Tapi kami mau cari makan dulu," kata Wong Mo Gei lagi.
"Silahkan anak muda," laki-laki itu mempersilahkan Wong Mo Gei dengan ketiga temannya masuk ke warung.
"Kalian mau makan apa? Biar di siapkan," tanya laki-laki setengah baya tersebut.
"Apa saja, Paman. Yang penting bisa mengencangkan, kami sudah kelaparan," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Baik, tunggu sebentar,"
Tidak lama kemudian seorang gadis dengan dua orang temannya mengantar makanan, semua makanan itu terbuat dari hasil tangkapan para nelayan.
Baru saja Wong Mo Gei menyelesaikan makannya, terdengar keributan di luar warung itu. Sekelompok orang-orang berpakaian serba hitam tampak membuat keributan di luar warung.
Laki-laki yang memakai penutup mata satu di sebelah mata kiri, sedang menghajar pemuda yang tadi di perintahkan memberi makan kuda.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di bagian wajah pemuda itu, darah tampak mengucur dari mulutnya yang pecah akibat tamparan laki-laki berbaju hitam itu.
__ADS_1
"Sudah berapa kali ku katakan padamu, jangan banyak tingkah dengan Perompak Mata Satu. Apa kau sudah bosan hidup? Hah!"
"Maaf, Tuan. Warung sedang penuh dengan pelanggan, jika Tuanku mau makan di sini, tunggulah pelanggan lain selesai," ucap pemuda itu lemah, seraya menyeka darah di sudut bibirnya.
"Ha ha ha....! Kau seakan baru bertemu dengan Perompak Mata Satu. Habisi dia!" perintah laki-laki yang memakai penutup mata, di mata kirinya.
Salah seorang anak buahnya maju dan menghunus pedang bengkok dari pinggangnya.
Sret!
"Ampun...! Tuan, jangan bunuh aku...," ucap pemuda itu memelas.
"Mati kau...!"
Perompak itu langsung mengayunkan pedang bengkoknya ke arah pemuda itu. Pemuda itu tampak pasrah dengan memejamkan matanya.
Set!
Trang!
Tiba-tiba sebuah cangkir keramik melesat begitu cepat dan menghantam pedang perompak yang berniat menghabisi pemuda pelayan warung itu.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Like
Koment
Favorit
__ADS_1
Dan Votenya.
Jangan lupa hadiahnya..