Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Pemenang Kompetisi Tahunan


__ADS_3

Suasana ramai di tengah alun-alun istana Yin dan Yang berubah jadi suasana sepi. Semua mata kini menatap bagai enggan berkedip, cahaya pedang naga kayangan di tangan Wong Mo Gei membuat semua orang terpana.


Pedang pusaka yang selama ini hanya bisa di dengar melalui cerita, dan hanya di lihat oleh para pendekar di tujuh sekte. Kini pedang itu ada di depan mata, mulut mereka bagai tertahan untuk mengeluarkan suara.


"Hup!"


Cho Yun Pha dengan cepat maju dengan pedang di tangannya, pemuda itu tidak mempedulikan sekelilingnya, orang-orang yang ternganga memandangi keindahan pedang naga kayangan. Walau sesungguhnya hati pemuda dari Sekte Awan Hitam itu juga mengagumi pedang di tangan Wong Mo Gei itu.


Sabetan dan tebasan pedang di tangan Cho Yun Pha cukup cepat, tapi Wong Mo Gei begitu tenang menangkis setiap serangan pedang Cho Yun Pha itu.


Trang!


Trang!


Berkali-kali mata pedang kedua pemuda itu beradu di udara. Cho Yun Pha berusaha meningkatkan kekuatan dan kecepatan serangan pedangnya.


Wong Mo Gei tampak begitu tenang menghadapi setiap serangan pedang Cho Yun Pha itu. Dengan jurus 'Pedang Naga Kayangan'. bukanlah hal sulit bagi Wong Mo Gei menghadapi serangan pedang Cho Yun Pha yang cukup cepat itu. Sebuah kibasan pedang naga kayangan membuat pedang di tangan Cho Yun Pha harus terlepas dari tangannya.


Trang!


"Agkh...!"


Cho Yun Pha melenguh kesakitan sambil melompat mundur, tangan kiri pemuda itu memegangi pergelangan tangannya yang terasa nyeri akibat menahan serangan pedang Wong Mo Gei itu.


"Kau tidak apa-apa, Sobat? Maaf saya agak terbawa suasana," ucap Wong Mo Gei sambil menurunkan pedangnya.


"Tidak apa-apa, Mo Gei, namanya juga pertarungan. Aku beruntung bisa berhadapan dengan pedang yang jadi momok di dunia persilatan itu," jawab Cho Yun Pha sambil tersenyum.


"Baiklah melihat hasil pertandingan antara Wong Mo Gei dengan Cho Yun Pha, di menangkan oleh Wong Mo Gei!" kata juri penengah mengumumkan pemenang pertandingan itu. Seluruh orang-orang yang ada di tempat itu bersorak sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Zhang Shin Ming dan Shin Yuan Ma terlihat senyum penuh kebanggaan, melihat putra si mata wayang mereka menjadi pendekar tidak terkalahkan dalam pertandingan kompetisi tahunan kali ini.


Setelah itu tinggallah pertandingan penentuan antara Wa Hua Wa dengan Sin Yin, dan Cek Pei dengan Wang Man Chu.


"Untuk mencari pemenang antara empat kandidat pendekar muda yang mempunyai nilai satu sama, setelah makan siang ini akan di adakan pertandingan panah antara keempat pendekar kita!" kata juri penengah itu mengumumkan pertandingan tambahan.


Wong Mo Gei bersama Cek Pei dan Wa Hua Wa tampak begitu menjadi pusat perhatian di dalam kompetisi tahunan ini. Wong Mo Gei yang sebelumnya di pandang sebelah mata, bahkan jadi bahan ejekan. Kini menjadi buah bibir di antara para remaja putri di ketujuh sekte itu.


"Wah, aku tidak menyangka Wong Mo Gei menjadi pendekar nomor satu tahun ini," celoteh seorang gadis dari Sekte Awan Putih pada temannya.


"Ya! Aku pun begitu bukankah kabarnya tiga tahun yang lalu dia hanya mempunyai kekuatan roh suci seekor kelinci? Dia bahkan menjadi bahan ejekan orang-orang, apalagi yang mempunyai kekuatan roh suci yang kuat. Tentu memandang rendah pada Mo Gei, seperti Pok Cai itu," jawab temannya lagi sambil berjalan menuju gerbang istana.


"Kau dengar suamiku, putra kita sekarang jadi buah bibir para gadis yang ada di negeri Delapan Mata Angin ini," kata Shin Yuan Ma sambil menoleh pada suaminya Zhan Sing Ming.


"Tidak hanya di kalangan gadis biasa istriku, para gadis muda putri para pembesar istana pun pada berbisik-bisik melihat putra kita," jawab Zhang Shin Ming sambil tertawa kecil.


"Tapi siapa gadis yang di sukai oleh putra kita ya?" tanya Shin Yuan Ma sambil tersenyum.


"Putra ibu," kata Shin Yuan Ma sambil tersenyum langsung memeluk sang putra tunggalnya tersebut, "Mo Gei, mau makan apa siang ini?"


"Mo Gei dan Wa Hua Wa dengan Cek Pei mau makan di warung mie, Ayah, Ibu," kata Wong Mo Gei.


"Maaf, kakek mengganggu kalian, Mo Gei, kalian bertiga di undang Maharaja Cong Ming untuk makan siang di istana, bersama dengan para anggota panitia penyelenggara kompetisi tahunan yang lain," Tian Shan ketua Sekte Api telah berada di belakang mereka.


"Baik, Kek," jawab Wong Mo Gei sambil menunduk hormat di depan Tian Shan. Orang tua itu mengangguk sambil menepuk pundak Wong Mo Gei.


Mereka pun pergi memenuhi undangan Maharaja Cong Ming untuk makan siang bersama di istana.


.

__ADS_1


********


Siang telah berlalu, matahari bersinar terang, mulai condong ke arah barat. Alun alun istana Yin dan Yang telah kembali penuh sesak oleh para penonton sekalian pendukung empat orang pendekar muda yang akan menentukan siapa pemenang pertandingan.


Gelanggang pertarungan telah di persiapkan dengan alat memanah dan papan target pun telah terpampang di ujung pagar gelanggang, jarak yang di persiapkan oleh para juri tidak terlalu sulit bagi seorang pemanah andal. Jarak yang di persiapkan di alun-alun adalah lebih kurang lima puluh tombak, lebih kurang sekitar lebih kurang seratus meter.


"Para penonton dan hadirin sekalian, acara yang paling kita tunggu siang ini, akan segera di mulai. Untuk wilayah depan arena panahan harap di dikosongkan, karena tidak memungkinkan panah para peserta meleset kaluar dari sasaran," kata Tian Shan yang turun langsung sebagai juri penengah dan sebagai ketua juri penentu.


Tanpa di minta kedua kalinya, para penonton yang ada di depan arena panahan berpindah ke arah samping kiri dan kanan arena.


"Untuk empat orang peserta panahan, di persilakan menaiki gelanggang untuk memulai pertandingan ini. Karena waktu yang kita punya tidak banyak lagi, hari sudah mulai menjelang sore!," panggil Ketua Sekte Api Tian Shan.


Cek Pei dan Wang Man Chu lebih duluan menaiki gelanggang. Kedua pemuda itu mulai mempersiapkan diri dengan busur panah di tangan. Untuk mempersingkat waktu, para panitia dan prajurit membuat dua papan target sekaligus. Sehingga dua peserta bisa melakukan panahan secara bersamaan.


Cek Pei berada di sudut sebelah kanan dan Wang Man Chu berada di sebelah kiri. Kedua pemuda itu masing-masing di berikan enam anak panah. Setelah persiapan selesai keduanya pun mulai memerah target yang di siapkan.


Cek Pei ber berhasil menancapkan empat anak panah di titik tengah papan target, dan dua lainnya menancap di garis kedua. Sedangkan Wang Man Chu berhasil menancapkan tiga anak panah di bagian titik tengah dan tiga anak panah lainnya menancap di samping titik tengah. Sehingga pertandingan panah antara Cek Pei dan Wang Man Chu di menangkan oleh Cek Pei.


Kini giliran Wa Hua Wa dan Sin Yin bersiap kedua gadis itu naik dengan saling berpegangan tangan, Wa Hua Wa dan Sin Yin tampak telah menjalin persahabatan dalam pertandingan itu. Keduanya tidak mementingkan lagi siapa pemenangnya, karena pertemanan mereka lebih penting dari sebuah hasil yang mereka peroleh.


Setelah melaksanakan pertandingan, Wa Hua Wa berhasil mengenai titik tengah sebanyak tiga anak panah, tiga anak panah lainnya mengenai garis kedua dan garis ketiga.


Sin Yin kalah satu langkah di banding Wa Hua Wa, karena Sin Yin hanya mampu mengenai dua anak panahnya dua di tengah titik target, empat anak panah lainnya meleset sedikit di garis kedua dan garis ketiga.


Wa Hua Wa dan Sin Yin turun dari gelanggang dengan canda dan tawa, kedua gadis cantik itu tampak akrab.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2