Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Perseteruan Di Warung Mie


__ADS_3

Suasana di dalam warung mie itu berubah sunyi dengan hadirnya empat orang pemuda yang bertubuh gempal dengan pakaian hitam putih. Mereka menatap kearah Wong Mo Gei dan kelima temannya.


"Heh..! Pok Cai, Coba kau lihat, si kelinci berani mengambil meja pesanan kita," kata salah seorang temannya. Padahal di sudut warung itu sebuah meja tampak sudah kosong di tinggal pelanggan. Hanya keenam pemuda itu yang tampak tidak mempedulikan kehadiran empat orang pemuda dari Sekte tanah tersebut.


"Cepat usir mereka," perintah pemuda yang di panggil Pok Cai itu. Dua orang temannya langsung berjalan dengan pongahnya kearah meja yang di tempati Wong Mo Gei dan kelima temannya itu.


Plak!


"Kelinci, cepat ajak teman-temanmu meninggalkan meja ini, meja ini sudah jadi milik kami!" bentak pemuda yang agak gendut.


"Eh.. Maaf meja kalian ya.. Baiklah silahkan," ucap Cek Pei berusaha menahan emosinya, "Ayo teman-teman, kita pindah," ajak Cek Pei seraya bangkit dan berpindah ke sebuah meja yang barusan kosong, di ikuti oleh Wong Mo Gei dan yang lain.


Brak!


"Kalian bukannya di suruh pindah, tapi cepat tinggalkan tempat ini, aku mau kalian keluar dari sini, kami tidak ingin makan satu tempat dengan kelinci!" bentak pemuda itu dengan begitu sombong, meja yanf hendak di tempati Wong Mo Gei dan Cek Pei pecah jadi dua.


Set!


Tiba-tiba Cek Pei sudah bergerak bagai kilat dan memegang bahu pemuda sombong itu, "Jika kita ribut disini, kita akan di masukkan ke penjara, karna membuat onar di acara kompetisi. Jika kalian memang hebat kalahkan kami saat kompetisi, baik kekuatan atau pun ketangkasan!" kata Cek Pei sengit sambil mencengkeram leher pemuda tersebut.


Pemuda yang bernama Pok Cai berniat bergerak. Namun Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa bergerak cepat, "Jangan buat kami menghabisi mu di sini!" ancam Wa Hua Wa sambil mengacungkan sarung pedangnya kearah leher Pok Cai.


"Kami sudah mengalah dan pindah dari meja itu, tapi kalian tidak punya pikiran!" geram Wong Mo Gei, cahaya merah tampak mulai menyelubungi tubuh putra Zhang Shin Ming itu.


"Tuanku, jangan takut kekuatanku sudah siap, beruang api itu bukan masalah," kata roh suci raja naga sambil membuka matanya, kekuatan raja naga menghubung kejiwa Wong Mo Gei. Sehingga ia dapat melihat roh suci beruang api yang ada di dalam tubuh Pok Cai itu.


"Hmmm...! Raja Naga, belum saatnya kita unjuk kekuatan," tegah Wong Mo Gei dalam hati, pemuda itu berusaha tetap tenang.

__ADS_1


Pok Cai berusaha meronta, namun cengkraman tangan Wong Mo Gei begitu kuat mencengkeram bahunya. Sehingga Pok Cai tidak bisa bergerak walau ia sudah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya.


Dua pemuda lainnya telah di hadang oleh Tan Lung Xian dan Shen Liang. Tan Lung Xian menekan seruling perak ditangan kanannya kearah leher pemuda yang bertubuh gempal itu, "Jangan coba-coba, kalau kau ingin hidup lebih lama, aku tidak takut masuk penjara!" ancam Tan Lung Xian dengan suara bernada dingin. Teman Pok Cai itu tidak berani bergerak, karena ia merasakan ujung seruling Tan Lung Xian tepat di arah tenggorokannya. Jika ia berani bergerak ia takut nyawanya yang jafi terancam.


"Sebaiknya kalian makan, kita selesaikan semua ini di atas panggung kompetisi, aku tidak mau merusak warung ini!" kata Wong Mo Gei sambil melepaskan cengramannya pada bahu Pok Cai. Pok Cai diam tidak bergeming, yang ia rasakan adalah nyeri di bahunya bekas cengkraman Wong Mo Gei. Wa Hua Wa pun menarik ujung sarung pedangnya dari leher Pok Cai.


Melihat pertarungan tidak terjadi, pemilik warung itu tampak mengurut dada, dua orang pelayannya segera memperbaiki meja yang rusak di tendang oleh teman Pok Cai tadi.


"Anak muda, terima kasih Kak sudah bisa meredam pertarungan," ucap pemilik warung itu.


"Maaf Paman, kami membuat keributan di warung Paman," ucap Wong Mo Gei. Pok Cai tampak terdiam bibirnya tampak masih agak meringis menahan nyeri.


"Ini mie pesanan kalian," kata pelayan warung sambil meletakkan nampan tempat mangkuk mie di atas meja.


"Terima kasih," ucap Wong Mo Gei.


"Benar Paman, saya putra Zhang Shin Ming," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.


"Pantas kau sangat sopan, ayahmu adalah seorang pendekar yang begitu lembut dan sopan," puji pemilik warung itu.


"Terima kasih..," ucap Wong Mo Gei sambil menunduk hormat.


"Kalian makanlah, saya mau kebelakang dulu," kata pemilik warung seraya berjalan kebelakang. Wong Mo Gei dan teman-temannya hanya menggangguk hormat.


.


Suasana tampak riuh di dalam alun-alun istana Yin dan Yang, para penduduk yang jadi penonton tampak begitu ramai. Suara mereka yang saling bercakap-cakap terdengar bagai sebuah pasar kalangan.

__ADS_1


"Peserta selanjutnya!" seru seorang wasit yang berusia sekitar empat puluh tahun. Wasit itu adalah penengah dalam pertarungan adu ketangkasan. Karena dalam adu ketangkasan tidak boleh ada yang tewas. Peraturannya adalah yang keluar atau di kalahkan dalam gelanggang dianggap kalah, "Kim Shan dari Sekte Es, melawan Jung Ma dari Sekte Tanah!" tambah juri penengah tersebut.


Tidak lama kemudian tampak dua orang pemuda dari sudut yang berbeda naik ke atas gelanggang. Salah seorang mereka tampak memakai pedang besar dan yang dari sudut lainnya memakai senjata tombak.


"Beri hormat!" perintah juri penengah, keduanya pun saling memberi hormat dengan saling menunduk, dengan kepalan tinju di depan wajah.


"Haaaa...!" Mereka langsung bersiap-siap membuka kuda-kuda. Tidak lama kemudian pertarungan adu ketangkasan itu pun berlangsung. Tampak keduanya saling menyerang dan menangkis serangan dengan senjata di tangan mereka. Pertandingan itu berlangsung cukup seru, karena kedua pemuda tersebut memiliki kepandaian hampir setara.


"Wah..Mereka hebat ya! Jurus-jurus pedang besar pemuda yang bernama Kim Shan itu cukup hebat, namun jurus-jurus tombak Jung Ma juga tidak kalah hebat!" puji Wa Hua Wa berdecak kagum.


"Wa Hua Wa benar, keduanya memiliki tenaga dalam hampir beriringan, kemungkinan pertarungan mereka bisa seimbang. Hanya roh suci mereka yang jadi penentu," tambah Wong Mo Gei. Tampak Lin Yang Mie asyik memakan cemilan ayam bakar, sedangkan matanya melotot memperhatikan pertandingan di dalam gelanggang.


Hampir lima puluh jurus pertarungan berlalu. Barulah tampak siapa yang akan keluar jadi pemenangnya. Sebuah sambaran pedang Kim Shan berhasil mematahkan batang tombak Jung Ma.


Trak!


Jung Ma terkesiap, belum sempat ia mengusai situasi. Tendangan cepat Kim Shan berhasil mendarat di dadanya. Jung Ma terlempar keluar gelanggang, Kim Shan akhirnya keluar sebagai pemenang dalam adu ketangkasan itu.


Tiba-tiba Pok Cai melompat keatas gelanggang dan berdiri tegak berlagak pinggang. Matanya menatap ke sekeliling tempat itu. Tidak lama kemudian Pok Cai menunjuk kearah Wong Mo Gei.


"Wong Mo Gei! Aku menantangmu adu ketangkasan dan adu roh suci sekarang juga!" teriak Pok Cai sambil menunjuk kearah Wong Mo Gei. Tentu saja semua mata yang ada di tempat itu mengalihkan pandangan mereka kearah Wong Mo Gei.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2