Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Pukulan Tapak Dewa Api


__ADS_3

"Hei Lee Tang Yin. Kau hanya berani terhadap anak buahmu. Cobalah kau sendiri yang menghadapi Tuanku!" tiba-tiba Pertapa ular berkepala tiga dari belakang Wong Mo Gei dan ketiga teman-temannya mengeluarkan suara.


"Apa? Kenapa Kau seakan membela pemuda itu ular berkepala tiga?" tanya dalam keterkejutannya.


"Aku membela dia, itu urusanku, tapi aku tidak suka melihat manusia yang begitu pengecut," jawab pertapa ular dengan suara lantang semua pendekar yang menjadi pasukan khusus Lee Tang Yin tampak terdiam menatap ke arah ular berkepala tiga dan Wong Mo Gei.


"Ha ha ha...! Ular berkepala tiga. Aku tahu aku dan kau mempunyai perjanjian kerja sama di Pulau Larangan ini, tapi tidak di sangka kau malah bekerjasama dengan seorang anak muda yang baru datang di pulau ini ada apa gerangan sebenarnya?"


kata Lee Tang Yin setelah tertawa namun wajahnya tampak merautkan wajah serius.


"Jika aku ceritakan kau tidak akan percaya, manusia pengecut. Jika kau ingin mencoba kemampuan Tuan Wong Mo Gei cobalah sendiri, atau semua pasukanmu hanya akan menjadi mayat dan tengkorak penunggu ruangan istanamu ini!" jawab ular besar berkepala tiga itu.


"Ha ha ha...! Untuk apa aku menjadi raja di Pulau Larangan ini, jika aku harus turun tangan sendiri menghadapi anak bau kencur itu ular kepala tiga!" jawab Lee Tang Yin dengan pongahnya.


"Itu terserah padamu, Lee Tang Yin. Jangan menyesal jika anak buahmu hanya akan mati sia-sia!" jawab ular berkepala tiga lagi.


"Anak muda entah apa yang ada di dalam tubuh dan kekuatanmu tapi kau sudah berada di dalam istana Lee Tang Yin. Aku juga telah mendapat berita kau telah membunuh adikku satu-satunya, memang kuakui sifat Lee Tong memang terlalu sombong dan terlalu congkak kepandaian yang pas-pasan. Namun dia tidak menyadarinya dia hanya tahu kalau dia adikku. Walau aku tidak begitu menyukai adikku sendiri, namun nyawanya harus kau ganti dengan nyawamu!"


"Hei. Tuan Lee Tang Yin, sebenarnya yang membunuh adikmu bukanlah Wong Mo Gei tapi aku. Tapi aku membunuhnya karena Dia mengancam dan terlalu kejam kepada orang-orang yang lemah, aku tidak menyukai seorang pendekar yang berbuat semena-mena!" tiba-tiba Cek Pei yang berbicara dan berdiri di samping Wong Mo Mo Gei.


"Anak muda, siapa pun kalian? Kalian harus membayar semua yang telah kalian perbuat satu nyawa adikku harus kalian bayar dengan nyawa kalian berempat!" Lee Tang Yin lagi.


"Itu terserah padamu, Li tang Yin. Namun aku tetap pada pendirianku. Aku kesini hanya ingin tahu apa, dan siapa di balik dalang penculikan tujuh gadis perawan di kerajaan Yin dan Yang. Tapi jika kau memaksa kami harus bertarung, kami juga tidak akan mundur jawab Wong Mo Gei dengan begitu tenang.


"Kalian hanya berempat dan di bantu oleh ular berkepala tiga itu jangan sesali jika tulang-belulang kalian akan kami jadikan hiasan dinding istana ku, di bawah tanah ini," kata Lee Tang Yin lagi.


"Anak-anak. Habisi mereka!" perintah Lee Tang Yin tang, sekitar dua puluh orang pendekar yang berpakaian zirah emas melompat mengepung Wong Mo Gei dan teman-temannya.


Cek Pei, Wa Hua Wa, Sin Yin. Sebaiknya kalian mundur, biar aku yang yang menghadpinya, jika kalian berniat membantuku, sebaiknya kalian hunus pedang kalian. Karena jika kita hanya memakai pukulan tenaga dalam, zirah emas yang musuh kita pakai akan memantulkan efek dari pukulan tenaga dalam kita," kata Wong Mo Gei memperingatkan teman-temannya.


Tanpa menjawab lagi Cek Pei, Wa Hua Wa


dan Sin Yin menghunus pedang mereka, yang dari tadi masih tersampir di balik punggung mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya, kalian kembali ke pintu itu, jika kalian tidak ingin mati ditempat ini," kata salah seorang pendekar yang memakai topeng tengkorak berwarna hitam yang


dari tadi masih berdiri di depan Wong Mo Gei.


"Apa kematian temanmu, tadi tidak menjadi pelajaran bagimu, Pendekar," jawab Wong Mo Gei sengit.


"Mungkin aku seorang mampu kau kalahkan anak muda, tapi seperti yang kau lihat jumlah kami tidak kurang dari lima ratus orang yang ada di dalam ruangan ini. Lagian kekuatan dan kesaktian kami yang di lengkapi oleh batu permata merah dan batu permata biru sudah cukup untuk menjadikan tulang-belulang kalian sebagai hiasan dinding ruangan istana tuan Lee Tang Yin ini,"


Wong Mo Gei hanya tersenyum tipis, pemuda berbaju merah itu saja yang tidak menghunus pedangnya matanya menatap tajam kearah musuh-musuh yang sedang mengepung mereka.


"Serang!"


Teriak salah seorang dari dua puluh satu orang yang mengepung Wong Mo Gei dan teman-temannya, secepat kilat ke-dua puluh satu orang itu melesat menyerang.


Namun Wong Mo Gei dan kawan-kawannya, tidak tinggal diam. Keempat pendekar muda itu melesat menyongsong ke arah musuh-musuh yang menyerang mereka dari segala arah.


Sungguh di luar dugaan Lee Tang Yin, dalam beberapa gerakan saja ke-dua puluh satu orang itu sudah bergelimpangan berada di lantai, dengan tubuh mereka bersimbah darah terkena sabetan dan tebasan pedang keempat pendekar muda dari Negeri Delapan Mata Angin itu.


"Tidak mungkin. Kenapa mereka begitu hebat apa yang sebenarnya terjadi kenapa pasukan khusus ku, seakan tidak mempunyai kemampuan apa-apa di depan mereka," desis Lee Tang Yin dalam hati, melihat dua puluh satu orang teman mereka tergeletak di lantai.


"Habisi Mereka...! Jangan biarkan mereka hidup!" teriak Lee Tang Yin dari singgasananya. Mendengar perintah atasan mereka para pendekar yang berbaju zirah emas dengan tongkat pedang di tangan mereka, para pendekar itu melesat menyerang dengan sabetan dan tusukan tongkat pedang mereka. Dengan begitu Gesit Wong Mo Gei dan teman-temannya bergerak maju menyongsong serangan musuh-musuhnya itu.


Dalam beberapa jurus saja semua tongkat pedang yang berada di tangan para pendekar berpakaian zirah emas itu sudah bergeletakan di tanah, terbabat putus oleh pedang di tangan ke tiga pendekar itu.


Sedangkan yang berhadapan dengan Wong Mo Gei sudah bergelimpangan di tanah dengan mulut menyemburkan darah, kekuatan tenaga dalam mereka yang jika di bandingkan dengan seorang pendekar biasa kekuatan mereka sudah mencapai dua ratus persen. Namun di hadapan penguasa roh suci naga dan raja naga itu mereka tidak ada apa-apanya karena bantuan tenaga dari roh suci yang mereka miliki.


Wajah Lee Tang Yin semakin merah padam melihat anak buah yang di andalkannya dalam waktu singkat sudah sekitar tujuh puluh orang anak buahnya sudah hampir mengalami kekalahan. Sekitar tiga puluh orang pendekar berpakaian zirah besi Itu tampak terdiam karena pedang dan tongkat pedang mereka sudah putus-memutus bagai sebuah ranting di buat pedang para pendekar muda yang mereka kepung itu.


Walau mereka berjumlah sangat banyak, namun muncul keraguan didalam hati mereka. Apakah mereka akan sanggup mengalahkan empat pemuda di depan mereka itu, karena mereka menyerang dengan senjata saja mereka sudah mengalami kekalahan. Apalagi kini mereka tidak memakai senjata.


'Apa kalian tolol cepat gunakan pukulan kesaktian kalian? bentak Lee Tang Yin dari atas singgasananya lagi.


Mendengar perintah dari Lee Tang Yin yang ke-tiga puluh orang itu berjejer dan berbaris mereka membuat barisan sebanyak tiga baris, masing-masing barisan berjumlah sepuluh orang mereka menjajarkan tangan mereka sejajar dengan dada dan setiap sisi tubuh telapak tangan mereka saling menyatu dan setelah menyatukan telapak tangan mereka. Mereka tampaknya berniat menggabungkan tenaga mereka, kedua orang yang berada di depan sekali menegakkan tangannya ke atas.

__ADS_1


Cahaya merah mulai menyelubungi tubuh ke-tiga orang itu.


"Kalian mundurlah, biar aku yang akan menghadapi pukulan kesaktian orang-orang itu," kata Wong Mo Gei pada teman-temannya.


"Raja naga api, bantu aku," kata Wong Mo Gei dalam hati.


"Dengan senang hati, Tuanku," jawab raja naga api dari dalam raga Wong Mo Gei. Wong Mo Gei merapatkan telapak tangannya di depan dada, seketika cahaya merah menyelubungi tubuh pendekar muda itu. Tidak lama kemudian cahaya merah itu berubah menjadi sesosok tubuh yang sedang duduk bersama dengan telapak tangan teracung ke depan.


"Apa bukankah itu pukulan 'Tapak Dewa Api," desis Lee Tang Yin yang tampaknya mengenali pukulan yang digunakan oleh Wong Mo Gei.


"Dari mana pemuda ini mendapatkan pukulan sakti itu, Jika manusia biasa pemuda itu tidak akan mampu untuk menggunakan sebuah pukulan yang memakai tenaga dalam yang begitu besar! Apakah dia titisan dewa?" desis Lee Tang Yin dalam hati.


Ada keraguan dalam hati penguasa Pulau Larangan dan istana bawah tanah itu, namun ia tidak mungkin mencegah ke tiga puluh orang anak buahnya yang menggunakan sebuah pukulan yang bernama pukulan 'Tapak Iblis Neraka'.


Namun tidak ada seorang pun di dalam istana bawah tanah ini yang mampu memakai jurus itu Kecuali mereka menyatukan tenaga dalam mereka, seperti saat ini. Namun yang sangat dikejutkan adalah Lee Tang Yin ketika melihat ilmu pukulan yang di gunakan oleh Wong Mo Gei sungguh diluar dugaannya.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Dan Votenya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2