
Wong Mo Gei, Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin bergerak di belakang pertapa ular berkepala tiga itu menyusuri Labirin Kematian, beberapa makhluk dedemit
yang berada di dalam labirin itu melihat
Wong Mo Gei dan Cek Pei dan bersama kedua gadis cantik di belakang mereka
di tuntun oleh pertapa ular berkepala tiga di depan mereka, tidak ada satu pun dari para siluman itu yang berani menghadang perjalanan ke empat pendekar muda itu, menyusuri Labirin Kematian itu.
Beberapa kali perangkap datang menghadang, namun selalu di hancurkan oleh ular berkepala tiga itu baik batu besar dengan api di hancurkan dengan sekali kibasan ekornya. Ratusan anak panah yang terbang ke arah mereka di halangi dengan semburan api dari mulut satu dari tiga kepala pertapan ular itu.
Tidak lama setelah melalui beberapa kali kuda ruang labirin itu ular berkepala tiga sampai di depan sebuah pintu yang berwarna kuning ke emasan dengan di depannya terdapat lambang seorang prajurit iblis dengan pakaian zirah.
"Tuanku, ini adalah pintu menuju tempat
Lee Tang-Yin berada. Apakah hamba harus turun tangan? ke dalam sana," tanya pertapa ular itu.
"Sekarang terserah padamu pertapa ular kami sudah cukup berterima kasih, karena kau sudah mau mengantarkan kami sejauh ini," ucap Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Tuanku raja naga api adalah raja sekalian naga yang ada di langit dan di bumi ini, raja naga saja menghormati, Tuan. Apa lagi saya, raja naga sudah menjadi abdi, Tuan. Hamba juga adalah abdi, Tuan," jawab pertapa ular, "Dari bangsa ular, hamba adalah rajanya maka sekarang hamba akan mengikuti semua perintah, Tuan," kata raja ular lagi.
"Pertapa ular, bukankah kau sudah menjadi raja ular, Kenapa kau ingin menjadi seekor naga?" tanya Wong Mo Gei penasaran.
"Tuanku, menjadi naga adalah cita-cita seluruh seluruh ular yang ada di muka bumi ini, menjadi naga bagi seekor ular adalah bagaikan seorang manusia yang bisa menjadi dewa. Begitulah di dalam bangsa ular," jawab pertapa ular.
"Sekarang di balik dinding ini ada sekitar lima ratus orang pasukan pilihan Lee Tang Yin, jika Tuan Wong Mo Gei ingin hamba menghadapi mereka. Hamba akan menghadapi mereka untuk, Tuan," kata bertapa ular.
Pertapa ular, jika semua urusan yang ada di sini kami serahkan padamu, maka kami tidak memiliki tantangan lagi. Aku ingin kau berada di belakang kami, jika kami mengalami kekalahan maka aku harap kau siap untuk membantu kami," kata Wong Mo Gei.
"Segala titah Tuanku, akan hamba taati," jawab pertapa ular lagi.
__ADS_1
Setelah berkata tanpa basa-basi lagi Wong Mo Gei bersama Cek Pei Wa Hua Wa dan Sin Yin segera membuka pintu yang terbuat dari emas itu.
Begitu mereka membuka pintu, ratusan prajurit pilihan Lee Tang Yin tampak menatap ke arah Wong Mo Gei.
"Ha ha ha....! Sungguh diluar dugaanku, anak muda. Kau sanggup sejauh ini sampai ke dalam ruangan tempatku ini!" terdengar suara menggema yang tidak lain suara itu adalah suara Lee Tang Yin itu sendiri.
Wus!
Tidak lama kemudian angin semilir tiba-tiba berhembus kencang, begitu angin itu berhenti Lee Tang Yin sudah berada tidak jauh di depan Wong Mo Gei dan ketika teman-temannya. Namun Lee Tang Yin yang cukup terkejut melihat ular besar berkepala tiga tampak berada di belakang di Wong Mo Gei. Lee Tang Yin yang tidak mengetahui jika pertapa ular adalah makhluk yang menganntar Wong Mo Gei dan teman-temannya sampai ke ruangannya itu.
"Anak muda. Coba kau lihat di belakang.
Apa yang menanti di belakangmu dan apa yang akan menanti kalian di depan, sekarang kalian boleh pilih, mundur menjadi makanan ular kepala tiga dibelakang kalian atau maju menghadapi lima ratus orang lebih pasukan khusus yang telah melalui semua rintangan dari pagoda kematian sampai tiga ruangan utama untuk mencapai istanaku ini," kata Lee Tang Yin dengan Sombongnya.
Wong Mo Gei dan Cek Pei hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Lee Tang Yin itu.
"Tuan, Lee Tang Yin. Sebenarnya kami ke sini tidak untuk bertarung dengan siapa pun kami hanya ingin bertanya padamu. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dibalik penculikan tujuh orang gadis perawan dari Negeri delapan mata angin, khususnya dari kerajaan Yin dan Yang?" tanya Wong Mo Gei.
Di depan sana tampak sebuah singgasana yang terbuat dari emas dan di hiasi oleh batu permata biru dan batu merah di samping singgasana Lee Tang Yin itu terdapat di sebelah kirinya tumpukan batu merah yang begitu banyak yang di letakkan di dalam kotak, kotak kayu yang terpatri begitu rapi. Di sebelah kanannya terdapat kotak yang berisi batu permata biru yang begitu banyak.
Wong Mo Gei tampak begitu tenang melangkah ke depan baru saja sekitar tiga langkah Wong Mo Gei maju, dua orang pendekar dengan wajah di tutupi tengkorak berwarna hitam dan di punggung mereka terdapat dua buah pedang panjang seperti semurai. dua orang itu memakai baju zirah besi dari emas.
"Anak muda, kau harus melewati kami berdua dulu agar bisa mencapai singgasana emas di depan sana," kata salah seorang pendekar berzira emas di dWong Mo Gei itu.
Sebenarnya, aku tidak ingin menyakiti siapa pun tapi jika kalian memaksaku, Silahkan. Jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa pada diri kalian," kata Wong Mo Gei begitu tenang.
"Bangsat! Mentang-mentang kau sudah bisa lolos dari Labirin Kematian kau bisa berkata sombong di depan kami anak muda!" bentak salah seorang pendekar yang menghadang Wong Mo Gei itu, setelah membentak salah seorang laki-laki dengan topeng tengkorak hitam dengan baju zirah emas itu dengan begitu cepat bagaikan kilat melesat ke arah Wong Mo Gei. Namun pukulan kepalan tinju laki-laki itu tiba-tiba saja sudah berada di dalam genggaman telapak tangan kiri Wong Mo Gei.
"Apa, dia berhasil menghentikan serangan ku?" sentak laki-laki itu terkejut dan tidak menyangka jika pukulannya yang sudah ia rasa begitu cepat bisa dihentikan Wong Mo Gei dengan begitu santai, belum hilang keterkejutannya. Kepalan tangan kanan Wong Mo Gei sudah tepat menghantam perutnya.
__ADS_1
Laki-laki berpakaian zirah emas itu terkesiap tanpa sadar tahu-tahu tubuhnya sudah terpental jauh sehingga jatuh ke depan singgasana Lee Tang Yin. Begitu laki-laki Itu berusaha bangun, darah segar menyembur dari mulutnya. Lee Tang Yin dari tadi tampak tertawa Bangga kini jadi terdiam dan terkejut. Wajahnya yang tadi cerah ini berubah merah padam.
Set!
Tiba-tiba saja Lee Tang Yin melemparkan sebuah pisau tipis berwarna merah kehitaman ke arah laki-laki ya dikalahkan Wong Mo Gei itu, pisau itu langsung menancap di punggung laki-laki itu menembus zirah besinya.
Beberapa saat tubuh laki-laki itu bergetar tidak lama kemudian laki-laki itu menjerit sambil memegang wajahnya dan tidak lama kemudian tubuhnya meledak bagai terkena sebuah peledak.
Buuaaarrr....!!
Bau busuk amis keluar dari tubuh laki-laki yang hancur berantakan itu.
"Dasar tidak berguna mengalahkan seorang anak ingusan saja kau tidak mampu. Apa gunanya kau ku berikan kekuatan batu merah dan Batu Permata biru!" geram Lee Tang Yin.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.