
Sebuah gelombang asap tiba-tiba keluar dari tubuh Wong Mo Gei, semua mata terpana melihat asap putih itu.
Tidak lama kemudian sebuah cahaya merah menyala melesat dan langsung menjelma menjadi seekor naga raksasa.
Roh suci raja naga api langsung menjelma menjadi seekor naga raksasa yang langsung menyerang para prajurit iblis yang begitu banyak, para prajurit dan para pendekar yang ada di tempat itu tampak tertegun memandangi naga raksasa yang langsung menyemburkan api membuat pasukan iblis banyak yang terpanggang.
Serangan naga raksasa itu membuat para pendekar termasuk Wa Hua Wa, Cek Pei dan Sin Yin yang baru datang menjadi menganggur karena tidak kebagian musuh beberapa orang prajurit yang sudah terlanjur maju tampak mundur ke arah barisan belakang, mereka takut terkena serangan semburan api sang raja naga api.
Tidak butuh waktu lama serangan pasukan iblis yang tadi bagaikan air mengalir kini tampak terhenti pasukan iblis yang tadinya berjumlah sangat banyak ini tampak bergelimpangan bagai ikan yang sudah dipanggang, tentu saja keadaan ini membuat para prajurit kerajaan Delapan Mata Angin bersorak gembira karena kemenangan saat itu jelas-jelas berada di pihak mereka. Tanpa adanya korban di pihak pasukan kerajaan dan para pendekar.
Roh suci yang lain hanya tertegun memandangi keadaan itu melalui mata tuan mereka termasuk naga air, Cek Pei.
"Tampaknya kita tidak usah turun tangan tuanku," kata roh suci naga air dari dalam kepada tuannya.
"Kau benar sepertinya roh suci raja naga api tidak memerlukan bantuan kita pasukan iblis yang datang telah berhasil ia kalahkan dengan semburan apinya yang begitu dahsyat," puji Cek Pei.
__ADS_1
Setelah serangan itu di ufuk Barat terlihat Matahari mulai turun. Sore telah menjelang, Tian Shan memutuskan mengajak Wong Mo Gei dan yang lainnya untuk istirahat di wilayah sekte batu itu.
"Cek Pei," sapa Wong Mo Gei pada sahabat sekaligus sepupunya tersebut.
"Kau tahu aku mencemaskanmu aku mencoba menghubungi mu tapi tidak bisa hanya roh Suci raja naga api yang bisa merasakan kekuatan kalian masih ada," kata Wong Mo Gei.
"Maaf, Mo Gei. Ssebenarnya aku berniat menyusul mu Aku tidak menyangka jika iblis kilat itu membuat pintu dimensi ke arah tempat lain," sahut Cek Pei sambil tersenyum.
"Aku senang kau kembali dalam keadaan baik-baik saja," ucap Wong Mo Gei.
Wong Mo Gei yang merasa gembira tanpa sungkan-sungkan memeluk sahabat kecilnya tersebut.
Shin Yuan Ma ibunya Wong Mo Gei tampak juga ikut menemui sang keponakan Begitu juga dengan Zhang Shin Ming.
"Kami mencemaskanmu, Cek Pei," kata Shin Yuan Ma.
__ADS_1
"Maafkan Cek Pei, Bibi. Saya tidak berniat membuat kalian cemas saat itu. Saya hanya berniat menyusul Wong Mo Gei, tapi ternyata pintu dimensi yang dibuat oleh iblis kilat ternyata menuju tempat lain," jelas Cek Pei.
"Iya tidak apa-apa, kami senang kau baik-baik saja anakku," tambah Zhang Shin Ming.
Sementara iblis kilat tampak duduk tidak jauh di antara mereka.
Bagaimana Cek Pei, kau bisa membuat salah satu dari Tujuh iblis Perut Bumi itu tunduk padamu?" tanya Zhang Shin Ming.
"Sebenarnya saya berniat untuk membunuh iblis kilah itu, Paman. Tapi ia menyerahkan diri, sebagai seorang ksatria tidak baik kita membunuh musuh yang telah menyerah," jelas cek Pei lagi.
"Ya Sebagai seorang ksatria dan pendekar yang baik tentu saja kita tidak boleh membunuh musuh yang telah menyerahkan diri," kata Wong Mo Gei moge lagi sambil tertawa menghampiri Cek Pei.
Sementara Tian Shan telah menyiapkan makan malam untuk para prajurit dan para pendekar yang ada disana termasuk para pendekar dari Pulau Larangan.
Para pendekar dari Pulau Larangan tampak menemui Wong Mo Gei . Mereka pun mengadakan rapat malam itu di tenda besar untuk merencanakan apa yang akan mereka lakukan esok hari apakah bertahan di tempat ini atau mengadakan serangan ke tempat selanjutnya?
__ADS_1
.
Bersambung....