
Pendekar Rambut Api melompat ke atas panggung kembali ke depan Wong Mo Gei,
namun yang di lakukan Pendekar Rambut Api diluar dugaan para pendekar yang ada di ruangan itu.
Laki-laki berpakaian serba merah berambut merah itu tiba-tiba berlutut di depan Wong Mo Gei.
"Anak muda, kau memang seorang pendekar pilihan. Aku tidak menyangka kau mampu mengalahkanku dalam beberapa jurus, sungguh diluar dugaanku, anak muda. Selamat kau berhasil melewati ruangan ketiga ini. Namun berhati-hatilah karena Labirin Kematian yang akan menantimu,"
kata Pendekar Rambut Api sambil menunduk dengan kedua tangan memberi hormat kepada Wong Mo Gei.
"Terima kasih, Tuan Pendekar. Tidak usah terlalu sungkan kepada saya yang muda ini," ucap Wong Mo Gei sambil tersenyum, pemuda itu memegang bahu Pendekar rambut api dan mengajaknya berdiri.
Semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Cek Pei dan ketiga temannya, nampak terbelalak ternganga setengah tidak percaya apa yang mereka lihat di depan mata. Sungguh di luar dugaan dan sungguh tidak disangka-sangka, di dalam pikiran mereka jika orang nomor satu yang selama ini mampu mengalahkan puluhan orang kini hanya dalam beberapa saat harus mengaku kalah di hadapan seorang pemuda yang begitu belia.
"Apa yang sebenarnya terjadi," desis salah seorang pendekar yang ada di sana.
"Siapa sebenarnya pemuda itu apakah kekuatannya setingkat dengan kekuatan Dewa?" laki-laki itu seakan bertanya pada dirinya sendiri melihat dan menatap ke arah Wong Mo Gei yang tampak begitu muda, namun mempunyai kekuatan yang tidak disangka-sangka oleh mereka.
Kini perjalanan mereka harus berlanjut setelah melewati ruangan ketiga Wong Mo Gei harus berjalan sendiri bersama ketiga temannya karena peraturan di istana bawah tanah ini pendamping hanya bisa mengeluh mengantar sampai ke ruang ke tujuh.
Singa Merah merah hanya bisa mengantar ke empat pendekar dari negeri delapan mata angin itu sampai ke ruang ke-tujuh selanjutnya untuk menghadapi dan menembus labirin kematian Wong Mo Gei dan teman-temannya harus berusaha sendiri.
"Mo Gei," kata Singa Merah, "Peraturan yang ada disini membatasi, aku hanya bisa mengantarmu sampai di ujung ruangan ke-tujuh ini, jika kau berhasil melewati labirin ini maka aku akan mengantar bersama Pendekar Rambut Api menuju ruangan terakhir yang di tempati oleh pasukan khusus yang mengelilingi Lee Tang Yin," kata Singa Merah yang tampak berat hati melepas Wong Mo Gei. Namun semua itu ia lakukan karena itu adalah peraturan.
"Pendekar muda," kata Sam Cong Tieng yang juga berada di sana, "Berhati-hatilah, karena makhluk yang menunggu labirin ini sudah kelaparan mungkin sudah ada tiga bulan tidak ada pendekar yang masuk ke dalam labirin ini karena tidak ada pendekar yang sanggup mengalahkan Arsham dalam tiga bulan terakhir ini," kata Sam Cong Tieng.
"Baiklah, Tuan-tuan. Terima kasih atas bantuan dan dampingan kalian sampai ke ujung ruangan ini. Kami berempat akan menyusuri labirin yang kalian sebut dengan nama Labirin Kematian ini, jika sampai waktu yang kalian tentukan kami tidak muncul kembali dan tidak memberi tanda bahwa kami berhasil. Maka kami harap kalian bisa mengirim kabar kepada Kerajaan Yin dan Yang, bahwa kami sudah tidak ada lagi di dunia ini," kata Wong Mo Gei.
"Anak muda, melihat kedikjayaan dan kekuatan yang kau miliki. Kesaktianmu dengan pedang Naga Kahyangan itu.
Kami yakin kau akan sanggup menghadapi apapun yang ada di dalam Labirin Kematian ini," kata Arsham memberi semangat kepada Wong Mo Gei.
"Mo Gei, sebaiknya kita mempercepat perjalanan kita jangan sampai kita terlambat untuk kembali ke negeri Yin dan Yang," desak Cek Pei.
__ADS_1
"Tampaknya yang sibuk dengan pertarungan adalah Mo Gei, tapi kenapa kau yang malah tidak sabaran Cek Pei," sela Wa Hua Wa
"Tidak sebenarnya aku t sabar dan tidak tergesa-gesa, cuma jujur aku sendiri ragu apa kita sanggup untuk melalui Labirin Kematian ini? Jika kita tepat melewati jalan yang benar, maka kita tidak akan bertemu dengan makhluk itu. Tapi bila kita salah menuju lorong maka makhluk yang sangat mengerikan seperti yang di ceritakan para pendekar ini akan menunggu dan siap melahap," kita jawab Cek Pei.
"Baiklah, sebaiknya kita teruskan perjalanan kita," kata Wong Mo Gei sambil tersenyum.
"Ayo! Cek Pei, Wa Hua Wa, Sin Yin," ajak Wong Mo Gei seraya berjalan memasuki pintu labirin yang ada di depannya. Wong Mo Gei memilih sebuah pintu yang berada di tengah-tengah tentang apa yang akan menunggu mereka di depan sana mereka tidak tahu? Tapi sebagai seorang pendekar yang sudah sejauh ini tidak mungkin mundur, mereka memutuskan berhasil
mencapai keinginan mereka atau mati sebagai pejuang di tempat ini.
Baru beberapa langkah mereka memasuki Labirin Kematian dari depan mereka tiba-tiba menggelinding sebuah batu besar yang terbakar dan tersiram minyak dengan api yang menyala-nyala, ke empat pendekar muda itu berniat kembali ke arah ke belakang, namun tiba-tiba dari arah belakang mereka.
Bruuumm..!
Dinding batu bergerak menutup lantai dan dinding bagai sebuah pintu.
"Kita harus bagaimana, Mo Gei?" tanya Wa Hua Wa dan Sin Yin hampir berbarengan.
kedua gadis Itu tampak agak ketakutan melihat batu besar yang pas-pasan di ujung lorong menggelinding ke arah mereka.
Begitu batu besar itu mendekat Wong Mo Gei melihat sebuah pintu di arah kanan mereka, yang pas-pasan untuk mereka berempat.
"Ayo bergerak ke arah kanan, di kanan kita ada sebuah pintu," kata Wong Mo Gei, tanpa banyak bicara lagi mereka ber-empat memasuki pintu itu, namun pintu itu tampak gelap gulita.
"Gelap, Mo Gei," kata Cek Pei.
"Itu lebih baik dari pada harus berhadapan dengan batu berlumur minyak dan api itu," jawab Wong Mo Gei, masih berusaha tetap tenang.
Begitu mereka berjalan beberapa langkah di dalam pintu yang mereka lewati itu terdengar suara ledakan menggelegar, suara batu menghantam dinding batu yang menghalangi di belakang mereka tadi.
Anehnya begitu mereka berjalan entah dari mana tiba-tiba di dalam lorong labirin itu, semua obor-obor yang ada di sana tiba-tiba menyala bagaikan sebuah obor otomatis.
"Apa yang terjadi kenapa obor-obor itu bisa hidup sendiri?" desis Wa Hua Wa setengah berbisik, bakai bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya. Apakah ruangan ini di lengkapi dengan sihir? Begitu lantainya kita injak, semua obor-obornya bisa menyala dengan sendiri
kata Sin Yin sambil menatap tajam ke arah setiap sudut, atas, bawah dan sebelah kanan dan kiri mereka.
Sin Yin yang tampak agak takut dengan suasana di dalam labirin itu memilih berada ada di belakang Cek Pei, tanpa sadar gadis itu menggenggam erat telapak tangan kiri Cek Pei.
Melihat Sin Yin yang bersembunyi di belakang Cek Pei, Wa Hua Wa bergerak ke belakang Wong Mo Gei.
"Mo Gei, aku takut,"desis Wa Hua Wa setengah berbisik.
"Jika kau takut, tetaplah berada di belakangku" jawab Wong Mo Gei menenangkan teman kecilnya itu.
Tanpa menunggu lagi Wa Hua Wa berjalan di belakang Wong Mo Gei dengan tangan kanannya meraih dan menggenggam telapak tangan kiri Wong Mo Gei.
Sekitar lima puluh meter atau sekitar dua puluh lima tombak mereka berjalan, tiba-tiba dari depan mereka meluncur sekitar dua puluh batang tombak yang menderu cepat mengincar tubuh mereka. Namun kali ini cercaan tombak itu cepat mereka tanggapi dengan menghunus pedang yang ada di punggung mereka dalam, sekejap semua tombak yang meluncur ke arah mereka berjatuhan ke tanah.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Dan Votenya teman-teman.
Terima kasih banyak.