Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Mengaku Kalah


__ADS_3

"Ayo Mo Gei, perlihatkan kelinci yang ada di dalam tubuhmu itu pada Maharaja dan semua orang yang ada di sini! Atau kau malu memperlihatkan kelincimu pada semua orang hah..!" teriak Pok Cai sambil tertawa meledek Wong Mo Gei.


Sementara itu para penduduk dan prajurit yang jadi penonton tampak terdiam melihat respon Wong Mo Gei yang hanya tersenyum tipis menyungging. Tian Shin Lau berdiri di samping pagar pembatas gelanggang itu.


Zhang Shin Ming tampak menatap tajam ke arah tengah gelanggang dengan wajah cemas, begitu pun dengan Shin Yuan Ma tampak menggenggam erat tangan suaminya untuk mengurangi rasa cemas yang mendera hatinya.


"Ayo Mo Gei! Perlihatkan pada dunia, siapa Wong Mo Gei yang sebenarnya!" teriak Wa Hua Wa dari tengah penonton sambil melambaikan tangannya. Cek Pei mau pun Tan Lung Xian bersama kedua temannya hanya tersenyum memandang ke arah Wong Mo Gei.


Wong Mo Gei hanya mengangguk mendengar teriakan Wa Hua Wa tersebut. Wong Mo Gei menyempatkan diri menoleh kearah sepupunya dan teman kecilnya yang ia sukai Wa Hua Wa.


"Tuanku, Tuan tidak usah melakukan semedi untuk mengumpulkan tenaga, cukup sebelah tangan saja, Tuan bisa memanggil hamba keluar, tenaga hamba begitu penuh sekarang," kata raja naga api dari dalam.


"Baiklah...," jawab Wong Mo Gei singkat membathin.


Setelah mengedarkan pandangan kearah kedua orang tuanya. Wong Mo Gei perlahan mengangkat telapak tangannya sebatas perut. Telapak tangan Wong Mo Gei mencengkeram menghadap keatas membentuk seperti cakar.


Tiba-tiba cahaya merah mulai berkumpul di atas telapak tangan kanan Wong Mo Gei. Tidak lama kemudian cahaya merah itu membentuk bulatan bagai sebuah bola cahaya, perlahan cahaya merah itu mulai membesar.


"Cahaya merah, bukankah cahaya kekuatan roh suci Mo Gei berwarna hitam putih saat pembangkitan roh suci tiga tahun yang lalu," guman Tian Shin Lau dalam hati melihat cahaya kekuatan Wong Mo Gei berwarna merah menyala itu.


Perlahan cahaya merah itu mulai mengambang, tiba-tiba cahaya merah itu lenyap menghilang dari atas telapak tangan kanan Wong Mo Gei.


"Huuu......!!!!" sorak para penonton melihat bola cahaya di tangan Wong Mo Gei tiba-tiba sirna.


"Hooaaarrr....!!"


Tiba-tiba sebuah cahaya membentuk di atas kepala Wong Mo Gei sambil terdengar auman naga menggelegar.

__ADS_1


"Haaaaa.......!!!" semua orang yang ada di tempat itu ternganga melihat seekor naga berwarna hitam kehijauan yang begitu besar mengambang di atas kepala Wong Mo Gei berjarak sekitar tiga tombak di atasnya.


"Roh suci raja naga api?! tanpa sadar Tian Shan menyebut nama roh suci yang muncul di atas tempat Wong Mo Gei berdiri itu. Maharaja Cong Ming pun tampak terkesima melihat roh raja naga yang selama ini hanya legenda di dalam tujuh sekte.


"Ho ho ho...! Tuanku, kenapa semua orang terdiam melihat hamba menampakkan diri? Apa hamba begitu menakutkan Tuanku?" tanya raja naga api sambil terbang berputar di atas tempat Wong Mo Gei berdiri.


"Roh suci raja naga api!" terdengar bergetar dan agak terbata suara Tian Shin Lau sambil memandang kearah raja naga api yang terbang berputar-putar di atas kepala Wong Mo Gei. Tian Shin Lau tampak tersurut mundur melihat roh suci keponakannya itu.


"Roh suci putra kita raja naga api suamiku, roh suci legendaris yang di katakan orang sebagai roh suci tidak terkalahkan," kata Shin Yuan Ma, wajah wanita cantik berumur sekitar empat puluh tahunan itu tampak berbinar kesenangan.


"Jadi itu kejutan yang di katakan Mo Gei tadi istriku," timpal Zhang Shin Ming sambil tertawa senang, "Putra kita memang membuat kita bangga!" tambah Zhang Shin Ming sambil memeluk Shin Yuan Ma dari samping. Shin Yuan Ma mengannguk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Haumm....! Maafkan aku raja naga api, aku mengaku kalah padamu," ucap roh suci beruang api sambil menekuk kakinya kebawah, beruang besar itu pun duduk di lantai di samping Pok Cai. Sedangkan Pok Cai tampak diam seribu bahasa tanpa mampu berkata apa-apa.


"Pok Cai, apa kau menerima roh sucimu mengaku kalah pada roh suci naga api?" tanya Tian Shin Lau.


"Maksudmu?"


"Aku sudah terlalu besar kepala, memandang rendah Wong Mo Gei karna roh sucinya kelinci, tapi kenyataan yang aku lihat hari ini adalah... Mo Gei mempunyai roh suci terkuat yang pernah ada," lanjut Pok Cai terdengar lemah.


"Jadi, apa keputusanmu?"


"Aku...," kata Pok Cai sambil berjalan pelan kearah Wong Mo Gei. Tiba-tiba Pok Cai langsung berlutut di depan Wong Mo Gei.


"Hei..! Apa yang kau lakukan? Ayo berdiri," kata Wong Mo Gei langsung memegang bahu Pok Cai dan mengajaknya berdiri.


"Tidak Mo Gei, aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkanku," ucap Pok Cai sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan wajah.

__ADS_1


"Kita di sini sebagai lawan dalam kompetisi, bukan lawan pertarungan yang sebenarnya. Bukankah tujuh sekte adalah sebuah aliansi di Kerajaan delapan mata angin Yin dan Yang ini, jadi aku tidak mempunyai dendam padamu, sekarang bangunlah..," pinta Wong Mo Gei lagi. Pok Cai baru beringsut berdiri.


"Jadi kau memaafkanku, Mo Gei?"


"Tentu saja kawan, aku bukanlah orang yang pendendam, kedua orang tuaku selalu memgajarkanku, janganlah mempunyai sipat dendam pada siapa pun, melawan musuh jangan memakai dendam, karena dendam akan membawa kita pada kehancuran, itu yang selalu di katakan orang tuaku," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.


"Terima kasih Mo Gei, Kau memang seorang pendekar yang berhati mulia," puji Pok Cai.


"Jangan terlalu di besarkan, ia kan raja naga?"


"Ho ho ho....! Tuanku, Tuan memang seorang manusia berhati emas, wajar kalau kelinci bulan memilih Tuan sebagai majikan kami," jawab raja naga api sambil melayang turun dan melingkari Wong Mo Gei dan Pok Cai.


"Haaauuuummm....!! Raja naga api, kenapa kau muncul di bumi? Bukankah tempat tinggalnya di kayangan?" tanya roh suci beruang api.


"Lima ratus tahun yang lalu aku bersama roh suci kelinci mendampingi pedang naga kayangan, aku sudah tidur selama lima ratus tahun di bumi ini beruang hitam," jawab raja naga api.


"Apa kau mau merekrut kembali semua pasukan nagamu yang bersebaran di bumi ini?"


"Ho ho ho...! Beruang api, mereka sudah punya majikan masing-masing. Jadi biarkan mereka hidup bebas bersama majikan mereka," jawab raja naga api, "Beruang api, sebaiknya kita lanjutkan pertarungan kompetisi ini, bukankah para penduduk datang kesini mau menyaksikan pertandingan antara para pendekar dan roh suci, jika hanya seperti ini mereka akan kecewa," tambah raja naga api lagi.


"Apa kau mau memanggangku jadi beruang bakar hari ini raja naga?"


"Ho ho ho... Beruang api, apa aku bisa memanggang mu di depan tuanku, tuanku sudah mengatakan, kita bukan musuh, namun hanya menjadi lawan di atas panggung gelanggang ini," jawab raja naga api sambil tertawa.


Semua mata yang ada di alun-alun istana Yin dan Yang itu menatap penuh tanda tanya kearah raja naga api dan beruang api yang saling berbicara. Sedangkan selama ini mereka belum pernah melihat roh suci siapa pun berbicara.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2