
Sementara Itu Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa yang sedang berada di kerajaan Nirvana dan sedang berhadapan dengan pasukan iblis serigala yang dipimpin oleh iblis serigala merah.
Tampaknya Iblis serigala itu tidak begitu mengerti dan tidak mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka hadapi? Namun segelintir iblis berwarna merah itu tampaknya mengerti senjata di tangan Wong Mo Gei itu adalah senjata yang cukup berbahaya untuk mereka.
"Majulah kalian, semakin cepat kalian maju. Maka semakin cepat kalian punah dari dunia ini!" geram Wa Hua WA sembari mengunus pedang baja hitam dari balik punggungnya.
( Rrrrr......... Aumm..... )
Terdengar auman pelan para iblis serigala itu sambil berjalan membuat kepungan ke arah Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa.
Auummm.......!!!
Lolongan serigala bertubuh besar dan memiliki bulu berwarna merah seakan memberi perintah pada puluhan srigala bertubuh tinggi di bawah satu tombak itu.
Puluhan serigala itu langsung berlari kencang dan berlompatan menerkam ke arah Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa.
"Hiyaaa....!" Wa Hua WA melesat menyongsong terkaman para iblis srigala dalam wujud srigala yang tidak biasa itu.
Srass! Srass! Srass!
"Aaing......!"
[Daarr]. [Blaass]
Tubuh iblis serigala yang terkena sabetan dan tebasan pedang di tangan Wa Hua Wa langsung meledak dan berubah jadi abu yang berterbangan.
"Hup!"
Dess! Dess! Dess!
Srass! Srass! Srass!
Wong Mo Gei pun telah melesat dengan begitu cepat, pukulan dan tendangannya membuat para iblis srigala itu bermentalan ke segala arah. Di tambah pedang naga kayangan yang begitu cepat menebas dan menusuk ke arah para iblis dalam wujud serigala itu. Para iblis yang mati langsung berubah jadi abu dan menghilang.
"Mo Gei, para iblis ini tidak seperti iblis yang kita hadapi di negeri Delapan Mata Angin? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya WA Hua WA kebingungan.
"Musuh yang kita hadapi ini adalah jenis siluman, jadi mereka jika tewas akan kembali atau sirna dari dunia ini," jawab Wong Mo Gei.
__ADS_1
Para iblis serigala itu tampak mulai ragu melihat teman-temannya tewas dalam sekali serangan oleh Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa begitu banyak.
"Aauuung..........!"
Serigala besar dengan tubuh berwarna merah itu melolong tinggi seakan memberi perintah pada anak buah mereka. Mendengar lolongan serigala besar itu, srigala hitam dengan tubuh lebih kecil bergerak menjauh dari kepungan.
"Haaarrk......! Haauuumm........!!"
Auman srigala merah itu menimbulkan hempasan angin ke arah Wa Hua Wa dan Wong Mo Gei, namun kedua pendekar muda penguasa roh suci itu tampak begitu tenang tak bergeming sedikit pun.
"Wa Hua Wa, kita habisi mereka. para serigala yang kecil itu akan kehilangan keberanian mereka," ujar Wong Mo Gei.
"H..., uh..!" jawab Wa Hua Wa sambil mengangguk melihat kearah Wong Mo Gei, setelah itu Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa melesat bagai kilat menyerang lebih dulu ke arah serigala merah dengan tinggi diameter tubuh sekitar dua tombak itu.
"Haaarrrgg.....!"
Para serigala raksasa berwarna merah itu tampak tidak tinggal diam, mereka mengadakan perlawanan. Gerakan mereka cukup cepat menerkam dan mencakar ke arah Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa.
Kecepatan gerakan Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa hampir tidak terlihat, tebasan kedua senjata pusaka kedua pendekar itu begitu cepat mengenai tubuh para srigala itu.
"Aaarrgggh.....!!"
"Uuukgh...!"
Para srigala bertubuh agak kecil tampak mengeram melihat atasan mereka mati dan menghilang menjadi debu. Tanpa pikir panjang lagi para serigala itu berputar arah dan melarikan diri, dalam waktu singkat tempat itu kini sunyi bagai tempat tidak berpenghuni.
"Kita harus mengejar mereka. Kita harus mendapat informasi dari iblis srigala itu," kata Wong Mo Gei seraya melesat ke arah para iblis serigala itu menghilang tadi.
Wa Hua Wa hanya menggeleng kepala melihat Wong Mo Gei melesat cepat, ia pun akhirnya melesat menyusul dari belakang.
.
*****************
Kerajaan Timur.
Cek Pei dan Sin Yin yang berniat membantu orang-orang di kerajaan ini menggali informasi dari para petinggi kerajaan yang masih hidup.
__ADS_1
"Jenis iblis apa yang menyerang tempat ini, Tuan Lau Feng?" tanya Cek Pei.
"Iblis yang menyerang tempat ini adalah iblis berjenis monyet hitam, Pendekar," jawab Lau Feng, "Yang membuat pasukan kami hancur mereka juga terlalu banyak, di tambah lagi pimpinan mereka adalah para gorila yang tubuhnya mencapai tiga tombak tingginya.
Para iblis gorila itu tahan terhadap api dan kebal dari senjata kami, tubuh mereka bagai karet yang tidak tergores dan terluka terkena pukulan dan serangan," jelas kepala prajurit Lau Feng.
"Pantas tempat kalian begitu hancur, rupanya di serang iblis raksasa," kata Sin Yin sembari menghela nafas panjang.
Tampak para pengungsi dari kalangan rakyat Kerajaan Timur banyak yang duduk melamun di tengah pengungsian.
Tempat ini adalah satu-satunya yang tersisa dan yang bisa mereka pertahankan dari pasukan iblis. Entah apa yang membuat para iblis tidak sanggup memasuki bekas benteng kuno itu.
Tempat ini adalah sebuah benteng yang mempunyai misteri bagi penduduk dan orang-orang Kerajaan timur. Tempat benteng ini pun di namakan Lembah Langit.
"Kenapa tempat ini di sebut benteng kuno Lembah Langit, Tuan?" Cek Pei bertanya sambil meneguk seloci air yang di hidangkan para prajurit bawahan Lau Feng.
"Kami pun sebenarnya belum jelas asal-usul tempat ini, Cek Pei. Tempat ini sudah ada semenjak dahulu, Ok legenda tempat kami menceritakan di tempat ini terdapat sebuah batu berkekuatan dahsyat yang bernama batu langit.
Namun, konon batu itu juga sanggup mengusir iblis yang kuat sekalipun. Selama ini tempat ini terbengkalai, namun saat kami mengalami kekalahan dan mundur dari serangan pasukan iblis. Saat kami memasuki Lembah Langit, para iblis itu mundur begitu memasuki daerah ini.
Seakan ada kekuatan yang mereka lihat dan membuat para iblis itu mundur," tutur kepala prajurit Lau Feng.
"Suatu misteri yang membuat penasaran? Jika di izinkan bolehkah kami melihat tempat legenda tentang batu langit itu, Tuan?" tanya Cek Pei.
"Baiklah, karena kalian adalah tamu di negeri ini. Kaisar pun meminta menjamu kalian dengan baik, aku akan mengantar kalian ke goa Lembah Langit," jawab Kepala Prajurit Lao Feng.
"Terima kasih, Tuan Lau Feng," ucap Cek Pei, "Sudah bersedia menyambut dan menerima kami di tempat ini," tambahnya lagi.
"Anggap saja sebagai balasan atas bantuan kalian," jawab Kepala Prajurit Lau Feng berusaha tersenyum. Cek Pei dan Sin Yin di antar oleh Kepala Prajurit Lau Feng ke goa Lembah Langit.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
Jika tidak keberatan tinggal kan jejak ya readers... Thanks...