
Wong Mo Gei hanya diam di atas panggung.
Beberapa saat tampak Beruang Hitam
menunduk sambil menyeka darah dengan belakang tangan kirinya.
Beruang Hitam menarik nafas panjang dan pelan-pelan melepaskannya.
"Ku akui baru kali ini ada seorang pendekar yang mampu membuat tongkat baja merahku patah menjadi dua, anak muda,"
kata Beruang Hitam mengakui kehebatan Wong Mo Gei.
perlahan beruang merah beruang hitam kembali menaiki gelanggang itu.
"Apakah kita masih mau melanjutkan beruang hitam?"tanya Wong Mo Gei.
"Tidak anak muda, aku sudah mengakui kekalahanku ini, padamu. Sungguh di luar dugaanku, kau sanggup mengalahkan aku dalam lima jurus pertama," puji Beruang Hitam.
Seseorang muncul dari belakang orang-orang yang berkumpul di bawah gelanggang itu.
Wajahnya tampan dengan baju hijau yang cukup indah pakaiannya rapi, sebuah pedang besar bertengger di bahunya.
Laki-laki tampan itu dengan sekali lompatan telah berada di samping Beruang Hitam.
"Salam kenal pendekar muda, aku Tang Liau Mie. Salah seorang pendekar yang telah mendapatkan separuh dari batu merah kekuasaan. Jujur umurku ini sudah mencapai lebih dari enam puluh tahun. Tapi karena kekuatan batu kekuasaan itu wajahku terlihat muda dan tubuhku, tetap tegap. Sekarang adalah giliranku untuk menantangmu," kata Tiang Liau Mie.
"Salam kenal, Tuan Tiang Liau, nama saya, Wong Mo Gei, Marga saya adalah Shin," kata Wong Mo Gei memperkenalkan diri
"Ha ha ha...., anak muda. Berapa umurmu?" tanya Tang Liau Mie lagi.
"Maafkan saya, Pendekar. Kalau kau bertanya umur, maka saya yang muda ini memanggilmu dengan panggilan Kakek. Umur saya baru sembilan belas tahun tahun memasuki tahun ke-dua puluh," jawab Wong Mo Gei.
"Ha ha ha... Sungguh diluar dugaan, para pendekar dari Pagoda Kematian sampai ke istana bawah tanah ini,
sudah hampir dua ruangan yang mampu kau taklukan," kata Tang Liau Mie lagi.
"Maafkan saya yang muda ini kakek. Bukan maksud hati menjajal kehebatan para pendekar yang ada di pulau larangan ini,
tapi sebuah tugas yang diberikan oleh kaisar Chong Ming, pada saya membuat saya harus menjajal dan menjajahi Pulau Larangan sampai sejauh ini," jawab Wong Mo Gei lagi.
"Kau tahu betapa kerasnya istana bawah tanah ini anak muda. Ku akui kau begitu hebat dapat mengalahkan Beruang Hitam dalam sekali serang," puji Tang Liau Mie lagi.
"Terima kasih. jika kakek berniat memuji
__ADS_1
atau kakek berniat untuk menghina saya yang muda ini," jawab Wong Mo Gei sopan.
"Ha ha ha...! Anak muda, yang tua ini tidak berniat untuk menghinamu. Namun aku berniat mengadu kekuatan dan mengadu kepandaian dengan pedang batu Hitamku ini
sudah lebih dari tiga puluh tahun menemaniku dalam dunia persilatan.
Aku mencoba menjajal Pulau Larangan ini, sebagai seorang pendekar di tengah-tengah para perompak yang hilir mudik menjual harta ke Pulau Larangan ini,"
Ayo, anak muda, kita mulai," tambah Tang Liau Mie lagi.
"Silakan kakek duluan. Tidak sopan seorang anak kecil semuda saya menyerang lebih dahulu," jawab Wong Mo Gei dengan begitu tenang.
bersiaplah anak muda," kata Tang Liau Mie seraya memasang kuda-kudanya.
"Bersiaplah, anak muda!" teriak Tang Liau Mie dengan lantang.
Wong Mo Gei berdiri begitu tenang menanti serangan pendekar Tang Liau Mie itu, begitu telapak tangan Tang Liau Mie hampir mengenai wajahnya. Wong Mo Gei segera bergerak begitu cepat tangan kanannya menapak secepat kilat menghalangi gerak tangan Tang Liau Mie itu.
Cepat Tang Liau Mie berputar di udara dan segera menyusulkan serangan dengan telapak tangan kirinya yang membentuk runcing bagaikan sebuah seekor kepala ular. Wong Mo Gei cepat menggeser kepalanya ke samping untuk menghindari serangan telapak tangan kiri Tang Liau Mie itu. Tang Liau Mie kembali bergerak cepat setelah berputar di udara, dengan begitu cepat ia langsung berusaha menyarangkan sebuah tendangan ke arah dada Wong Mo Gei. Namun dengan begitu Sigap putra Zhang Shin Ming itu menggeser siku kirinya menghalangi tendangan Tang Liau Mie itu.
Tap!
Tap!
Wong Mo Gei hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Tang Liau Mie itu. Tanpa di ketahui oleh Tang Liau Mie pendekar muda dari Sekte Api itu telah mempersiapkan diri dengan ilmu perisai naga dan ilmu tapak kayangan yang ia pelajari dari kitab pedang Kayangan dan kitab naga Kayangan.
"Ayo tidak usah sungkan-sungkan jika kau terlalu sungkan. Saya juga tidak bisa menghadapi kakek dengan setengah hati," jawWong Mo Gei sambil tersenyum.
"He he.. Anak muda, kau memang seorang pendekar yang mempunyai jiwa yang besar. Aku yang tua ini jika masih mempunyai umur yang panjang, aku ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuamu. Aku harap aku masih punya kesempatan bertemu kedua orangtua seorang pendekar yang mempunyai jiwa yang begitu besar," puji Tang Liau Mie.
Tanpa mengendurkan tenaga dalamnya. Perlahan Tang Liau Mie mengalirkan hampir separuh tenaga dalamnya ke arah Kedua telapak tangannya. Tang Liau Mie berniat mengerahkan ilmi 'Tapak Besi Hitam.
Sebuah ilmu yang mampu menghancurkan batu sebesar gajah hanya dengan menggores dengan jari-jari yang memakai Ilmu Tapak Besi Hitam.
"Tuanku, hati-hatilah hamba melihat musuh Tuanku itu merapal sebuah ilmu yang bernama Ilmu Tapak Besi Hitam. Jangankan tubuh manusia terkena ilmu 'Tapak Besi Hitam. Sebuah batu sebesar gajah akan hancur hanya dengan jemarinya akan hancur berkeping-keping," kata raja naga api dari dalam dirinya Wong Mo Gei memperingatkan.
"Raja Naga kau sendiri yang telah memberi kan sebuah kitab yang didalamnya terdapat banyak ilmu kesaktian. Tapi sekarang kenapa kau meragukannya? tanya Wong Mo Gei pada raja naga.
"Tuanku hamba sebenarnya tidak meragukan ilmu yang ada di dalam dua kitab yang hamba berikan kepada Tuanku. Tapi hamba masih takut karena ini adalah pengalaman pertama, Tuanku. Berhadapan dengan para pendekar dunia persilatan apalagi saat ini kita berada disebuah Pulau yang paling menakutkan di beberapa Negeri termasuk di negeri delapan mata angin," jelas raja naga api.
"Baikkah, raja naga. Aku sudah mempersiapkan diri dengan tapak Kahyangan dan ilmu perisai naga Bukankah tenagaku dan tenagamu bersatu sehingga aku tidak perlu mencemaskan kekuatan tenaga lagi, bukan begitu raja naga?" batin Wong Mo Gei.
"Ha ha ha...! Maafkan hamba, Tuanku. Tuanku memang seorang pendekar yang sangat bijak. Tidak seharusnya hamba meragukan seorang pendekar yang dipilih oleh kelinci bulan," ucap raja naga api.
__ADS_1
"He he he.., raja naga api akhirnya kau mengakui Pilihanku bukan?" jawab kelinci bulan sambil menggeliat di dalam tubuh wong moge
"Aku menyangka kau sedang tidur, kelinci bulan!" seloroh raja naga api.
"Sudah-sudah. Kalian tidak usah bertengkar kalian tahu aku sedang berhadapan dengan seorang tokoh yang mempunyai kesaktian yang cukup tinggi!" batin Wong Mo Gei lagi.
Cahaya merah bersinar mulai menyelubungi tubuWong Mo Gei, telapak tangannya yang ia rapatkan di depan dada mulai mengeluarkan sinar cahaya putih, bak sebuah pelita di tengah kegelapan.
Cahaya di dalam ruang kedua di istana bawah tanah itu yang agak remang-remang kini berubah terang karena cahaya dari tubuh dan telapak tanWong Mo Gei yang merapat di depan dadanya.
"Anak muda itu memang hebat. Cahaya merah itu merupakan sebuah perisai yang belum tentu sanggup aku bobol dengan seluruh kekuatanku, tapi aku tidak boleh membuat dia kecewa dengan menyerah sebelum pertarungan. Anak ini memang seorang pendekar pilihan," batin Tang Liau Mie dalam hati. Tang Liau Mie menyilangkan kedua telapak tangannya di depan dada, sinar hitam kemerahan mulai menyelubungi kedua telapak tangannya.
"Heaaah....!"
Setelah berteriak nyaring Tang Liau Mie melesat dengan begitu cepat ke arWong Mo Gei dengan Kedua telapak tangan diselubungi cahaya hitam kemerahan. Dengan sebuah bayangan hitam membentuk sebuah telapak tangan.
Begitu jarak Tang Liau Mie sudah begitu dekat dengannya. Wong Mo Gei segera menghempaskan telapak tangannya ke depan, sepasang bayangan hitam kemerahan membentuk dua buah telapak tangan menderu cepat ke arah depan dan beradu dengan cahaya hitam yang membentuk telapak tangan di depan Tang Liau Mie.
Blaaar.......!!
Ledakan dahsyat mengguncang tempat itu gelanggang yang terbuat dari batu bersusun itu berterbangan bagai daun yang tertiup angin ke udara. Debu-debu dari pecahan bebatuan berterbangan, orang-orang yang berada di dalam ruangan itu terbatuk
karena menghisap debu yang mengotori udara di dalam ruangan itu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.
__ADS_1