
Ruang batu permata biru, Kenapa ruang itu di sebut dengan ruang batu biru? itu yang akan dicari tahu. Di dalam ruangan ketiga ini batu kekuatan yang di perebutkan adalah batu berwarna biru yang di sebut batu jiwa.
Batu jiwa adalah sebuah batu dengan kekuatan yang meningkatkan kemampuan tenaga dalam dan kekuatan pikiran, sehingga batu ini di sebut dengan batu jiwa.
Seseorang yang mendapat anugerah batu jiwa akan mempunyai tenaga dalam dan jiwa yang kuat, kamar ketiga ini adalah tujuan terpenting para pendekar selain menjadi pasukan inti Lee Tang Yin.
Begitu Wong Mo Gei dan teman-temannya menginjakkan kaki di ruang ketiga di sambut oleh suara tawa yang begitu
menggema di dalam ruangan itu.
"Ha ha ha..... Selamat datang di dalam ruangan ketiga, ruangan ini jadi penentu. Apa kau sanggup menjadi pasukan inti?
Tuan Lee Tang Yin atau tidak? Atau kau hanya akan bertahan di sini!" suara tawa itu menggema tanpa terlihat siapa orang yang mengatakan perkataan itu.
Puluhan orang yang ada disana tampak terdiam menatap ke aWong Mo Gei dan kawan-kawannya. Namun Wong Mo Gei, Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin tampak begitu tenang melihat ke arah orang-orang yang menatap mereka dengan penuh tanda tanya itu.
Hanya satu diantara rombongan itu yang dikenal oleh orang-orang itu adalah Singa Merah.
"Ha ha ha.... Singa Merah. Selamat datang di ruang ketiga ini. Apa maksud dan tujuan mu? Menjadi petunjuk jalan bagi anak-anak muda itu?" tidak lama kemudian
dari tengah-tengah orang-orang itu muncul seseorang bertubuh besar tinggi dengan wajah yang cukup tampan tubuhnya berotot, namun manusia itu tidak menyentuh tanah semua sekali. Ia bagaikan tidak bertijak di atas bumi? bagaikan makhluk halus. Singa Merah hanya tersenyum melihat orang yang berjalan ke arahnya.
"Tom Sam Cong, rupanya kau masih mengingat aku yang sudah tua ini," jawab Singa Merah.
"Ha ha ha..., rupanya seorang sahabat lama
kini menjadi pemandu bagi para pendekar muda yang ingin menjajal istana bawah tanah Pulau larangan ini," kata Tom Sam Cong tertawa.
"Sebenarnya tidak ada niat mereka untuk menjajal tempat ini, namun mereka harus menjalani itu semua agar bisa sampai ke tempat tujuan di istana bawah tanah ini," jawab Singa Merah dengan mimik wajah yang serius.
"Maksudmu, singa merah?" tanya Tom Sam Cong Tidak mengerti.
__ADS_1
"Mereka adalah orang-orang dari Kerajaan Yin dan Yang, mereka ke sini ingin mencari tahu apa? dan siapa yang menculik tujuh orang gadis perawan dari negeri mereka? Mereka adalah utusan dari kerajaan Yin dan Yang," jawab Singa Merah berusaha menjelaskan.
"Jika memang urusan itu aku sendiri juga belum pernah mendengarnya karena hanya segelintir orang-orang yang bisa di percaya oleh tuan Lee Tang Yin itu, dan orang-orang itu adalah para pendekar dari Sekte Angin Barat dan Sekte Angin Timur," kata Tom Sam Cong.
"Jadi, bisakah kami melewati tempat ini tanpa harus menjalani semua pertarungan di ruang ini sahabatku, Tom Sam Cong?" tanya Singa Merah sambil tersenyum.
"Maafkan aku Singa Merah, walau kita sudah lama saling kenal. Namun peraturan tetaplah peraturan aku tidak sanggup harus menghadapi puluhan pendekar ini jika mereka mengeroyok ku, walaupun kemampuanku sudah diatas rata-rata kemampuan mereka," jawab Tom Sam Cong dengan tenang.
"Baiklah. Berapa orang yang harus dihadapi oleh teman-temanku ini?" tanya Singa Merah langsung pada intinya.
"Ha ha ha... Untuk mempermudah teman-temanmu yang muda itu harus menghadapi tiga orang, orang pilihan di ruangan ketiga ini bila ketiga orang itu sanggup ditaklukan oleh temanmu, maka hadiahnya adalah melewati tempat ini tanpa rintangan dan mendapatkan setumpuk batu permata biru yang bisa menambah kekuatan jiwa dan menambah tenaga dalam yang dia miliki, kau juga bisa mengambang bagaikan seorang makhluk halus dengan setumpuk batu permata biru. Seseorang akan mampu terbang sejauh bermil-mil tanpa harus menjejak tanah sedikit pun," jelas Tom Sam Cong.
"Jadi, sudah berapa orang yang sudah mempunyai kemampuan seperti itu, Tuan Tom Sam Cong?" yang bertanya adalah Wong Mo Gei.
"Ha ha ha...., anak muda seingatku. Aku tinggal di ruangan ketiga ini mungkin sudah puluhan tahun sampai saat ini.
Tidak sampai 1000 orang mungkin yang sanggup. mengalahkan orang-orang terbaik di ruang ketiga ini. Namun seingatku mungkin ada sekitar lima ratus orang perompak mau pun pendekar pelarian yang berhasil melalui rintangan atau pertarungan di dalam ruangan ketiga ini. Apakah kau yang akan bertarung anak muda?!" tambah Tom Sam Cong.
"Ha ha ha.. Aku memang bukan orang dari kerajaan Yin dan Yang. aku bukanlah orang yang mempunyai sekte. Aku adalah orang dari seberang lautan sana, jadi untuk urusan itu sebenarnya aku tidak ingin ikut campur. Namun aku hanya menjalani peraturan yang yang ada di dalam ruangan ini anak muda. Jadi aku persilahkan kau menaiki gelanggang yang terdapat di sana yang bernama gelanggang batu permata biru itu,"
"Baiklah, Tuan," jawab Wong Mo Gei, tanpa banyak tanya lagi dengan sekali lompat bagaikan kilat pemuda dari Sekte Api itu sudah berada di dalam gelanggang, semua mata di sana cukup terkejut walau mereka adalah pendekar-pendekar yang tangguh yang sudah mampu menghadapi Manusia Batu dan Pendekar Tang Liau Mie.
Seseorang dari sudut depan Wong Mo Gei yang dari tadi duduk, dengan rambut panjang sebahu baju hitam
berbentuk jubah dengan lengan berwarna kuning muda dan celana coklat dengan di bawahnya dengan dipadukan sepatu berwarna hitam.
Laki-laki itu cukup tampan sambil memegang sebuah gagang pedang yang masih terpatri di dalam sarungnya.
Melihat Wong Mo Gei sudah berada di atas gelanggang itu laki-laki itu langsung melompat bangun, dengan tenang laki-laki itu berjalan ke tengah gelanggang dan mendekati Wong Mo Gei dengan tatapan bagaikan tatapan seekor Serigala yang begitu tajam bagai siap mencabik-cabik mangsa yang ada di depannya.
"Anak muda, melihat dari mimik wajahmu. Kau adalah seorang pemuda yang sangat muda. Apakah kau sangat beruntung, atau memang kau mempunyai kemampuan yang sangat dikjaya, rata-rata orang yang sanggup sampai ke ruangan ini adalah orang-orang yang mempunyai umur diatas lima puluh tahun dan mempunyai pengalaman sebagai pendekar puluhan tahun. Malang melintang dan menjadi perompak puluhan tahun Malang melintang di tengah lautan, namun aku melihat mu begitu muda. Apakah kau tidak takut akan kematian dan bahaya anak muda?!" tanya laki-laki itu dengan nada datar dan begitu tenang, tatapan matanya tidak bergeming menatap Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Maafkan saya yang muda ini, Tuan Pendekar. Bukan maksud hati saya ingin menjajal tempat ini, namun keharusan karena saya mempunyai keperluan. Dengan penguasa nomorsatu istana bawah tanah ini makanya saya harus berhadapan dengan tuan-tuan yang ada di dalam setiap ruangan istana ini," jawab Wong Mo Gei tidak kalah tenang.
Tanpa ada rasa ketakutan dan bergetar menghadapi tatapan lawannya yang begitu tajam itu.
"Baiklah, anak muda jika itu yang kau katakan, maka Bersiaplah. Di tempat ini,
di atas gelanggang ini tidak ada wasit atau juri penengahnya. Jadi siapa yang jatuh ke bawah? Dan yang bertahan di atas gelanggang dialah yang akan menjadi pemenang dan akan mendapat beberapa batang batu permata biru milik yang kalah jika kau mengalahkanku berarti kau mendapatkan beberapa batang batu permata biru yang aku miliki," kata pendekar itu
"Baiklah, Tuan, namun maafkan saya tidak enak rasanya jika kita harus bertarung dan bertanding, tanpa mengetahui nama lawan kita. Karena kita bukan bertarung sebagai musuh, namun kita bertarung sebagai orang yang mengejar sesuatu yang kita inginkan sebagai hasil dari kemenangan itu," jaWong Mo Gei lagi.
"Ha ha ha... Anak muda, rupanya aku berhadapan dengan seorang pendekar yang begitu bijak. Baiklah, namaku Mo Jin, aku dulunya adalah pimpinan perompak selama puluhan tahun. Sekarang giliranmu anak muda,"
"Nama saya Wong Mo Gei, Tuan Mo Jin. Saya berasal dari Sekte Api dari kerajaan Yin dan Yang,"
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Votenya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih banyak.