
Pan Lin Ming langsung berdiri dan bersiap-siap dengan jurus pedang yang ia miliki. Wa Hua Wa pun tidak tinggal diam, sebuah pedang yang ia dapatkan dari Kuburan Pedang dua tahun yang lalu di panngilnya. Pedang baha merah tampak tergenggam ditangan Wa Hua Wa, namun pedang itu belum terhunus dari warangkanya.
"Hup!"
Pan Lin Ming melompat seraya mengayunkan pedangnya kearah depan dengan begitu cepat. Wa Hua Wa melintangkan pedang baja merah yang masih tersarung di dalam warangkanya menangkis ujung pedang Pan Lin Ming itu.
Trang!
Dengan begitu cepat Pan Lin Ming menarik pedangnya, seraya menyabetkan kembali ke arah Wa Hua Wa. Tapi gadis cantik berbaju merah itu cepat menarik tubuhnya kebelakang dengan gaya kayang. Wa Hua Wa kembali berdiri tegak dengan begitu cepat.
"Hiyaaa....!"
Set!
Set!
Serangan pedang Pan Lin Ming begitu cepat bagaikan kilat, namun Wa Hua Wa dengan begitu tenang menangkis dan menghindari setiap sabetan dan tebasan pedang di tangan Pan Lin Ming.
Trang!
Trang!
Berkali-kali pedang Pan Lin Ming hanya mengenai angin kosong dan sarung pedang baja merah yang tergenggam di telapak tangan Wa Hua Wa itu. Gadis cantik lawan Wa Hua Wa itu juga terlihat begitu tenang, walau serangannya selalu di tangkis dan di hindari Wa Hua Wa, ia tampak tidak emosi. Pan Lin Ming masih menyerang dengan teratur dan terkontrol.
"Hup! Hiyaaa...!"
Wa Hua Wa mengibaskan tangan kirinya, udara panas menderu ke arah Pan Lin Ming. Gadis cantik berbaju hitam bercelana hijau tua itu menegoskan tubuhnya ke udara, setelah bersalto sekali di udara Pan Lin Ming meluncur deras ke arah Wa Hua Wa.
"Hiyaaa...!"
Pan Lin Ming mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat membelah udara dari atas. Wa Hua Wa cepat bergerak mundur sambil melintangkan pedang baja merah di atas kepalanya.
__ADS_1
Trang!
Pedang di tangan Pan Lin Ming lagi-lagi mengenai warangka pedang baja merah di tangan kanan Wa Hua Wa. Karena hempasan tenaga Pan Lin Ming yang cukup kuat, sehingga Wa Hua Wa terpukul mundur.
Sring!
Wa Hua Wa menarik pedang baja merah dari dalam warangkanya, seraya menyabetkan ke arah Pan Lin Ming. Gadis muda itu cepat melompat mundur sekitar satu tombak kebelakang.
Set! Set! Set!
Pan Lin Ming memainkan Jurus-jurus pedangnya sambil bersiap, begitu tangkas dan piawainya gadis cantik berbaju hitam itu memainkan pedangnya. Sedangkan Wa Hua Wa tampak hanya bersiap dengan pedang teracung di atas kepala, menghadap ke depan.
"Hiyaaa...!"
Pan Lin Ming kembali melompat dengan sabetan pedang mengarah ke dada Wa Hua Wa. Gadis cantik berbaju merah itu cepat mengibaskan pedang baja merah di tangannya dengan begitu cepat, untuk menghalangi gerak laju pedang Pan Lin Ming.
Trang!
"Hup!"
Wa Hua Wa melompat mundur sambil mengacungkan pedangnya ke depan. Pan Lin Ming melintangkan pedangnya di depan dada dari arah kiri ke kanan. Wa Hua Wa perlahan menarik pedangnya kearah samping leher kirinya, sambil menarik kaki kanan kebelakang. Kaki kiri gadis muda berbaju merah itu mengacung lurus kedepan sedangkan kaki kanan perlahan menekuk membuka ke arah kanan.
"Hup!"
Wa Hua Wa melompat dengan jurus 'Pedang Naga Terbang'. pedang di tangannya mencerca cepat ke arah Pan Lin Ming. Namun gadis cantik berbaju hitam itu tidak tinggal diam, ia juga memamerkan jurus 'Pedang Harimau Putih'. pemberian roh suci yang ia miliki. Pertarungan mereka berubah cepat, gerakan pedang mereka bagai kilat yang saling sambar menyambar. Suara dentingan pedang terdengar sahut menyahut.
Set!
"Aakh..!"
Terdengar jeritan kesakitan, tidak lama kemudian terlihat Pan Lin Ming terhuyung kebelakang sambil memegangi bahu kirinya. Darah segar mengalir dari luka di bahunya.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa? Maaf aku terlalu terbawa suasana," ucap Wa Hua Wa menghampiri Pan Lin Ming.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," jawab Pan Lin Ming sambil tersenyum. Gadis cantik berbaju hitam itu tampak mengalirkan aura tenaga dalamnya, ke arah lukanya.
"Bagaimana? Apa bisa di lanjutkan?" tanya Tian Shin Lau mendatangi Pan Lin Ming.
"Bisa, Paman. Tapi tunggu sebentar," pinta Pan Lin Ming.
Tian Shin Lau mengangguk tanda setuju, "Istirahatlah dulu," tambahnya lagi. Wa Hua Wa pun membantu Pan Lin Ming mengobati luka di bahunya, dengan mengalirkan aura tenaga dalam ke bahu gadis cantik berbaju hitam itu.
"Terima kasih," ucap Pan Lin Ming sambil tersenyum memandang ke arah Wa Hua Wa, "Siapa dua orang pemuda yang bersama denganmu tadi Wa Hua Wa?" tanya Pan Lin Ming.
"Mereka adalah sahabat kecilku," jawab Wa Hua Wa sambil ikut bangkit dari berjongkok, ketika Pan Lin Ming bangkit.
"Aku kira kekasihmu," canda Pan Lin Ming sambil tertawa, " Apa ada yang kau suka di antara mereka Wa Hua Wa?" tanya Pan Lin Ming lagi.
"Jujur aku menyukai si kelinci, dia sangat pintar dan baik hati, Tapi Cek Pei, juga sangat baik padaku,"
"Wong Mo Gei maksudmu?" bisik Pan Lin Ming.
Hmmm...Iya," jawab Wa Hua Wa sambil tersenyum.
"Kalian masih mau bertanding atau hanya mengobrol tentang keponakanku itu," sela Tian Shin Lau menghampiri kedua gadis itu.
"Masih, Paman. Maafkan kami," sentak Wa Hua Wa dan Pan Lin Ming berbarengan. Tian Shin Lau hanya tersenyum melihat Wa Hua Wa dan Pan Lin Ming kikuk.
Wa Hua Wa kembali ke sudut sebelah kanan dan Pan Lin Ming kembali ke sudut kiri. Keduanya tanpa di perintah langsung menyiapkan diri untuk mengeluarkan kekuatan roh suci mereka.
.
.
__ADS_1
Bersambung...