
Suasana di daerah bukit bulan sabit tampak hening, di kejauhan tampak dua orang muda-mudi berlari begitu kencang ke arah bukit itu. Mereka adalah Cek Pei dan Wa Hua Wa, keduanya berlari menggunakan ilmu lari cepat yang mereka miliki. Walau napas mereka mulai terengah-engah, namun keduanya masih berlari secepat yang mereka bisa.
"Ayo cepat, Wa Hua Wa. Aku takut Mo Gei melakukan hal nekat!" kata Cek Pei sambil tetap berlari.
"Ya, Aku juga berpikiran begitu, dia tampaknya begitu prustasi, dengan kekuatan roh suci yang di milikinya!" jawab Wa Hua Wa tampak tersengal. Namun gadis cantik berbaju merah itu tidak mengendurkan larinya sedikit pun, kecemasannya membuat ia tetap memaksakan diri.
Tampak dari kejauhan Wong Mo Gei masih berdiri di bibir jurang di atas bukit bulan sabit. Begitu Cek Pei dan Wa Hua Wa sampai keatas bukit itu. Cek Pei langsung menarik tangan Wong Mo Gei menjauhi bibir jurang. Tanpa banyak tanya Cek Pei langsung memukul wajah Wong Mo Gei dengan kepalan tinjunya.
Buak!
Wong Mo Gei langsung jatuh ketanah. Cek Pei langsung mengejar dan memegang leher baju Wong Mo Gei, "Apa yang kau lakukan, hah. Kau ingin mati! Apa kau tidak memikirkan kedua orang tuamu?" bentak Cek Pei, namun Wong Mo Gei tetap diam seribu bahasa, wajahnya menunduk. Walau bibirnya mengeluarkan darah, namun Wong Mo Gei tetap tidak bergeming.
"Cek Pei, sudahlah.. Kasian Mo Gei," kata Wa Hua Wa berusaha menahan Cek Pei.
"Tidak Wa Hua Wa, biarkan saja, Aku memang pantas di pukul, pukulan Cek Pei membuka pikiranku dan mataku," jawab Wong Mo Gei.
"Apa maksudmu?" tanya Cek Pei sambil melepaskan pengangannya pada Wong Mo Gei.
"Kekecewaanku karna melihat roh suciku adalah seekor kelinci tanpa memikirkan kedua orang tuaku, Aku hanya merasa tersudutkan dengan keadaan yang menimpaku, padahal kita telah berjanji, apa pun yang terjadi kita tetaplah sahabat, maafkan Aku, Cek Pei Wa Hua Wa," ucap Wong Mo Gei sambil menatap kearah Cek Pei.
"Nah, begitu baru Wong Mo Gei yang kami kenal," kata Cek Pei sambil memeluk Wong Mo Gei.
"Aku takut kalian akan melupakanku, apalagi kekuatan roh suci kalian, adalah roh suci terkuat dalam pembangkitan hari ini," kata Wong Mo Gei, "Sedangkan roh suciku adalah seekor kelinci, roh suci yang paling lemah," tambah Wong Mo Gei lagi.
__ADS_1
"Mo Gei, bukankah kau sendiri yang mengatakan dan meminta kami, jika roh suci di antara kita ada yang tidak kuat, kita tidak boleh berubah. Tapi kenapa kau sendiri yang berubah putus asa?" tambah Wa Hua Wa sambil memegang bahu Wong Mo Gei.
"Sekali lagi maafkan Aku teman-teman," ucap Wong Mo Gei lagi, "Orang-orang tentu akan memandang rendah dan menghinaku, Cek Pei, Wa Hua Wa," tambahnya lagi.
"Aku yang akan menantang mereka bertarung, bila mereka berani menghinamu di depanku," kata Cek Pei, "Apa mereka semua mempunyai roh suci yang kuat, tidak kan?" tambahnya lagi.
"Yang jelas, sekarang ayah dan ibuku menjadi gunjingan dan ejekan oranga-orang, karna putranya mempunyai roh suci yang paling lemah," kata Wong Mo Gei lagi.
"Biarkan saja, mereka hanya berani menyebut dan mengejek paman dan bibi dari belakang, Mo Gei. Di depan paman dan bibi mana berani!" kata Wa Hua Wa sambil tersenyum.
"Yang di katakan Wa Hua Wa benar, Mo Gei, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu," tambah Cek Pei lagi.
"Ya sudah, sekarang kita ke warung, hari ini Aku traktir kalian makan apa pun," kata Wa Hua sambil tertawa. Tanpa sungkan Wa Hua Wa merangkul Cek Pei dan Wong Mo Gei. Mereka pun meninggalkan puncak bukit bulan sabit. Semua kekecewaan dan keputus asaan Wong Mo Gei pun tinggal di sana.
Suasana ramai tampak di tengah pasar perkampungan Desa Tirai Bambu. Orang-orang hilir mudik berbelanja kebutuhan mereka sehari-hari. Berbagai keperluan rakyat tersedia di sana, dari makanan, pakaian dan perhiasan pun tersedia.
Di sebuah warung yang cukup besar tampak ramai di kunjungi oleh pelanggannya. Apa lagi hari ini adalah hari pembangkitan kekuatan roh suci. Banyak pemuda maupun orang-orang yang kembali dari puncak bukit bintang yang mampir ke warung mie yang terkenal di pasar Desa Tirai Bambu itu.
Cek Pei, Wong Mo Gei tampak berjalan santai memasuki. Entah berapa orang, orang-orang yang saling berbisik. Sambil melihat ke arah Wong Mo Gei. Pandangan mereka tampak begitu merendahkan putra Zhang Shin Ming tersebut.
Wong Mo Gei tampaknya tidak begitu mempedulikan pandangan orang-orang yang menatap penuh penghinaan pada dirinya.
"Lihat, mereka pada melihatku," kata Wong Mo Gei.
__ADS_1
"Biarkan saja Mo Gei, jangan dipedulikan," kata Cek Pei menyemangati. Tanpa mempedulikan orang-orang yang memandang remeh pada Wong Mo Gei, mereka memasuki warung itu.
"Hei, lihat ada si kelinci," seorang pemuda pengunjung yang lagi asyik berbincang dengan teman-temannya. Pemuda itu langsung menghina Wong Mo Gei tanpa pikir panjang lagi.
Wa Hua Wa yang baru menarik sebuah kursi, langsung berjalan kearah meja pemuda yang menghina Wong Mo Gei tersebut, "Siapa yang bicara kelinci tadi, hah..!" bentak Wa Hua Wa melotot kearah empat orang pemuda tersebut.
"Walau roh suci yang dimiliki Mo Gei adalah kelinci, belum tentu kalian mampu mengalahkan Mo Gei dalam pertarungan satu lawan satu," tambah Wa Hua Wa dengan sengit, "Atau ada di antara kalian yang ingin bertarung melawanku!" tantang Wa Hua Wa. Para pemuda tersebut hanya menggelengkan kepala tanda mereka tidak menerima tantangan Wa Hua Wa tersebut.
"Sudahlah Wa Hua Wa, Mo Gei saja tidak tersinggung," kata Cek Pei berusaha menenangkan Wa Hua Wa. Semua orang yang ada di dalam warung itu tampak terdiam, tidak ada yang berani berbicara. Mereka tau roh suci Wa Hua Wa dan Cek Pei tahun ini adalah roh suci terkuat.
"Wong Mo Gei memang tidak tersinggung, tapi aku sebagai sahabatnya tersinggung!" tukas Wa Hua Wa berapi-api. Cek Pei hanya diam melihat Wa Hua Wa begitu marah melihat Wong Mo Gei menjadi bahan gunjingan dan ejekan bagi orang lain.
Tanpa mempedulikan Cek Pei, Wa Hua Wa kembali ke tempat duduk yang tadi hendak ia tempati.
"Kau tadi berusaha menghibur dan menyemangatiku, sekarang kau yang tidak sabaran Wa Hua Wa," ucap Wong Mo Gei sambil berusaha tersenyum.
"Aku tidak setuju dengan ledekan pemuda itu, apa dia lebih hebat dari kita!" jawab Wa Hua Wa, gadis remaja berwajah cantik itu masih tampak emosi.
"Maaf, teman-teman, karna Aku kalian bisa dapat masalah..," ucap Wong Mo Gei.
"Jangankan mereka, satu kampung kan ku tantang jika mereka merendahkanmu, di depanku," kata Wa Hua Wa sengit.
Bersambung...
__ADS_1