
Suasana hiruk pikuk, sorak sorai penonton pertandingan yang tidak jauh dari pintu masuk istana bawah tanah itu jadi sunyi sepi, semua mata yang ada di tempat itu kini memandang dan menatap ke arah tamu yang baru menginjakkan kaki di istana bawah tanah itu.
Singa Merah tampak tersenyum simpul memandang ke arah orang-orang yang ada di sana, tampak pada sebuah sudut bangunan itu sebuah meja besar di belakangnya terdapat beberapa orang gadis dengan pakaian sedikit terbuka melayani beberapa orang yang duduk di kursi di depan meja besar dan panjang itu.
Semua orang bagai menjadi patung menatap ke arah Wong Mo Gei dan ketiga temannya. Singa Merah tampak menatap ke arah para pendekar yang bertanding di sana.
"Singa Merah? Apa yang membawamu kesini?" tanya seorang laki-laki yang berpakaian jauh lebih rapi di bandingkan dengan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Aku kesini mendampingi, tuan-tuan ini," jawab Singa Merah begitu tenang.
"Ha ha ha...! Sejak kapan seorang nomor satu di Pagoda Kematian, menjadi pengecut dan menjadi penunjuk jalan para bocah! Ha ha ha...!" tawa orang itu, sebuah pedang besar dengan kepala berbentuk kepala rajawali berwarna emas. Tersampir di balik pundak laki-laki itu.
"Sam Cong! Kau boleh berbesar mulut di hadapanku saat ini, namun setelah melihat orang-orang yang ku bawa ini. Kau akan menutup mulut kotormu itu rapat-rapat," jawab Singa Merah dengan begitu tenang, walau suaranya agak meninggi.
"Ha ha ha...! Singa Merah, kau boleh menjadi nomor satu di Pagoda Kematian. Tapi di istana bawah tanah ini, seperti yang kau tau, kau tidak ada apa-apanya di sini. Ha ha ha...!" tawa Sam Cong Tieng mengejek Singa Merah.
"Kau pun akan bernasib sama seperti tuan Jenggot Api, Sam Cong Tieng," balas Singa Merah tenang, sambil menyungging senyum tipis membalas ledekan Sam Cong Tieng tersebut.
"Kurang ajar, Singa Merah tidak terpancing amarahnya ku panas-panasi. Biasanya monster satu ini pantang di ejek sedikit pun," Sam Cong Tieng membatin.
"Jika kau sudah bosan hidup, silahkan naik ke gelanggang Singa Merah!" geram Sam Cong Tieng menantang Singa Merah.
"Hup!"
Sekali gerakan saja Wong Mo Gei tiba-tiba sudah berada di atas panggung gelanggang itu. Semua mata yang ada di sana memandang remeh dan mengejek ke arah Wong Mo Gei.
"Ha ha ha...! Kau... Apa yang kau cari ke atas sini anak kecil, tempat ini bukan tempat bermain. Ha ha ha...!" tawa seorang pendekar yang sedang berada di atas gelanggang itu. wajah laki-laki yang sedang berada di atas panggung gelanggang itu begitu seram, wajahnya tampak bulat dengan hidung pesek. Giginya berbaris rapi tapi agak runcing mirip taring.
Lawannya yang berada di belakang Wong Mo Gei tampak terdiam, wajahnya tampak sudah ada memar. Bekas pertarungan sebelum Wong Mo Gei dan rombongannya datang tadi. Sebuah pedang cukup besar di punggung pemuda itu.
"Kau mau mencoba anak kecil ini, Kisanak. Silahkan!" tatang Wong Mo Gei lantang.
"Kau memang bosan hidup, ya? Aku tidak akan segan-segan merobek daging dari tubuhmu itu!" bentak laki-laki berwajah seram itu.
"Cobalah... Jangan hanya bicara!" jawab Wong Mo Gei mulai dongkol.
"Mati... Kau...!"
Teriakan nyaring laki-laki berwajah seram itu mengawali tubuhnya melesat cukup cepat ke arah Wong Mo Gei dengan kedua telapak tangan menggenggam.
Tap!
__ADS_1
Tap!
Begitu tenang Wong Mo Gei menapaki setiap pukulan Tinju laki-laki berwajah seram itu. Setelah menangkis lebih kurang empat kali tangan kanan Wong Mo Gei begitu cepat menggenggam kepalan tinju laki-laki itu, di luar dugaan laki-laki itu Wong Mo Gei dengan begitu cepat menarik tangannya dan membanting tubuhnya ke arah pagar pembatas gelanggang itu.
"Aaaa...!"
Lolongan kesakitan di iringi tubuh laki-laki itu meluncur deras ke belakang Wong Mo Gei.
Brak!
Pagar pembatas gelanggang itu langsung patah menjadi dua bagian, tubuh laki-laki itu langsung terlempar ke dekat orang-orang yang ada di bawah. Beberapa saat laki-laki langsung berusaha bangun, terlihat darah mengucur dari sela-sela bibirnya.
"Bajingan!"
Geram laki-laki itu, setelah bangkit ia langsung melompat menyerang kembali ke atas panggung gelanggang itu.
"Kau boleh juga, bocah!" murka laki-laki berwajah seram itu sambil bersiap kembali dengan jurus-jurus andalannya.
"Huh!"
Wong Mo Gei melentingkan tubuhnya ke udara menghindari serangan laki-laki berwajah seram itu, dengan begitu ringan pemuda dari Sekte Api itu mendarat di belakangnya.
"Hiyaaa..!"
"Buak!
"Agkh!
Laki-laki bertubuh gempal berwajah seram itu mengeluh tertahan sebelum tubuhnya mencelat ke belakang dan menghantam pagar penghalang gelanggang itu lagi.
Brak!
Tubuh laki-laki itu meluncur deras menyeberang pagar pembatas gelanggang itu dan langsung jatuh ke lantai.
Bruk!
Beberapa saat laki-laki itu masih berusaha bergerak dengan tangannya seperti menggapai sesuatu, tidak lama kemudian tangannya kembali jatuh dan tidak bergerak lagi. Darah segar kehitaman mengalir dari mulutnya, ia tewas dengan mata melotot.
"Apa..?!!"
Semua orang yang ada di tempat itu seakan tidak percaya melihat laki-laki yang tubuhnya tinggi besar dan berotot itu, harus kehilangan nyawa dalam dua kali serang. Pada dasarnya Wong Mo Gei bisa saja menghabisi orang itu dalam serangan pertama, tapi Mo Gei masih mempunyai perasan. Wong Mo Gei tidak mau langsung membunuh.
__ADS_1
"Bagaimana Sam Cong Tieng, apa masih ada lagi andalanmu?" tantang Singa Merah lagi. Wajah Sam Cong Tieng memerah menahan amarah.
"Kung Lie... Kung Lau...! Maju kalian..!" perintah Sam Cong Tieng dengan keras.
"Hup! Heaaa...!"
Dua orang laki-laki bertubuh besar dengan pakaian kependekaran, langsung melompat ke atas gelanggang itu. Keduanya memakai pedang lurus berwarna merah, dengan gagang berbentuk kepala elang berwarna merah.
"Ku akui bocah itu memang kuat, Singa Merah. Tapi Pendekar Kembar dari Pulau buangan bukan lawannya," kata Sam Cong Tieng sambil tersenyum ke arah Singa Merah.
"Jangan berbesar mulut dulu Sam Cong Tieng, lihat apa yang akan terjadi," jawab Singa Merah datar.
"Kung Lie.. Habisi dia...!" bentak Sam Cong Tieng merasa di rendahkan oleh Singa Merah.
"He he...! Anak muda, kau memang hebat bisa mengalahkan Lian Tang. Tapi kami pendekar kembar dari Pulau Buangan bukan lawanmu, sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini," gertak Kung Lie.
"Aku tidak sudi menyerah tanpa bertanding, Kisanak," jawab Wong Mo Gei dingin.
"Jangan salahkan aku jika tubuhmu hancur oleh pedang elang merah ku ini! Heaaah..!"
Sring!
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
__ADS_1
Terima kasih banyak.