
Sring!
Ketiga teman Wong Mo Gei langsung manghunus pedang mereka tanpa banyak bicara lagi Wa Hua Wa, Cek Pei dan Sin Yin Langsung Melompat turun dari kuda mereka.
"Manusia Bodoh. Kalian berani memasuki hutan ini hanya berempat!" ujar salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi.
"Kalian kira kami adalah anak kecil yang hanya memasuki hutan seperti ini kami takut?!" jawab Wong Mo Gei yang dari tadi sudah berada di tanah dan berada paling depan di antara ketiga temannya.
"Ho ho ho....! Rupanya kau memang besar mulut, sehingga Pangeran Naga Hitam meminta kami memusnahkan kau dari muka bumi ini!" kata salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi.
"Cobalah jika kalian mampu!" tantang Wong Mo Gei.
"Ho ho ho....! Kau kira kami adalah iblis biasa, kau akan menyesal berani berhadapan dan Mengusik para iblis dari Kerajaan Iblis!" dengus salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi.
"Kami atau kalian yang mengganggu sekarang. Bukankah tempat kalian di negeri iblis, bukan di negeri manusia. Pangeran naga hitam dan Raja Iblis lah yang telah mengganggu ketentraman dan kedamaian manusia!" jawab Wong Mo Gei.
"Kau berani berbicara seperti itu di depan Tujuh Iblis Perut Bumi, berarti kau harus merelakan roh suci yang ada di dalam tubuhmu menjadi milikku!" ujar salah satu iblis dari Tujuh Iblis Perut Bumi yang berkepala botak dengan telinga besar. Tubuhnya tiga kali lipat iblis yang ada, tingginya sekitar tiga tombak memakai baju zirah berwarna putih keperakan.
"Kau yang salah saja berani berbicara seperti itu iblis. Apalagi kami manusia yang tidak pernah mengganggu kerajaan kalian. Tapi kalian mengganggu manusia, kalian datang membantai dan memakan manusia, memakan ternak-ternak kami. Sekarang aku bertanya? Aku yang lancang atau kalian yang lancang!" jawab Wong Mo Gei lantang.
"Sudah, tidak usah di layani lagi manusia itu, lebih baik kita musnahkan mereka. Semakin cepat kita membunuh mereka, semakin cepat kita menjadi orang penting di Kerajaan Iblis!" tukas salah seorang dari Tujuh Iblis Perut Bumi yang dari tadi memegang sebuah senjata mirip tombak. Namun senjata itu memiliki mata di kedua ujung.
"Baiklah, aku akan menyerahkan manusia itu padamu aku akan mencincang manusia yang lain kata salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi, setelah berkata tanpa basa-basi iblis berwajah seram itu berlari cepat dan melompat ke arah Cek Pei dan Wa Hua Wa.
Secepat kilat Cek Pei menghindari serangan salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi itu.
Bum..! Buum.....!!
"Hoaark....! Dia berhasil menghindari seranganku!" dengus iblis itu dengan gusarnya.
"Hup...! Pedang Naga Memecah Gelombang...!" teriak Cek Pei sebelum bergerak cepat bagaikan kilat ke arah iblis perut bumi yang menyerangnya.
__ADS_1
Swoss..! Swoss....!!
"Arkkh....!" salah satu iblis yang berada di depan Cek Pei meraung kesakitan begitu cahaya putih bagaikan kilat itu mengenai tubuhnya. Iblis itu sudah melintangkan senjatanya di depan dada, namun cahaya putih membentuk mata pedang itu tetap melaju dengan cepat menghantam tubuhmya.
Jgaaarrr.....!!
Salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi itu langsung terpental ke arah belakangnya dan menghantam beberapa prajurit iblis yang berada di belakang.
Enam Iblis Perut Bumi yang lain tampak terkejut melihat temannya jatuh dalam sekali serangan Cek Pei.
"Haarkh...!" sungguh di luar dugaan Iblis tanah kawanan Tujuh Iblis Perut Bumi itu meraung marah, walau baju zirahnya terkoyak menganga miring dari atas ke bawah di sebelah kiri ke kanan.
Iblis tanah De mo tidak mengalami luka pada tubuhnya, hanya zirah dan pedangnya yang rusak terkena sambaran pukulan pedang sinar putih Cek Pei tadi.
"Hoaarrkh..! Ku bunuh kau manusia. Akan ku makan mentah dagingmu!" teriak De mo terdengar marah melihat zirah dan pedang besar bak mata gergaji itu rusak.
"Hmm.... ku akui iblis, kau memang kuat di banding iblis yang lain!" ucap Cek Pei sambil melintangkan pedang baja hitam di tangannya.
Sementara itu Wong Mo Gei tampak telah berhadapan dengan salah satu dari Tujuh Iblis Perut Bumi yang berwarna merah.
"De mo, apa kau tidak apa-apa?" tanya Huo mo tanpa mengalihkan perhatiannya pada Wong Mo Gei.
Iblis angin, Feng mo pun ikut mengepung ke arah Wong Mo Gei. Kedua iblis itu berencana menghabisi Wong Mo Gei secara bersamaan, mereka berdua agak memperhitungkan kekuatan Wong Mo Gei.
"Arrk... Aku tidak apa-apa, Huo mo. Manusia itu merusak baju zirah dan pedangku..!" jawab De mo menggelegar.
"Hati-hatilah, aku lihat manusia-manusia yang kita hadapi mempunyai kekuatan besar di banding manusia biasa!" ujar Huo memperingati.
"Ho ho ho...! Tenang Huo mo, kita Tujuh Iblis Perut Bumi tidak mudah kalah," jawab Iblis tanah Demo dengan nada sombong.
Huo mo hanya diam mendengar kepongahan temannya, iblis tanah De mo.
__ADS_1
Huo mo dan Feng mo tampak memperhatikan Wong Mo Gei dengan seksama.
Iblis Lahar Merapi, Rong Yan mo tampak sedang berhadapan dengan Wa Hua Wa. Keduanya tampak telah terlibat pertarungan sengit.
Iblis Lahar Merapi mempunyai tubuh merah tanah liat, dengan tubuh bercak-bercak hitam, tinggi postur tubuh iblis perut bumi hampir sama. Hanya bentuk wajah mereka yang jauh berbeda.
Iblis Lahar Merapi Rong Yan mo, mempunyai kekuatan semburan lahar api yang sangat berbahaya. Jika semburan lahar api itu mengenai sebatang pohon, pohon itu akan langsung hancur bagai tepung masuk ke dalam air, meleleh.
Iblis lahar Merapi mempunyai senjata sebuah cambuk dengan ujung berwarna hitam, setiap lecutan ujung cambuk itu mengeluarkan suara menggelegar.
Ctar! Ctar! Ctar!
Berkali-kali ujung cambuk Iblis Lahar Merapi hampir mengenai Wa Hua Wa, namun gadis cantik berambut merah itu selalu menghindar dengan gesit.
Tebasan dan sabetan pedang baja putih di tangan Wa Hua Wa selalu berhasil menghalau cercaan ujung cambuk Iblis Lahar Merapi, Rong Yan mo.
"Cukup berbahaya cambuk api iblis ini, jika pedangku bukan pedang pusaka dari Kuburan Pedang. Tentu pedangku akan tinggal kenangan!" desis Wa Hua Wa dalam hati.
"Tuanku, Iblis Lahar Merapi itu mempunyai kelemahan terhadap pukulan yang mengandung kekuatan air, tubuhnya akan kaku jika terkena pukulan yang mengandung kekuatan air," kata roh suci naga terbang dari dalam.
"Berarti aku harus menggunakan ilmu 'Pedang Naga Mengitari Hujan, Feilong?" tanya Wa Hua sembari melompat menghindari cercaan cambuk Iblis Lahar Merapi yang mengincarnya.
"Ya, Tuanku," jawab Feilong sambil tetap melihat keluar melalui mata Wa Hua Wa.
Feilong yang merupakan roh suci naga terbang bisa saja keluar dan bertarung dengan Iblis Lahar Merapi, namun roh suci naga terbang belum melakukannya. Karena sang majikan belum membutuhkan bantuannya.
.
.
bersambung.....
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman jejak yang kalian tinggalkan sangat berarti buat author.
terima kasih banyak