
Suasana di pinggiran hutan larangan tampak begitu ramai, puluhan ribu pasukan yang siap bertempur kini hadir di sana, tujuh orang jendral kerajaan, dan lebih dari enam ribu orang kepala prajurit dan pinggang Kerajaan Yin dan Yang yang ada di sana.
Sekitar tiga ratus orang lebih para pendekar dari tujuh sekte yang telah berkumpul termasuk Wong Mo Gei, Cek Pei, Wa Hua Wa, Wang Man Chu dan Sin Yin dan semua pendekar penguasa roh suci.
Tidak ketinggalan Zhang Sin Ming, Tian Shin Lau, ayah Cek Pei dan juga tidak ketinggalan Sin Yuan Ma, ibunya Wong Mo Gei,
Musuh Wong Mo Gei yang telah menjadi temannya pun ada di sana, yaitu Pok Cai pun ada di sana.
"Cek Pei, aku belum pernah berhadapan dengan musuh yang begitu kuat selain Wong Mo Gei, apa pasukan tujuh sekte iblis begitu kuat sehingga kita mengerahkan puluhan ribu prajurit?" Pok Cai mengeluarkan suara.
"Ha ha ha...! Pok Cai, semenjak Mo Gei, mempunyai kekuatan dua roh suci, aku belum bertemu pendekar kelas manapun yang sanggup mengalahkannya," jawab Cek Pei sambil tertawa.
"Kenapa kau begitu yakin?" Pok Cai seakan ragu dengan keadaan saat ini.
"Pulau Larangan adalah pulau yang sangat menakutkan bagi seluruh pendekar, apalagi Pagoda Kematian yang di penuhi pendekar pilihan, Pertapa ular pun tunduk pada Wong Mo Gei," jawab Cek Pei sambil menepuk pelan bahu Pok Cai.
"Kau begitu yakin pada Mo Gei, aku pun harus percaya padanya," kata Pok Cai meyakinkan diri.
"Begitu dong, itu baru sahabatnya Wong Mo Gei," Wang Man Chu menyela sambil tersenyum, Sin Yin hanya tersenyum melihat celoteh teman-teman Wong Mo Gei itu.
.
*******
Sementara itu di depan pintu dimensi yang di buka oleh Pangeran Yun Lau dan pasukannya, puluhan ribu pasukan sekte iblis kini telah berbaris sesuai sekte mereka masing-masing.
Beberapa kelompok iblis pilihan telah menyiapkan tujuh pintu dimensi menuju ujung hutan larangan dan Sekte Batu, tujuh lobang cacing itu di jaga, di setiap pintu dimensi itu terdapat tujuh iblis penjaga.
Terlihat di bagian depan Pangeran Naga Hitam telah bersama Panglima Naga Merah, dan tujuh jendral dari setiap pasukan tujuh sekte iblis.
Pasukan Naga Iblis di siapkan untuk bagian belakang sebagai pasukan terkuat dan sebagai pasukan pendukung, Suara riuh prajurit iblis tampak krasak-krusuk, para iblis itu sudah tidak sabar mengadakan penyerangan. Para iblis yang bertahun memendam dendam dan haus darah manusia.
"Jendral kelewar Iblis bawa pasukanmu lebih dulu!" perintah Panglima Naga Merah.
"Baik, Panglima," jawab Jendral Kelelawar Iblis, "Pasukanku saatnya, kita bantai dan santap manusia sebagai makan siang kita!"
__ADS_1
Gegap gempita suara para iblis kelelawar yang begitu bersemangat, tanpa di perintah kedua kalinya pasukan iblis kelelawar langsung menuju pintu dimensi yang telah di siapkan untuk jalan menuju ujung hutan larangan.
Suasana yang agak tenang tidak berlangsung lama ketika suara terompet peringatan, tiba-tiba mengaung di barisan depan. Begitu mata memandang ke arah pinggiran hutan larangan, ribuan pasukan sekte iblis telah bermunculan, yang paling depan adalah pasukan sekte kelelawar iblis.
"Haarrrk....!
"Hoaaarrr....!!"
"Serangan datang...! Serangan datang....!!" teriak para prajurit di barisan depan. Panglima Tio Bu Ki langsung mengebah kudanya ke barisan depan di ikuti enam jendral yang ada di sana, hanya jendral Mu Rong yang tidak ada di tempat.
Jendral Mu Rong bersama seribu lebih pasukannya membantu para penduduk Sekte Tanah untuk bersiap mengungsi, pengungsian rakyat Sekte Tanah di lakukan untuk mengantisipasi korban di pihak rakyat akibat peperangan.
"Semua bersiap!" teriak Panglima Tio Bu Ki memberi aba-aba, seluruh prajurit di bagian depan segera menghunus senjata mereka, genderang perang dan terompet terdengar memacu semangat para prajurit.
Serang...!" teriak pimpinan pasukan iblis kelelawar yang berada di depan, mendengar perintah dari pimpinan mereka, pasukan iblis kelelawar langsung berlarian dan sebagian beterbangan di udara.
Hingar-bingar pertempuran langsung memecah kesunyian, pertempuran pun berlangsung sengit.
"Mo Gei, kita maju..!" ajak Wa Hua Wa pada Wong Mo Gei.
"Ayo!" jawab Wong Mo Gei singkat, kedua pendekar muda itu melesat ke barisan depan.
Wong Mo Gei langsung melompat menerjang seorang iblis kelelawar yang ada di depannya.
"Hiyaaa...!"
Teriakan melengking Wa Hua Wa mengawali tubuhnya melesat menghadang beberapa iblis biru yang baru datang, tendangan cepat penguasa roh suci naga terbang itu langsung membuat dua iblis biru terpental ke tanah dan tewas.
"Bunuh....!" teriak beberapa iblis bertubuh besar dengan senjata pedang besar, para iblis itu langsung merangsek ke arah Wa Hua Wa dan Wong Mo Gei.
Cek Pei dan Sin Yin pun melesat dari arah kanan Wong Mo Gei, kedua pasang pendekar itu kini terlibat pertarungan dengan puluhan pasukan sekte iblis.
Jelang siang pertempuran terus berkecamuk, teriakan menyemangati dan teriakan kesakitan terdengar riuh di medan perang, pertempuran terus berlanjut. Korban terus berjatuhan, baik di pihak prajurit Kerajaan Yin dan Yang dan pasukan tujuh sekte iblis begitu banyak.
Entah dari mana pasukan iblis terus mengalir bagai air yang mengalir, menjelang sore pasukan Kerajaan yang di dukung para pendekar dari tujuh sekte mulai terdesak.
__ADS_1
Walau Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa, Cek Pei dan Sin Yin telah memakai kekuatan roh suci mereka, namun kekuatan pasukan sekte iblis yang terus berdatangan membuat mereka agak kewalahan.
"Tuanku, kita tidak bisa memakai kekuatan kita di sini, semburan apiku bisa membakar siapa saja yang ada di depan. pasukan iblis tidak ada habisnya," kata raja naga api sambil terbang memutar di atas.
"Kami kewalahan, para prajurit kita hampir bertebaran," tambah naga terbang sambil mendarat di samping Wa Hua Wa.
"Haumm...!"
Roh suci harimau putih milik Sin Yuan Ma, tiba-tiba sudah di samping Wa Hua Wa dan Wong Mo Gei.
"Pasukan kita sudah kocar-kacir, roh suci pun mulai ragu," kata Sin Yuan Ma.
"Aku harus berkoordinasi dengan Panglima Tio Bu Ki, kita tidak bisa bertahan, korban di pihak kita sudah terlalu banyak!" Tian Shan menambahkan.
"Ya, Kek, korban di pihak kita sudah banyak yang berjatuhan, banyak yang terluka. Roh suci hanya bisa bertarung dengan kekuatan normal tanpa bisa menggunakan kekuatan api mereka," jawab Wong Mo Gei sambil mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh ke arah beberapa prajurit iblis.
Tian Shan melesat ke arah tempat Panglima Tio Bu Ki, "Bu Ki, kau harus menarik pasukanmu, korban di pihak kita sudah terlalu banyak," sambil menyabetkan pedangnya ke arah seorang iblis drakula.
"Baik, Paman," jawab Tio Bu Ki sambil tetap bertarung, memang begitu Panglima Tio Bu Ki mengedarkan pandangan tampak mayat dan prajurit yang terluka berserakan di mana-mana.
.
.
Bersambung....
Jangan dukung novel ini ya teman-teman.
Dengan
Hadiah.
Rate.
Like.
__ADS_1
Koment.
Dan Votenya.