Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Serangan Balasan


__ADS_3

Jendral Kelelawar Hantu dan Jendral Drakula Hitam langsung menghadap Pangeran Naga Hitam, melaporkan kegagalan mereka menyerang gerbang kota Yang.


"Ampuni kami, Pangeran. Kami gagal menyerang gerbang kota Yang, pasukan kami di hadang oleh ratusan pendekar dan roh suci yang telah menyiapkan perangkap di ujung desa Sekte Api," ucap Jendral Kelelawar Hantu sambil berlutut di ikuti Jendral Drakula Hitam.


"Apa! Dua puluh ribu orang di kalahkan ratusan para pendekar?" bentak Pangeran Naga Hitam gusar.


"Ampuni kami, Pangeran," ucap Jendral Drakula Hitam, "Para pendekar itu mempunyai kekuatan dan kepandaian jauh di atas manusia biasa, Pangeran. Di tambah puluhan roh suci yang membakar pasukan kami yang terkena perangkap," tambah Jendral Drakula Hitam sambil menunduk.


"Roh suci, apa ini tentang roh suci raja naga itu lagi!" tanya Pangeran Naga Hitam.


"Ya, Pangeran, roh suci raja naga api menjadi pimpinan pasukan roh suci, baik roh naga maupun roh suci yang lain," jawab Jendral Kelelawar Hantu tampak ketakutan.


"Ini tidak boleh terjadi, sejak serangan besar. Kita telah berhasil menguasai separuh bagian Kerajaan Yin dan Yang, namun yang kita dapat adalah kota dan desa yang telah mereka kosongkan,"


"Jika pasukan kita tidak terbagi karena menyerang kerajaan lain, kita akan serang Kerajaan Yin dan Yang secara besar-besaran dengan seluruh kekuatan kita," kata Pangeran Naga Hitam gusar.


"Maafkan kami, Pangeran," ucap kedua jendral itu berbarengan.


"Ya, sudah kembali ke pasukan kalian," perintah Pangeran Naga Hitam berusaha menekan amarahnya, Pangeran Naga Hitam ingin menghukum kedua jendralnya. Namun Pangeran Naga Hitam memaklumi karena pasukannya menghadapi para roh suci.


"Naga Merah, tarik sebagian pasukan kita yang bertugas ke negeri lain. Kita persiapkan penyerangan besar-besaran ke Kerajaan Yin dan Yang, kali ini aku sendiri yang akan memimpin," perintah Pangeran Naga Hitam Naga Hitam.


"Baik, Pangeran. Segala perintah Pangeran siap di laksanakan," jawab Panglima Naga Merah sambil memberi hormat dan berlalu.


.


Matahari seakan menyambut semangat para prajurit dan para pendekar yang terdiri dari beberapa perguruan silat di wilayah negeri Delapan Mata Angin ini.


Para pendekar dari tujuh sekte dan pendekar dari Pulau Larangan tampak telah mempersiapkan diri pagi ini.


Jika di hitung mungkin lebih dari dua ribu orang pendekar yang hadir di sana, lebih dari dua puluh ribu pasukan Kerajaan dengan pakaian zirah perang lengkap.


Matahari mulai bergerak naik di ufuk timur. Pasukan Kerajaan dan para pendekar mulai bergerak, pintu gerbang segera di buka.


Di dalam kota pasukan iblis yang berjaga-jaga, di dominasi pasukan iblis biru dan beberapa monster. Namun jumlah pasukan iblis yang berada di dalam kota tidak mencapai lima ribu prajurit iblis.


Suara derap langkah kaki kuda mengejutkan para prajurit iblis itu. Mereka langsung bergerak menghadang.


"Manusia.... Manusia datang... Serang....!"


teriak beberapa iblis sambil melompat dari atap rumah para penduduk, mereka hanya melihat sekitar seribu pasukan yang berada di bagian depan.

__ADS_1


"Mereka rupanya masih bercokol di dalam kota, kita usir mereka!" kata Zhang Sin Ming melihat ke arah para prajurit iblis yang berlompatan dari atap rumah para penduduk yang di tinggalkan penghuninya.


"Habisi para iblis itu...!" perintah Lee Tang Yin pada para pendekar bawahannya. Para pendekar itu langsung berlompatan dari atas kuda mereka menyongsong serangan para prajurit sekte iblis itu.


"Hiyaaa...!" Zhang Sin Ming langsung melesat bagai kilat ke arah beberapa iblis yang hendak menyerangnya.


Duk! Dek!


"Oorrkh.!"


Dua orang iblis biru yang terhantam tendangan Zhang Sin Ming langsung terpental ke tanah. Zhang Sin Ming langsung melesat cepat menghindari serangan iblis yang menyerangnya.


Sring!


Wa Hua Wa tanpa basa-basi langsung melompat sambil menghunus pedang baja putih di balik punggungnya.


"Hiyaaa...!"


Set! Wut!


Crass!


Oorrkh..!" beberapa prajurit iblis langsung tumbang terkena sambaran pedang di tangan gadis cantik berbaju merah dan berambut merah itu.


Wong Mo Gei pun tidak tinggal diam, pemuda itu langsung melesat membantu para pendekar.


Serangan para pendekar yang cukup mendadak dan bergerak cepat itu membuat para prajurit iblis seakan tidak mampu memberikan perlawanan berarti.


Jelang siang pasukan iblis yang bercokol di dalam kota hampir habis di bantai para pendekar dan para prajurit yang begitu bersemangat.


"Tuanku, tampaknya hamba bersama roh suci yang lain tidak dapat bagian," ucap roh suci raja naga api sambil menggeliat, di dalam tubuh Wong Mo Gei yang bagai sebuah ruang yang begitu besar.


Seekor roh suci bisa melihat keadaan di luar melalui mata pemiliknya. Raja naga api memanfaatkan mata Wong Mo Gei untuk melihat situasi pertempuran.


"Ya, jumlah pasukan iblis yang bertahan di pinggiran kota Yin tidak begitu banyak raja naga api," jawab Wong Mo Gei.


"Mungkin mereka lagi membagi pasukan, karena mengadakan penyerangan pada beberapa negeri di seberang lautan, Tuanku,"


"Ya, bisa jadi," jawab Wong Mo Gei sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Mo Gei, apa kita langsung ke desa di depan?" tanya Wa Hua Wa sambil menyarangkan pedangnya ke dalam warangka.

__ADS_1


"Kita lihat yang lain, jika tidak ada yang terluka serius kita bisa lanjutkan," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum.


"Bagaimana Tuan Lee Tang Yin, apa tenan-teman pendekar ada yang terluka?" tanya Wong Mo Gei pada Lee Tang Yin yang lagi berbicara dengan Singa Merah.


"Beberapa orang pendekar dari perguruan mengalami luka ringan, tapi sudah di obati oleh prajurit medis," jawab Lee Tang Yin.


"Bagaimana Ayahanda, apa kita lanjutkan? Atau kita istirahat dulu?" tanya Wong Mo Gei pada ayahnya, Zhang Sin Ming.


"Kita lanjutkan saja, Mo Gei. Pasukan iblis tentu ada yang melapor ke bagian belakang, semakin cepat kita bergerak semakin bagus," jawab Zhang Sin Ming.


"Ya, nak. Kita harus cepat sebelum mereka mengirim pasukan kesini," tambah Sin Yuan Ma.


"Baik. Ayah, Ibu," ucap Wong Mo Gei, "Ayo Wa Hua Wa, Cek Pei!" seru Wong sambil melompat ke atas kuda yang tidak jauh darinya.


"Ayo!" jawab Wa Hua Wa bersemangat, sekali lompat gadis cantik itu sudah berada di atas kudanya di samping Wong Mo Gei.


"Heaaa..! Heaaa...!"


Kedua pendekar muda itu segera menebang kuda mereka dengan kencang menyusul di belakang Cek Pei, Sin Yin, Wang Man Chu bersama dengan Zhang Sin Ming dan Shin Yuan Ma, kedua orang tua Wong Mo Gei.


Lee Tang Yin, Singa Merah, Tang Liau Mi dan Si Jenggot Api tampak menyusul dari belakang. Suara kuda yang berlari kencang terdengar memecah kesunyian desa yang kosong itu.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa beri rating ya teman-teman sebagai penyemangat author buat terus nulis.


Jangan dukung novel ini ya teman-teman.


Dengan


Hadiah.


Rate.


Like.


Koment.

__ADS_1


Dan Votenya.


__ADS_2