Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Pertandingan Hari Ketiga


__ADS_3

Tidak terasa kompetisi tahunan tahun ini telah selesai. Sekte Api yang beberapa tahun ini tidak menjadi sekte terkuat, kini telah jadi pemenangnya, bagaimana tidak, beberapa kali pertandingan selalu di menangkan pendekar muda dari Sekte Api.


Wong Mo Gei, Wa Hua Wa dan Cek Pei selalu keluar sebagai pemenang pertandingan. Kini yang masih belum bertanding denga mereka, dan satu-satunya yang bakal jadi saingan mereka adalah Wang Man Chu dari Sekte Awan Putih.


Hari ini adalah hari ketiga pertandingan kompetisi, dimana hari ini adalah hari terakhir pertandingan antara para pendekar muda dari tujuh sekte yang tersisa.


Beberapa orang yang akan bertarung hari ini adalah.




Wong Mo Gei dari Sekte Api lawan Cho Yun Pha dari Sekte Awan Hitam.




Cek Pei dari Sekte Api lawan Wang Man Chu dari Sekte Awan Putih.




Wa Hua Wa dari Sekte Api lawan Sin Yin dari Sekte Es dan Air.




Sin Yin adalah anak salah seorang penuntun dari Sekte Es, ibu Sin Yin berasal dari Sekte Air. Kekuatan roh suci Sin Yin adalah naga es, berwarna putih.


Suasana yang ramai di dalam alun-alun istana Yin dan Yang, adalah hal yang biasa saat pertandingan kompetisi tahunanan ini. Para penduduk berbondong- bondong datang ke alun-alun kerajaan, tua, muda, anak-anak semuanya datang hanya demi menyaksikan pertandingan roh suci yang jarang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.


"Pertandingan selanjutnya! Cek Pei dari Sekte Api melawan Wang Man Chu dari Sekte Awan Putih!"


Terdengar seruan juri penengah di atas panggung kompetisi itu. Tidak lama kemudian terlihat Cek Pei berjalan bersama Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa, kedua kawan akrab itu mengantar Cek Pei sampai ke tepi panggung gelanggang kompetisi itu.

__ADS_1


"Cek Pei, kami mendukungmu, berhati-hatilah," pesan Wong Mo Gei, "Aku tidak bisa membantumu," tambahnya lagi.


"Dukungan kalian, adalah bantuan yang terkuat yang ku miliki," jawab Cek Pei sambil tersenyum. Cek Pei pun melompat ringan ke atas panggung gelanggang pertandingan.


Wa Hua Wa pun ada di sana walau tidak banyak bicara. Gadis cantik berbaju merah itu berdiri di samping Wong Mo Gei.


Dari sudut sebelahnya terlihat Wang Man Chu dari Sekte Awan Putih memasuki panggung gelanggang kompetisi itu. Pemuda itu cukup tampan dan berwibawa, dengan senyum di bibirnya. Wang Man Chu menaiki panggung itu.


"Apa kalian, siap?" tanya juri penengah itu, tegas.


"Kami siap, Paman, " jawab Wang Man Chu dan Cek Pei berbarengan. Keduanya tanpa di perintah langsung saling memberi hormat. Mereka berdua sudah tidak asing dan canggung lagi, berada di atas panggung kompetisi itu.


Apalagi bagi Wang Man Chu yang sudah jadi juara kompetisi selama dua tahun berturut-turut itu. Cek Pei pun walau baru tahun ini ikut, Cek Pei berulang kali menaiki panggung ini dalam tiga hari.


Juri penengah cepat melangkah mundur, "Kalian mau mengadu kedikjayaan, atau langsung mengadu kekuatan roh suci?" tanya juri penengah itu.


"Kalau saya memilih adu tanding kedikjayaan saja dulu, Paman," jawab Cek Pei.


"Bagaimana denganmu, Wang Man Chu?"


"Baiklah... Ingat, ini bukan pertarungan yang sebenarnya, ini hanya pertandingan sebuah kompetisi, usahakan tidak membahayakan nyawa lawanmu," kata juri penengah itu, menasehati.


"Baik, Paman," jawab Cek Pei dan Wang Man Chu serentak. Kedua orang pemuda itu pun langsung mundur kearah belakang mereka sekitar tiga langkah ke belakang.


"Aku duluan, Cek Pei! Heaah...!" perkataan lantang Wang Man Chu mengawali gerakannya melompat cepat ke arah Cek Pei dengan kedua tangan membentuk cakar.


"Hup!"


Cek Pei dengan begitu gesit menghindari cakaran jemari tangan Wang Man Chu yang terlihat kaku bagai cakar elang menyambar ke arah wajahnya. Dengan sedikit memiringkan kepalanya ke samping Cek Pei berhasil menghindari serangan Wang Man Chu itu.


"Sha...!"


Cek Pei begitu cepat menyorongkan telapak tangannya yang juga membentuk cakar ke arah perut pemuda dari Sekte Awan Putih itu. Wang Man Chu cukup terkejut dan tidak menyangka kalau Cek Pei sambil menghindar sempat memberikan serangan balasan.


Wang Man Chu cepat bergerak memutar tubuhnya sambil menggeser. Cakar tangan Wang Man Chu mengibas ke arah bahu Cek Pei. Namun Cek Pei dengan begitu gesit memiringkan tubuhnya ke samping kiri.


Serangan cakar Wang Man Chu itu hanya lewat di samping tubuh Cek Pei. Tanpa di sadari Wang Man Chu kaki kanan Cek Pei bergerak begitu cepat menerjang ke arah perutnya.

__ADS_1


Buk!


"Akh..!"


Suara kesakitan keluar dari mulut Wang Man Chu, di iringi tubuhnya terdorong cukup kuat ke arah belakang. Hingga tubuh Wang Man Chu ter tahan di pagar pembatas gelanggang itu.


Wang Man Chu kembali berdiri tegak, yang sebelumnya sempat membungkuk menahan nyeri di perutnya, Tangan kiri Wang Man Chu terlihat mendekap perutnya yang terhantam tendangan Cek Pei tadi.


"Kau tidak apa-apa, kawan?" tanya Cek Pei tampak agak menyesal menendang dengan cukup keras tadi ke arah perut Wang Man Chu.


"Ukh.. Aku tidak apa-apa, kawan. Hanya nyeri sedikit," jawab Wang Man Chu seraya tersenyum setelah bisa mengatur napas. Untungnya Cek Pei tidak meneruskan serangannya, jika tidak Wang Man Chu pasti sudah terpukul mundur hingga keluar gelanggang itu.


"Syukurlah, kalau kawan tidak apa-apa," kata Cek Pei lega.


"Mari kita lanjutkan,"


"Silahkan, aku siap kapan pun," jawab Cek Pei sambil mengangkat telapak tangan di atas pinggang dan di depan perutnya, dengan telapak tangan teracung ke depan.


Wang Man Chu kembali membuka kuda-kudanya dengan kedua tangan membentuk cakar, tangan kanan agak merapat di depan dada kanan. Sedangkan tangan kiri merentang lurus agak menekuk ke atas menghadap ke depan.


"Hiyaaa...!"


Kali ini Wang Man Chu tidak melompat menyerang Cek Pei dengan cakar kedua telapak tangannya, tapi ia bergerak cepat dari arah depan. Cakaran jemari Wang Man Chu langsung mencerca ke arah dada Cek Pei. Sepupu Wong Mo Gei itu cepat menahan lengan kiri Wang Man Chu dengan belakang telapak tangan kanannya, sedangkan telapak tangan kiri Cek Pei bergerak cepat ke arah pergelangan tangan kanan Wang Man Chu.


Begitu cepat dan sulit di hindari kedua telapak tangan Cek Pei bergerak maju ke arah dada Wang Man Chu. Pemuda itu tersentak, cepat-cepat ia menarik tubuhnya kebelakang, menekuk kedua kakinya ke arah bawah, gaya kayang.


Seramgan telapak tangan Cek Pei hanya lewat di atas dada Wang Man Chu. Cek Pei kembali menyerang dengan begitu cepat melakukan tendangan bawah mengincar kedua kaki Wang Man Chu. Dengan cepat pemuda itu mengangkat kedua kakinya sambil menapakkan telapak tangannya ke lantai gelanggang dan melakukan salto ke belakang.


Serangan kedua pemuda itu begitu cepat. Seluruh mata yang ada di tempat itu seakan enggan berkedip, karena tidak ingin ketinggalan satu gerakan dari kedua pemuda yang sedang adu kebolehan di atas panggung gelanggang kompetisi itu.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate, Koment, Like, dan Favoritnya. Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2