Pedang Naga Kayangan

Pedang Naga Kayangan
Pendekar Dari Negeri Tiongkok


__ADS_3

Setelah saling berkenalan Wong Mo Gei dan Mojin kini saling berhadapan di tengah gelanggang.


"Mari kita mulai anak muda," kata Mojin sambil tersenyum.


"Silahkan, Tuan," jawab Wong Mo Gei sambil membalas senyum Mojin.


Kedua pendekar itu kini saling berhadapan di tengah gelanggang dan membuka kuda-kuda mereka masing-masing. Mojin melompat sambil mengarahkan sebuah pukulan tangan kosong ke arah wajah Wong Mo Gei, dengan begitu tangkas dan sigap pemuda dari Sekte Api itu itu menahan pukulan Mojin yang begitu kuat dengan telapak tangannya.


Mojin tersentak kaget ketika pukulannya yang mengandung tenaga dalam yang begitu tinggi di tahan dengan begitu santai oleh Wong Mo Gei. Mojin segera melompat kebelakang setelah menapak telapak kaki di lantai gelanggang itu, mojin kembali melompat maju dengan memberi sebuah tendangan yang cukup cepat ke arah perut Wong Mo Gei. Dengan begitu sigap Wong Mo Gei menahan serangan tendangan Mojin itu, kali ini Wong Mo Gei tidak hanya menangkis, dengan cukup cepat pemuda itu memberikan serangan balik dengan menendang ke arah sisi kiri Mojin.


"Heh...!"


Mojin tersentak dan berusaha menahan tendangan Wong Mo Gei dengan siku kirinya, namun rupanya tendangan Wong Mo Gei itu jauh bertenaga dalam di banding pertahanan Mojin, mau Tidak mau laki-laki itu terhuyung ke samping.


Belum sempat yang menyeimbangkan keseimbangan tubuhnya Wong Mo Gei telah bergerak kembali dengan memberikan sebuah tendangan cepat bertubi-tubi dan begitu tersusun rapi terkesiap dan segera menarik tubuhnya ke belakang sambil menapaki tendangan Wong Mo Gei itu.


Namun Wong Mo Gei tidak hanya menyerang dengan tendangan kakinya ia juga menyerang dengan telapak tangan bersusun.


Telapak tangan penguasa roh Suci Raja Naga itu yang membentuk cakar bergerak begitu cepat ke arah wajahmu Mojin dengan


cukup cepat. Mojin berusaha menghindari serangan Wong Mo Gei cukup cepat, sebuah serempetan cakar tangaWong Mo Gei berhasil menyerempet bahu kanan Mojin.


Crass.!


"Aagkh..!"


Mojin terkesiap, laki-laki itu tersentak mundur sambil memegang bahunya tampak mengalirkan darah segar berwarna merah.


Rupanya Wong Mo Gei memang ingin mencoba kesaktian laki-laki bertubuh besar itu, ia kembali bergerak dengan jurus jurus cakar naga Kayangan nya. Mojin cepat meningkatkan tenaga dalamnya dan berusaha menahan serangan Wong Mo Gei itu, namun rupanya gabungan tenaga dalam Wong Mo Gei yang dibantu oleh raja naga dari dalam tidak mampu ditahan oleh Mojin. Sebuah tendangan cepat ke arah perut Mojin dan mendarat telak.


Mojin terkesiap, dan terkejut, namun ia tidak sempat lagi menarik tubuhnya. Tendangan Wong Mo Gei itu telah telak menghantam perutnya.


"Buak!


"Aagkh...!"


Erangan dan kesakitan melengking keluar dari mulut laki-laki tampan bertubuh besar itu. Kontan saja tubuhnya terpental menghantam dinding gelanggang itu, tubuh Mojin terpental hingga jatuh keluar gelanggang. Begitu sampai menyentuh tanah Mojin segera melompat bangun dengan sekali lompatan ia sudah berada di dalam gelanggang lagi. Lengan kanannya menyeka darah yang keluar dari sela-sela bibirnya.


Mojin bukannya mengebor marah, malah tersenyum ke arah Wong Mo Gei.


"Anak muda Rupanya kali ini aku benar-benar bertemu seorang pendekar yang sangat hebat, kekuatan batu biru. dan batu merah yang telah aku miliki selama ini tidak mampu menahan kekuatan serangan mu. Jurus cakar naga mu begitu bertenaga, tendangan mu sungguh di luar dugaanku. Aku mengaku kalah," kata mojin sambil tersenyum.


"Tidak mungkin?!" desis Tom Sam Cong melihat Mojin yang selama ini tidak pernah ditaklukkan dalam pertarungan pertama. Kini harus takluk dalam beberapa jurus saja di tangan Wong Mo Gei.

__ADS_1


"Mungkinkah pemuda itu, Dewa atau iblis. Kekuatannya yang begitu dahsyat," gumam Tom Sam Cong dalam hati.


"Anak muda, aku merasa kau masih


berusaha menahan gerak tenaga dalam mu.


Aku tidak bisa melihat seberapa besar kekuatan mu, namun aku bisa merasakan kekuatan yang ada di dalam tubuhmu jauh di atas para pendekar yang ada di ruangan ini," tambah Mojin lagi


Wong moge hanya tersenyum mendengar pujian Mojin itu.


"Saya tidak sehebat yang Tuan katakan," jawab Wong Mo Gei merendah.


"Ha ha ha...Kau begitu rendah hati, anak muda. Sekarang aku ingin mencoba pedangku ini, apa pedangku ini sanggup untuk Mendesakmuatau tidak?" kata Mujin seraya menghunus pedang yang tersandar di tiang gelanggang itu.


Baru saja Mojin bergerak maju, tiba-tiba saja Singa Merah membentak dari bawah Heh... Mojin! Bukankah peraturan dalam pertarungan di atas gelanggang siapa yang terlempar ke bawah kalah!" seru Singa Merah dengan suara yang menggema.


"Ha ha ha... Singa Merah, rupanya kau memang sudah mendukung pemuda ini, tapi maaf aku memang sudah mengaku kalah cuma aku ingin mencoba pedangku ini. Sudah bertahun-tahun belum pernah aku menghunus pedangku untuk menghadapi seorang petarung yang bertarung dengan ku," kata Mojin lagi.


"Tidak apa-apa, Tuan Singa Merah. Biarkan saja dia ingin mencoba pedangnya," jawab Wong Mo Gei sambil tersenyum. Wong Mo Gei pun memegang gagang Pedang Naga Kayangan yang ada di balik punggungnya.


Begitu pemuda itu menghunus pedang yang terpatri di balik punggungnya. Cahaya semburat merah menerangi tempat itu, semua mata yang ada di tempat itu terpana kecuali Singa Merah, Cek Pei, Wa Hua Wa dan Sin Yin.


Semua orang di sana takut dan Terpukau melihat cahaya merah dari pedang naga kayangan itu.


"Pedang Naga Kayangan?! Tidak mungkin?"


desis Mojin.


Mojin langsung melepaskan pedang yang tadi di hunus nya dari sarungnya. Mojin langsung berlutut di depan Wong Mo Gei.


"Maafkan aku, Pendekar pilihan. Jika aku tahu kau adalah penguasa Pedang Naga Kayangan. Aku tidak akan berani bertarung denganmu,"


Semua orang terkejut melihat Mojin yang selama ini gagah perkasa berlutut di depan Wong Mo Gei.


"Apa yang terjadi?"


Gumam orang-orang itu kenapa Mojin yang selama ini gagah perkasa berlutut begitu melihat pedang di tangan pemuda itu.


"Bangunlah, Tuan Pendekar. Aku bukan Raja dan juga bukan seorang pangeran, kenapa kau harus berlutut di depanku?" kata Wong Mo Gei setelah menyarungkan Pedang Naga Kayangan kedalam warangka yang ada di balik punggungnya.


"Tuan pendekar. Guruku adalah seorang pendekar pengelana, dia pernah bercerita tentang Pedang Naga Kayangan jika aku melihat atau bertemu seorang pendekar yang mampu mendapatkan pedang Naga Kayangan dari kuburan, pedang aku di perintahkan menjadi pengikut pendekar itu," tutur Mojin.


"Apakah gurumu seorang pendekar dari golongan putih, Pendekar?" tanya Wong Mo Gei. "Guruku adalah seorang pendekar pengelana dari negeri Persia, dia pernah mencoba mendapatkan pedang Naga Kayangan itu seratus tahun yang lalu, namun dia tidak berhasil mendapatkan pedang itu. Malah dia mendapatkan luka dalam yang cukup parah dan hampir lumpuh.

__ADS_1


Diaa mengatakan kepadaku hanya orang terpilihlah yang mampu mendapatkan pedang yang ada di balik punggungmu itu,"


jawab Mojin lagi.


"Baiklah, anak muda. Pertarungan mu selanjutnya adalah dengan si Pedang Kilat.


Dia adalah manusia yang mempunyai kecepatan yang belum pernah aku temui di dalam ruangan ini. hanya dua orang yang tidak mampu aku kalahkan termasuk Pendekar Pedang Kilat itu, tapi dengan pedang Naga Kayangan aku yakin kau mampu melalui semuanya," kata Mojin sambil menepuk pelan bahu Wong Mo Gei dan setelah berkata ia pun melompat ke samping Singa Merah.


Sedangkan Tom Sam Cong hanya terdiam melihat perilaku Mojin tersebut.


Setelah Mojin mundur seorang laki-laki bertubuh langsing, namun kekar dengan sebuah pedang yang cukup indah tergenggam di tangan kirinya, ia melompat ke depan Wong Mo Gei.


"Salam kenal, anak muda setelah mengalahkan Mojin. Kini kau harus mengalahkan aku yang tua ini," kata laki-laki itu.


Kalau boleh saya bertanya saya sedang berhadapan dengan siapa?" tanya Wong Mo Gei dengan sopan.


"Ha ha ha... Rupanya Aku memang sedang berhadapan dengan seorang pendekar pilihan di dunia ini, belum pernah seorang pendekar sebelum berhadapan denganku bertanya siapa Namaku. Perkenalkan namaku adalah Lau Tianjin, margaku Lau Aku adalah adalah pendekar Petualang dari negeri Tiongkok," jawab Lau Tianjin memperkenalkan dirinya, "Orang-orang menggelari aku si Pedang Kilat kecepatan pedangku dan kekuatan pedang batu biru ku ini belum pernah ada yang mengalahkannya, saat berhadapan dengan orang nomor satu di ruangan ini pun pedangku ini tidak terkalahkan aku hanya kalah dalam adu tenaga dalam dengannya," kata Lau Tianjin lagi.


"Perkenalkan saya, Tuan. Saya yang muda ini di beri nama oleh orang tua saya Wong Mo Gei, dari kecil margaku Shin, Namun karena Namaku panjang aku tidak memakai secara langsung margaku," kata Wong Mo Gei memperkenalkan diri.


"Baiklah, anak muda. Sekarang kita mulai pertandingan ini, apa kita langsung memakai senjata kita atau tangan kosong, itu terserah padamu?" kata Lau Tianjin.


"Terserah Tuan saja, jika tidak keberatan saya yang muda ini menawarkan pertarungan tangan kosong terlebih dahulu," jawab Wong Mo Gei.


"Baiklah, anak muda. Bersiaplah karena tenaga dan pukulanku yang sudah di lengkapi dengan kekuatan batu permata merah dan batu permata biru," kata Lau Tianjin seraya meningkatkan tenaga dalamnya ke arah kedua tangannya telapak tangan Lau Tianjin yang kanan berubah bercahaya biru dan telapak tangan kirinya memancarkan cahaya merah Lau Tianjin seorang pendekar yang cukup pintar, ia berhasil menciptakan sebuah pukulan yang bernama Tapak Batu Biru dan Tapak Batu Merah.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.


Rate


Hadiah


Like


Koment


Votenya teman-teman.

__ADS_1


Terima kasih banyak.


__ADS_2