
"Apa yang terjadi, dia manusia atau bukan? Kekuatannya di luar batas kebiasaan," desis Jenggot Api memandang ke arah Wong Mo Gei yang terus menghajar setiap orang yang menyerangnya.
Jenggot Api tidak menduga jika orang-orang yang di bawa oleh Wu Tong Qian bukanlah manusia biasa.
Saat puluhan orang yang menyerang Wong Mo Gei telah banyak yang bergelimpangan. Seseorang muncul dari arah ruangan tempat pertarungan di dalam Pagoda Kematian itu.
"Siapa kau anak muda? Kekuatanmu melebihi kekuatan manusia yang lain. Apakah kau juga seorang monster?" laki-laki yang bertanya itu tampak berdiri di depan puluhan orang-orang yang tampak mulai kehilangan keberanian mereka untuk menghadapi Wong Mo Gei.
"Aku bukan seorang monster seperti yang kau katakan, tapi aku juga bukan orang yang lemah!" jawab pemuda penguasa roh suci raja naga api itu.
"Jadi, kau mau berteka-teki denganku anak muda?"
"Siapa yang berteka-teki denganmu orang jelek," jawab Wong Mo Gei tanpa mengalihkan pandangannya. Memang kalau di perhatikan orang yang ada di depan Wong Mo Gei itu memang sangat jelek, kepalanya botak dengan wajah hitam penuh brewokan. Tubuhnya berotot namun lebih mirip monster daripada manusia.
"Kau akan ku hancurkan manusia tolol. Berani menginjakkan kaki di Pagoda Kematian ini, berarti kau bersiap untuk kematianmu!"
"Siapa dia, Tuan Wu Tong?" tanya Cek Pei tanpa mengalihkan pandangannya. Cek Pei bukan takut Wong Mo Gei di sakiti atau di kalahkan oleh manusia setengah monster itu. Melainkan Cek Pei tidak ingin kehilangan moment penting, jika manusia setengah monster itu menyerang Wong Mo Gei.
"Dia adalah manusia beruang, nama aslinya tidak ada yang tahu, dia adalah orang kepercayaan para penguasa Pulau Larangan ini, termasuk Lee Tang Yin, Dia adalah orang nomor tiga di arena pertarungan ini," jawab Wu Tong Qian setengah berbisik. Sementara itu Jenggot Api tampak mengelus jenggotnya dengan kedua telapak tangannya, sedangkan bibirnya mengulum sebuah senyum kemenangan.
Jenggot Api begitu yakin kalau Wong Mo Gei akan di habisi kali ini, tanpa ampun. Siapa yang tidak kenal manusia beruang di arena pertarungan Pagoda Kematian ini, manusia setengah binatang itu hampir tidak terkslahkan di dalam gelanggang pertandingan.
"Sebaiknya kau tarik kata-katamu, bocah. Aku tidak ingin membunuh seorang anak kecil!" gertak Manusia Beruang dengan suara cukup keras.
"Aku tidak akan mundur sebelum mendapatkan apa yang aku butuhkan dari tempat ini," jawab Wong Mo Gei sengit.
"Kau memang harus mati di sini, anak muda! Heaaa...!"
Setelah berteriak nyaring manusia beruang itu melompat bagai seekor beruang yang menerkam mangsa. Wong Mo Gei tampak begitu tenang menunggu serangan Manusia Beruang itu.
Begitu Manusia Beruang itu hampir mengenainya, tangan kanan Wong Mo Gei bergerak begitu cepat bagaikan kilat.
Tap!
"Ogkh..!"
__ADS_1
Semua mata tampak terbelalak melihat manusia beruang ter tahan di udara dengan kedua tangan berusaha melepaskan cengkraman tangan Wong Mo Gei pada leher besarnya. Namun Manusia Beruang itu seakan kehilangan tenaga. Kedua tangan besar dan berotot padat Manusia Beruang itu berusaha melepaskan cengkeraman tangan Wong Mo Gei yang begitu kuat.
"Hih..!"
Begitu ringan tangan kanan Wong Mo Gei bergerak membanting tubuh besar Manusia Beruang itu ke lantai.
Broll....!
Lantai bangunan Pagoda Kematian yang terbuat dari batu mengkilat bagai marmer itu langsung pecah berkeping-keping, terhantam tubuh besar Manusia Beruang itu.
"Ogkh..!"
Mulut besar Manusia Beruang itu mengucur darah berwarna kehitaman, darah mengalir dari sela-sela bibir dan lobang hidungnya.
Semua orang tampak terpana dan setengah tidak percaya melihat kenyataan di depan mata mereka. Tubuh Manusia Beruang yang begitu besar di angkat bagai sekarung kapas yang begitu ringan.
Orang-orang itu semakin kehilangan keberanian mereka. Tanpa mereka sadari kaki mereka melangkah mundur semakin menjauh.
Jenggot Api tampak terdiam wajahnya yang tadi cerah penuh kemenangan, kini berubah kehitaman menahan amarah dan rasa malu.
Plok! Plok! Plok!
Tubuh mereka lebih bagus di bandingkan tubuh Manusia Beruang, memang tubuh keduanya kekar dan berotot. Namun wajah keduanya memiliki paras yang cukup gagah, tapi tidak terurus.
"Kakak, ada orang yang sanggup mengalahkan Beruang. Berarti dia harus berhadapan dengan kita," kata salah seorang dari dua laki-laki itu.
"Kau benar, Xin Er. Dia harus mengalahkan kita," jawab orang yang berambut pendek.
"Siapa lagi manusia kembar itu?" decak Cek Pei seakan bertanya pada dirinya sendiri.
"Dia Si Kembar dari Neraka, keduanya terkenal tidak terkalahkan. Orang-orang Pulau Larangan ini memberi mereka Iblis Kembar Dari Neraka, mereka orang nomor dua di arena pertarungan Pagoda Kematian ini," jawab Wu Tong Qian mendengar decakan Cek Pei tadi.
Manusia kembar itu bersenjata gada, yang berambut panjang Di kucir memakai gada besar bulat denga sebuah belati di ujungnya. Sedangkan yang berambut pendek memakai gada berduri, kedua gada mereka di buat dari campuran besi baja putih dan perak. Sehingga kedua gada itu begitu mengkilat terkena pantulan cahaya api obor yang bersusun rapi pada dinding dan tiang Pagoda Kematian itu.
"Yang berambut panjang bernama Xin Yuang, dan yang berambut pendek bernama Xin Er," kata Wu Tong Qian menyebut nama asli Iblis Kembar Dari Neraka itu.
__ADS_1
"Ha ha ha...! Bocah, kau sudah bosan hidup, atau memang kau mencari kematianmu. Hah!" bentak Xin Er menggema suaranya menggema di dalam Pagoda Kematian itu.
"Hidup dan mati di tanfan pencipta, bukan di tangan kalian!" jawab Wong Mo Gei tenang.
"Dia menantang kita, Kak! Biar aku yang membunuhnya!" murka Xin Yuang seraya merangsek maju dengan mengayunkan gada besar penuh duri itu.
"Hih!"
Wong Mo Gei tampak begitu tenang menanti serangan salah seorang Iblis Kembar Dari Neraka itu. Begitu gada besar itu hampir mengenai kepalanya dengan begitu cepat Wong Mo Gei menarik tubuhnya satu langkah ke samping kanan.
Buarrr...!
Brooll...!
Lantai Pagoda Kematian itu langsung hancur berantakan di hantam gada besar Xin Yuan itu. Debu-debu menyembur ke udara bercampur pecahan batu.
"Aku yakin pemuda itu hancur lebur. Aku tidak sanggup melihatnya," gumam Jenggot Api setengah berbisik.
"Jangan terlalu senang dulu, Jenggot Api. Coba perhatikan baik-baik," kata Wu Tong Qian.
"Apa!"
Semua mulut orang yang ada di sana ternganga hampir tidak percaya.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
__ADS_1
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.