
Suasana hutan yang tampak begitu sepi, Tidak ada pasukan iblis yang berkeliaran di dalam hutan, namun semua prajurit dan para pendekar yang di pimpin oleh Tian Shan masih bertahan di pinggir hutan, menanti
kabar dari Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa maupun Cek Pei.
Sejauh ini mereka tidak melihat kejanggalan bahwa Wong Mo Gei dan teman-temannya dapat dikalahkan oleh pasukan Iblis yang mengepung di tengah hutan.
Wang Man Chu yang paling percaya bahwa Wong Mo Gei dan kawan-kawannya dapat menghabisi iblis perut bumi dan pasukan iblis yang berada di tengah hutan.
Tian Shan dan Shin Yuan Ma tampak sedang berbicara bersama para petinggi prajurit Kerajaan dan para pendekar. Beberapa orang para pembesar prajurit Kerajaan Yin dan Yang.
"Zhang Shin Ming, apa kau tidak merasa ada kejanggalan dengan hilangnya Mo Gei bersama Cek Pei maupun Wa Hua Wa?" tanya Tian Shan pada ayah Wong Mo Gei.
"Tidak, Paman. Perasaanku baik-baik saja jika masalah perasaan, Shin Yuan Ma tentu lebih peka perasaannya terhadap putranya. Benarkan istriku?" kata Zhang Shin Ming ingin meyakinkan diri dan bertanya kepada istrinya.
"Wong Mo Gei memiliki pedang naga kayangan dan roh suci raja naga api bersamanya. Aku yakin dia tidak akan semudah itu dikalahkan dan di habisi oleh para iblis itu.
"Kita harus tetap menunggu disini, sampai ada informasi yang jelas," jawab Shin Yuan Ma sambil tersenyum getir, walau sejujurnya kata hati wanita itu agak meragukan keberadaan dan mencemaskan putra semata wayangnya.
Nun jauh di dalam hutan sana Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa tampak keluar dari sebuah lubang cacing tidak jauh dari tempat mereka masuk saat mengejar iblis tanah dua hari yang lalu.
Suasana sepi masih mencekam tempat itu, bau busuk masih tercium menyengat hidung dan tampak di sekitar tempat itu puluhan bahkan ratusan mayat pasukan iblis bergelimpangan yang sudah mengeluarkan bau busuk.
"Wa Hua Wa, sebaiknya kita cepat kembali ke tepi hutan, aku mencemaskan ayah dan ibu. Aku takut mereka mencemaskan dan mencariku," ujar Wong Mo Gei.
Wa Hua Wa mengangguk sambil menutup hidung, "Ya, aku setuju," jawab Wa Hua Wa menyetujui keinginan Wong Mo Gei tersebut.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi Wong Mo Gei langsung melesat menuju arah tepian hutan. Hutan yang lebat mulai tenggelam ditelan kegelapan senja.
Jika di tempat terang masih ada cahaya, namun hutan yang begitu lebat ini sudah tampak sangat gelap.
Tidak butuh lama Wong Mo Gei sudah tidak jauh dari tepi hutan tampak puluhan kemah para prajurit dan para pendekar yang sedang melakukan kemah, mereka menunggu informasi dan kabar berita tentang keberadaan empat orang pendekar muda yang tiba-tiba menghilang setelah meminta mendahului masuk hutan di depan mereka.
Salah seorang prajurit khusus kerajaan yang melihat Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa menuju perkemahan mereka.
"Itu Wong Mo Gei kembali!" seru prajurit itu.
Para prajurit yang lain bersorak gembira mengetahui pimpinan pasukan khusus yang memimpin perlawanan terhadap pasukan iblis dalam keadaan baik-baik saja dan tidak mengalami sesuatu kekurangan apa pun.
Setelah sampai di hadapan beberapa orang prajurit yang berjaga, Wong Mo Gei langsung menanyakan keberadaan ayahnya pada salah seorang prajurit, "Apakah paman tahu dimana ayah dan ibuku bersama kakek Tian Shan? tanya Wong Mo Gei pada prajurit itu.
"Mereka ada di kemah besar di tengah-tengah," jawab prajurit itu sambil menunjuk kearah sebuah kemah yang sangat besar diantara puluhan kemah lainnya.
Ada perasaan lega di antara puluhan
bahkan ratusan prajurit dan yang melihat Wong Mo Gei sudah kembali. Namun mereka masih bertanya-tanya kemana Cek Pei dan Sin Yin yang tampak tidak ada bersama Wong Mo Gei dan Wa Hua Wa.
"Dari mana saja kau, Nak?" tanya Shin Yuan Ma sembari memeluk Wong Mo Gei dengan rasa cemas wanita setengah baya itu memeriksa keadaan putra si mata wayangnya.
"Maafkan Mo Gei, Ibu. Mo Gei tidak apa-apa, kami mengejar iblis tanah yang melarikan diri, rupanya iblis tanah melarikan diri ke kerajaan Nirvana.
Kami harus membantu orang-orang kerajaan Nirvana menghadapi pasukan iblis serigala yang menghancurkan mereka," jelas Wong Mo Gei pada ibunya.
__ADS_1
Wang Man Chu tampak menghampiri sahabatnya, "Apa kau tidak apa-apa, Mo Gei?"sambil meneliti keadaan Wong Mo Gei.
"Aku tidak apa-apa, Sahabat. Maaf jika kami membuat kalian cemas, kami juga tidak sengaja berbuat demikian," tutur Wong Mo Gei moge Wang Man Chu.
"Syukurlah, cucuku. Jika kalian baik-baik saja, bagaimana dengan Cek Pei dan Sin Yin. Kenapa tidak bersama kalian, apakah kalian berpisah jalan?" tanya Tian Shan.
"Iya Kek, Cek Pei dan Shin Yin lebih dulu mengadakan pengajaran pada salah satu iblis tanah yang melarikan diri. Kami tidak menyangka jika Cek Pei dan Shin Yin ternyata berpindah tempat ke tempat lain, tapi menurut roh suci kami Cek Pei dan Shin Yin saat ini baik-baik saja.
Roh suci naga api masih bisa merasakan energi roh suci naga air dan naga es," jelas Wong Mo Gei.
"Syukurlah kalau begitu cucuku, kami sempat ragu untuk meneruskan perjalanan karena kami mencemaskan kalian berempat. Tapi mengetahui kalian baik-baik saja itu adalah berita yang sangat menyenangkan untuk para prajurit dan para pendekar yang mendukung kita saat ini," kata Tian Shan merasa lega.
"Maafkan Mo Gei, Kek, kami membuat kalian cemas," ucap Wong Mo Gei merasa tidak enak hati.
"Sekarang yang kita harus pikirkan, apa kita harus melanjutkan perjalanan kita esok hari, jika kita melanjutkan perjalanan tanpa Cek Pei dan Sin Yin?"
"Tidak usah mencemaskan mereka, Kek. Mereka tidak akan kehilangan kita, soal Cek Pei dan Sin Yin aku akan memerintahkan roh suci raja naga untuk menghubungi roh suci naga air dan naga es,melalui telepati, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kita akan bergerak terlebih dahulu menuju perbatasan Sekte Tanah dan Sekte Batu," kata Wong Mo Gei menjelaskan.
"Baiklah, jika kau bisa menghubungi Cek Pei dan Sin Yin. Kakek rasa semua orang yang ada di sini setuju dengan pendapatmu, Cucuku," kata Tian Shan.
"Terima kasih kepercayaan kakek pada Mo Gei," ucap Cek Pei sambil tersenyum. Zhang Shin Ming dan Shin Yuan Ma melihat ke arah sang putra dengan sebuah senyum kebanggaan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....