
Wu Tong Qian mengajak Wong Mo Gei dan ketiga temannya memasuki Pagoda besar itu. Begitu mereka masuk sebuah tempat mirip restoran terdapat di sana, puluhan orang berpakaian ala pendekar yang memiliki senjata bermacam-macam. Ada yang bersenjata pedang, tongkat, tombak dan masih banyak model senjata yang lain.
Puluhan orang itu langsung memandang ke arah Wa Hua Wa dan Sin Yin bagai hewan buas menatap mangsanya.
"Mo Gei, Cek Pei, lihat mereka. Seakan ingin menelan kami bulat-bulat," kata Wa Hua Wa agak merinding melihat tatapan puluhan orang-orang itu.
"Wu Tong Qian! Ada angin apa? Sehingga kau menginjakkan kaki di Pagoda Kematian ini?" Seorang Laki-laki berwajah cukup tampan muncul dari tengah orang-orang yang menatap ke arah Wa Hua Wa dan Sin Yin.
Laki-laki itu memakai pakaian ala bangsawan dengan rambut panjang terurai, namun rambutnya cukup rapi karena kepalanya di ikat kain berwarna hitam bergaris kuning. Jenggot laki-laki itu berwarna merah cukup panjang. Matanya begitu tajam bak mata seekor elang.
"Jenggot Api! Apa kabarmu, Sahabatku? Aku datang membawa empat pendekar muda ini," jawab Wu Tong Qian tersenyum ramah.
"Kau tau Pagoda Kematian ini tidak pernah di injak seorang wanita? Berbahaya bila membawa gadis cantik ke sini Wu Tong Qian!" kata Jenggot Api memperingatkan.
"Sebaiknya kau katakan pada bajingan-bajingan itu, jangan membuat masalah!" jawab Wu Tong Qian.
"Ha ha ha...! Wu Tong Qian! Kau berani menggertak di Pagoda Kematian ini. Kau tahu untuk bisa mencapai istana bawah tanah harus menghadapi orang-orang haus darah itu dulu," jawab Jenggot Api terkekeh.
"Kau tahu siapa aku kan, Jenggot Api? Aku tidak pernah menginjakkan kaki ke Pagoda Kematian ini, selain mendapat undangan dari Lee Tang Yin," jawab Wu Tong Qian sambil tersenyum.
Puluhan orang yang ada di dalam ruangan itu semakin mendekat, mata mereka menatap tajam ke arah Wa Hua Wa dan Sin Yin. Kedua gadis itu mulai merasa risih.
"Jadi, kau ingin membawa anak-anak ini ke hadapan Lee Tang Yin, Wu Tong Qian?"
"Atas izinmu, Jenggot Api," jawab Wu Tong Qian tetap tenang.
"Kau tahu peraturannya, kan?"
"Ya, jika itu memang perlu?" jawab Wu Tong Qian lagi.
"Baiklah... Jika mereka bisa lolos dari orang-orang haus darah itu?" Jenggot Api menunjuk ke arah sebuah gelanggang.
Wong Mo Gei mengerti keinginan Jenggot Api, pemuda itu bergerak maju. Namun baru saja tiga langkah Wong Mo Gei hendak berjalan ke arah gelanggang itu, tiga orang langsung menghadangnya.
"Kami sudah menunggu berhari-hari untuk bertarung, kau baru datang hendak naik ke sana. Hadapi kami lebih dulu!" kata salah seorang penghadang itu.
"Jika itu mau kalian. Aku tidak keberatan!" jawab Wong Mo Gei dengan tenang dan bernada datar.
__ADS_1
"Kau yang meminta anak kecil! Heaaa..!"
Bentakan laki-laki itu mengawali tubuhnya bergerak cepat ke arah Wong Mo Gei dengan sebuah pukulan tinju yang terayun cukup cepat.
Tap!
"Heh!"
Laki-laki ternganga melihat tinjunya di tahan Wong Mo Gei dengan telapak tangan kiri, laki-laki itu berniat menendang Wong Mo Gei dari arah bawah. Namun dengan begitu cepat kaki kiri Wong Mo Gei menahan betis laki-laki itu.
Krek!
"Agkh..!'
Laki-laki itu meringis dengan wajah memerah menahan sakit, karena Wong Mo Gei meremas kepalan tinjunya. Belum hilang rasa sakit di tangannya, kaki kanan Wong Mo Gei bergerak begitu cepat.
Buak!
"Agkh...!"
Dua orang laki-laki bertubuh gempal yang bersama dengan orang yang di kalahkan Wong Mo Gei itu, langsung merangsek maju menyerang ke arah Wong Mo Gei.
Kedua orang itu menyerang dengan begitu cepat, tendangan dari dua arah mencerca ke arah kepala Wong Mo Gei. Namun pemuda itu bergerak cepat sebelum tendangan kedua orang itu mengenai tubuhnya. Pukulan Wong Mo Gei lebih dahulu mengenai tubuh mereka. Begitu cepat gerakan Wong Mo Gei itu, sehingga dalam beberapa detik saja kedua orang bertubuh gempal itu sudah terpental ke lantai.
"Apa..?"
Senua orang berteriak kaget melihat kedua orang yang menyerang Wong Mo Gei itu tiba-tiba sudah berada di lantai dengan mulut bersemburan darah. Jangankan untuk menyerang kembali, berdiri saja keduanya sudah tidak mampu.
Orang-orang itu menatap penuh tanda tanya, dongkol bercampur ragu menyelimuti hati mereka, namun seseorang memprovokasi.
"Kenapa kita ragu, ayo kita serang bersama-sama!"
Entah siapa yang bicara, namun suara itu berhasil memprovokasi puluhan orang-orang itu. Tanpa di perintah mereka langsung merangsek maju bagai prajurit di tengah medan perang.
"Hmm..!" Wong Mo Gei hanya berdeham menatap tajam ke arah para penyerangnya itu. Begitu para pengeroyoknya mendekat Wong Mo Gei bergerak dengan begitu cepat bagai sebuah bayangan. Sulit di mengerti para pengeroyok Wong Mo Gei itu satu persatu berjatuhan ke tanah dengan mulut dan tubuh mengalir darah.
Cek Pei yang tadinya berniat membantu, jadi mengurungkan niatnya. Cek Pei dan Wa Hua Wa berserta Sin Yin jadi terdiam.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Bagaima mungkin puluhan pendekar peserta pertarungan Pagoda Kematian tidak berdaya menghadapi satu pendekar muda!"
Jenggot Api sampai tersurut mundur dua tindak, melihat puluhan orang itu bergelimpangan dalam waktu yang sangat singkat. Satu persatu para pengeroyok Wong Mo Gei itu jatuh ke lantai dan tidak ada seorang pun yang masih sanggup bertarung.
Semakin banyak yang berusaha mendekat semakin banyak pula korban yang berjatuhan. Wong Mo Gei mengamuk bagai seekor singa yang terluka.
Di tengah sengitnya pertarungan, tiba-tiba sebuah suara membahana menggema di dalam Pagoda Kematian itu.
"Berhenti... Lawanmu adalah aku, anak muda...!!!"
Semua mata menatap ke arah asal suara tersebut.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukung novel ini ya teman-teman.
Rate
Hadiah
Like
Koment
Favoritnya ya teman-teman
Terima kasih banyak.
__ADS_1