
Bagi Akmal di manapun berada Yang penting penelitiannya pada tumbuh-tumbuhan tidak terhalangi, maka akan dijalaninya dengan bahagia.
Dan seperti kata Papa Ulya, kalau di sini dia lebih aman. Bisa berlatih menjaga dirinya sendiri dan mengembangkan bakatnya. Dia pun menikmatinya. Apalagi di sana ada Bastian, sahabat sekaligus rekan kerja yang sangat bisa diandalkan. Bersama mereka menempuh pendidikan, dari Bintara sampai sekarang sudah mencapai pangkat letnan.
Kini Bastian tekun membaca buku yang diberikan oleh Akmal. Sampai-sampai tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
“Serius amat, Tian?”
“Cari ilmu lah daripada nganggur.” Bastian pun menghentikan bacaannya dan mencoba fokus pada Crist. Biasanya kalau orang ini datang pasti ada sesuatu yang penting.
“Baguslah. Aku suka itu.” sambil mendaratkan tubuhnya di bangku bersama Bastian.
“Tumben kamu kesini, Crist?”
“Mana Akmal?”
“Sedang shalat. Mungkin ada pesan untuk dia, nanti aku sampaikan.”
“Untuk kalian berdua. Bahkan kita.”
“Maksudnya? Apa kita mau dikirim lagi?”
“Menurut bisikan tetangga begitu. Bahkan lebih jauh tempatnya. Kita akan dikirim ke perbatasan.”
“Temanku yang satu ini benar-benar bakat jadi detektif. Sukanya nguping.”
“Harus itu, biar kita tidak kelabakan.”
“Kerja bagus. Dan aku bersyukur punya teman sepertimu.” Mendapatkan pujian yang demikian menghanyutkan Christian pun tertawa lebar.
“Ada saja kamu ... Kebetulan aku pingin sekali menggunakan penemuan Akmal kali ini.”
“Jangan main-main kamu. Tunggu izin dari departemen.”
“Jangan khawatir, kalau itu pastilah,” jawabnya dengan nyengir kuda.
“Kapan berangkat?”
“Masak kamu enggak hafal soal waktu.”
__ADS_1
Hehehe ....
Jadi teringat dengan tugas pertama mereka. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu tahu tahu ada sirine berbunyi. Tengah malam lagi. Sontak mereka kaget dan terbangun. Listrik dimatikan. Sehingga dalam keadaan gelap mereka menyiapkan diri. Tentu saja hasilnya ya ... acak-acakan.
Tak ada seorang pun dari mereka yang benar dalam menyiapkan dirinya. Ada yang sepatunya tertukar lah, itu masih mending. Bahkan ada yang enggak pakai sepatu. Bajunya tak terkancing lah, atau salah lobang kancingnya sehingga nampak ujung baju tak sejajar. Itupun masih belum apa-apa. Ada juga yang salah mengambil celana. Bukannya celana seragam yang mereka kenakan tetapi celana Abu Nawas untuk tidur atau pergi ke kebun.
Di antara 12 anggota regu hanya satu yang rapi, dia itu Akmal. Mungkin karena hidupnya dipenuhi oleh keteraturan. Maka dalam keadaan bagaimanapun dia akan tetap sama teraturnya. Tapi sayang datangnya terlambat sekali. 2 menit setelah semua berbaris rapi, dia berjalan menuju kami dengan gaya glinak-glinuknya. Tenang dan berwibawa, kata orang yang baru bangun tidur. Bikin anggota yang lainnya gemessss ...
Untung saja dia punya factor X, sang profesor tanaman gitu loh ... Kalau bukan seperti itu mungkin sudah lama ditendang dari angkatan.
Otomatis lah kami semua terkena hukuman. Ya ... kalau hukumannya cuman lari atau push up. Itu bisa diatasi. Tapi kalau membuat tertawa seluruh pasukan, sepertinya harus punya bakat khusus. Dengan segala usaha yang kami bisa, mencoba menghadirkan komedi di tengah-tengah pasukan.
Tapi usaha kami ber-12 orang termasuk Akmal, seakan sia-sia. Karena selama 2 jam penuh, tak ada satu orang pun anggota pasukan yang tertawa. Atau mungkin mereka sengaja menahan diri untuk tertawa. Benar-benar bikin senewen.
Baru ketika kami sudah sangat lelah membuat suatu lelucon, dan waktu sudah menunjukkan jam 3 dini hari, mereka semua tertawa.
Ternyata oh ternyata mereka semua ingin mengerjai kami. Yang termasuk dalam regu khusus dengan factor X. Bener-bener nggak ada yang punya peri pertemanan.
Untuk menghindari kejadian itu lagi, maka kami mengutus Christ untuk mencari tahu kapan kami akan mendapatkan tugas. Agar bisa bersiap-siap lebih awal. dan yang terpenting tidak menjadi komedian di pasukan ini. Kami kan juga mau terlihat gagah, perkasa, berwibawa, tenang seperti anggota-anggota yang lain. Bukan jadi olok-olokan, dengan kepandaian kami menghibur mereka.
Mulai saat itu, Akmal setiap harinya kita ajak untuk bisa bertindak lebih cepat. Tidak banyak mikir nya. Meski tidak 100% berhasil, setidaknya pada saat-saat dibutuhkan, dia siap. Terutama kalau sedang ada tugas.
“Yuk kita bersiap,” ajak Christian.
Untunglah, tak lama kemudian tampak 6 bayangan menuju arah mereka.
“Akmal, Rozi, Umar, dan lain-lain. Ada sesuatu untuk kalian.” Begitulah Crist kalau memanggil mereka. Inginnya memanggil semua nama temannya, tapi kalau banyak, maka dia sebut, “ dan lain-lain.”
“Ada apa?”
“Siap-siap ya ... Jangan lelet. Biar kita tidak terkena hukuman. “
“Tugas lagi kah?”
“Iya, nikmati saja, biar kita cepat naik pangkat.”
Akhirnya semua membubarkan diri menuju tempatnya masing-masing. Mempersiapkan perlengkapan yang nanti akan dipakai. Yang bisa dipakai sekarang dipakai sekarang. Tapi sekiranya tidak bisa mereka menyiapkan di samping bantal mereka. Bila sewaktu-waktu sirine berbunyi, mereka dengan cepat bisa memakainya.
Demikian juga dengan Akmal. Semua keperluan dia, sudah diletakkan di tempatnya. Tanpa disengaja, dia menjatuhkan sebuah foto dari lemarinya.
__ADS_1
Dia baru mengetahui saat ingin meletakkan syal ke rak yang ada ada di dalam lemari.
“Jamilah ... Jamilah,” gumamnya kecil, tanpa menyadari Bastian telah berdiri di pintu kamarnya.
“Sekarang aku tahu, apa yang membuatmu tersenyum tadi sore. Ternyata foto itu tho?” Mata Bastian melirik ke arah foto yang sedang dipegang oleh Akmal.
“Jangan curiga dulu, ini foto adikku yang ada di Indonesia.” Dengan sorotan mata yang tak berpindah dari foto tersebut. Membuat Bastian makin penasaran. Dia pun mendekat, melihat secara langsung foto itu.
Dia pun tersenyum. Ini benar-benar di luar ekspektasinya. Akmal kan seorang yang sangat rapi dan teratur. Pokoknya perfect banget deh. Tapi kenapa dia menyimpan foto yang seperti ini.
Terlihat di sana gambar seorang gadis kecil yang sedang tertidur dengan mata sembab, hidung seperti meniup balon alias beringus. Lha itu juga, kenapa ada aliran lahar di salah satu ujung bibirnya, yang membasahi jilbab biru mudanya. Benar-benar berbanding terbalik dengan kepribadian Akmal.
“Bener itu adikmu?”
“Kenapa memang?”
“Aneh saja.”
“Tapi dia unik dan lucu,” jawab Akmal dengan tersenyum. Kalau sudah diakhiri dengan pernyataan seperti itu, Bastian sudah angkat tangan dach. Hati dan perasaan milik masing-masing. Ogah ikut campur.
“Ada apa kamu kok ke sini?”
“Aku mau mengembalikan bukumu tadi.”
“Sudah selesai?”
“Sudah sih. Cuman aku nggak ngerti. Bisa kamu terangkan nggak?”
“Besok saja gimana. Kita kan harus siap-siap untuk tugas.”
“Baiklah, janji jangan bohong.”
“Insya Allah.”
Sepeninggal Bastian, Akmal berniat untuk meletakkan foto itu di tempat semula. Tapi setelah dipikir-pikir, dia pun meletakkan foto itu di dompetnya. Biarlah menjadi penunggu setia dompet itu beserta dengan kartu-kartu yang lain. Dan bisa dibuka dimana saja, apalagi saat suntuk ada tugas, bisa jadi hiburan.
Lalu merebahkan diri, di tempat tidurnya, yang hanya cukup untuk dia seorang. Mungkin mau membuka lorong waktu untuk bertemu Jamilah.
__ADS_1