
Akmal mendekat, berdiri di samping tubuh Tazkia. Sedangkan profesor Amar memperhatikan monitor yang terhubung dengan tubuh Tazkia. Serta melihat catatan akhir yang ditinggalkan oleh Abbas.
"Kamu sudah sadar, Tazkia," ucap Akmal
"Kamu siapa?"
"Kamu tak ingat siapa aku?"
" Eeeemmm ... zzzz" Belum sempat menjawab, matanya kembali tertutup. Dia tertidur tenang. Akmal menyadari kalau Kesadarannya belum kembali sepenuhnya saat ini.
Akmal memeriksa suhu badannya dan denyut nadinya. Ada sedikit petunjuk bahwa ada kehidupan dalam tubuh Tazkia. Lalu dia menjumpai Profesor Amar, mencocokkan hasil pengamatannya.
"Bagaimana Prof."
"Aku belum bisa menyimpulkan. Sepertinya perlu waktu lebih banyak lagi untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya."
"Darahnya menunjukkan pergerakkan aneh. Prof."
"Ya. Aku juga merasakan hal yang sama. Seperti ... Aliran pada ... Ah aku tak berani menyimpulkan." Amar geleng-geleng kepala dengan gelisah. Nafasnya pun berhembus dengan kasar.
"Pada tumbuhan yang sedang layu kah, Prof?"
Profesor Amar mengangguk. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya. Dia mengambil nafas pelan dan membuangnya sambil berkata,"Yach!"
Akmal langsung terdiam dan menundukkan kepala. Bukannya tidak tahu tetapi dia hanya ingin memastikan bahwa kesimpulannya sama dengan apa yang dipikirkan oleh Profesor Amar.
Apa yang ditakutkan selama ini terjadi juga.
"Sudah. Lebih baik kita lanjutkan apa yang kita rencanakan. Kamu berikan zat itu padanya. Kita amati apa yang akan terjadi." Perkataan Amar cukup membuat hati Akmal tenang.
"Baik.'
Akmal meninggalkan Profesor Akmal menuju almari tempat zat Y21MNS14 tersimpan. Almarinya telah kembali ke keadaan sebelum kejadian. Kaca yang berlubang telah utuh, tidak nampak goresan sedikitpun.
Namun tiba-tiba bayangan Abbas terlintas dalam pikirannya. Orang yang sebulan ini telah menemaninya melakukan penelitian.
Meskipun sejak awal AkmaI telah menaruh kecurigaan pada Abbas, tapi dia tak mempunyai data maupun bukti yang kuat. Apalagi tindak tanduknya tidak mencurigakan sama sekali. Dia baik dan bertanggung jawab. Catatan-catatan yang dia buat sesuai dengan pengamatannya. Ini semakin meyakinkannya bahwa kecurigaannya itu salah.
Baru hari ini Dia merasa bahwa yang dipikirkan pada awal berjumpa itu benar. Lalu siapakah yang menyuruhnya dan menyusupkannya ke dalam departemennya. Dan yang terpenting untuk apa dia melakukan semua itu.
__ADS_1
Apa ini ada hubungannya dengan William? Mereka berasal dari daerah yang sama. Kalau tak salah Dia adalah adik kelas kami di SMA dulu. Dulu dia mempunyai sedikit punya catatan kenakalan. Membuat kita berdecak, wah ... wah ... wah ... Ini sih percobaan yang berbahaya dan menakutkan. Itu dulu .... long ago
Ah, sudahlah ....
Akmal segera mengambil beberapa cc zat Y21MNS14 dengan alat suntik. Lalu mempersiapkan peralatan yang lain sebelum membawanya ke tempat Profesor dan Tazkia berada.
Setelah semuanya siap, ia pun berjalan ke tempat meja observasi. Mengamati sesaat tubuh yang beberapa hari ini terbujur kaku di atas meja observasi. Akmal memandang sekilas wajah Tazkia yang sudah teramat pucat sebelum menyuntiknya di bagian lengan.
"Bismillahirohmanirohim ... Semoga Allah memberkati dengan apa yang aku lakukan untuk menyembuhkan pasienku ini," ucapannya sesaat sebelum menyuntikkan zat itu pada tubuh Zaskia.
Terlihat mata Zaskia terbelalak sebentar. Seperti orang yang terkejut. Lalu sesaat kemudian terkatup kembali dengan rapat.
"Tenanglah Tazkia. Kami tidak akan mencelakaimu," bisiknya lirih. Tubuh Tazkia kembali tenang.
Setelah itu dia membereskan peralatan suntiknya. Membawanya ke tempat yang aman. Meninggalkan Profesor Amar yang masih mengamati dengan seksama.
Sesaat kemudian sudah kembali lagi. Dia berdiri di samping profesor.
"Bagaimana Prof?"
"Sabar aja. Y21MNS14 masih berjalan."
"Prof ini sudah hampir 2 jam tapi belum ada perubahan. Bagaimana ini?"
"Kita tunggu 8 jam. Bila belum ada reaksi, kita suntik lagi dengan dosis yang sama seperti tadi."
"Kita begadang di sini dong?" AkmaI mencoba memecah ketegangan di antara mereka.
Bahu lengan Profesor Ahmad pun terangkat.
"Yah, mau bagaimana lagi."
"Kalau gini kapan aku bisa ke tempat Profesor?"
"Menurutmu, gimana?"
"Zaskia punya seorang kakak seorang peneliti juga. Dia sekarang ada di sana di rumahku. Aku mau bawa Zaskia ke sana. Menurut Profesor gimana?"
"Tak mengapa." Profesor mengangguk, memberikan persetujuan.
__ADS_1
Tak ada salahnya untuk dicoba. Apalagi saat ini kita dikepung oleh masalah yang tak tahu siapa dalang di balik semua itu.
"Kalau menurutmu itu lebih baik tidak apa-apa karena yang kita tangani saat ini banyak sekali. Tapi aku sanksi, Apakah dia dapat dipercaya?"
"Masalah itu aku nggak tahu. Yang aku tahu dia baik. Tapi jangan khawatir Prof, orang tuanya akan datang. Kalau tidak salah sebentar lagi mereka akan sampai."
"Maksudmu?"jari telunjuknya mengarah ke Akmal, menatap dengan bola mata membulat sempurna. Dia sudah memperkirakan apa yang menjadi rencana Akmal.
Senyum Akmal mengembang,"Sekedar untuk berjaga-jaga, Prof. Bukankah baik mempertemukan sebuah keluarga."
"Kamu!! ... Ah terserahlah ... Yang penting bisa membuat Tazkia lebih baik dan membantu penelitian kita selanjutnya."
Sejahat jahat anak manusia, seburuk-buruk anak manusia, pasti masih ada rasa sayang kepada orang tuanya yang telah melahirkannya. Kurasa William masih seorang manusia. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa apabila orang tuanya dalam pengawasan.
"Ya sudah. Kita persiapkan saja sekarang!"
"Alhamdulillah, dengan senang hati. Semoga Allah memudahkan urusan kita, Prof."
"Amin ... Nanti kamu mampir dulu ke rumahku ya ... biar mereka juga cepat tertangani."
"Baik Prof."
Profesor Amar mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya segala sesuatu telah direncanakan dengan matang oleh Akmal. Dia hanya mengikutinya saja.
Kalau masalah strategi, Profesor memang tertinggal jauh dengan Akmal karena Akmal mendapatkan pendidikan militer plus strategi militer juga, sedangkan dia tidak. Tapi kalau masalah penelitian jangan ditanyakan, Dia lebih unggul. Akmal banyak belajar padanya.
Selain itu pula, dia melihat perkembangan Tazkia yang seolah-olah aliran darahnya itu seperti pada tumbuhan. Bagaimanapun tumbuhan akan bisa hidup dengan baik apabila mendapatkan sinar matahari dan juga tempat yang subur. Selama ini Tazkia berada di laboratorium sehingga dari ke hari ke hari tubuhnya tampak semakin pucat.
Namun ada satu yang masih mengganjal dalam pikirannya.
"Akmal! Apakah nggak sebaiknya, kita ajak dia ke sini?"
"Aku juga berpikir begitu Prof. Hanya saja pengalaman dua kali ini, Bastian dan juga Abbas yang akhirnya mengkhianati kita membuatku ragu membawa orang asing dalam lingkungan kita lagi."
"Apalagi Tazkia adalah bagian keluarga mereka. Siapa tahu dengan begitu insting dan perasaan manusianya akan lebih berkembang. Dan ini akan mempercepat kesembuhan dia."
"Baiklah kalau alasanmu seperti itu hanya saja nanti kalau ada apa-apa bawa Tazkia ke sini lagi."
"Baik Prof."
__ADS_1