Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Bertemu


__ADS_3

Untuk sesaat jendral Akmal duduk termenung. Sambil memandang sebuah foto yang telah lama disimpannya. Sejak dia pindah dari Indonesia ke Turki.


Sebuah foto gadis kecil yang sedang tidur. Dengan wajah sembab. Setelah menangis. Sehingga jilbab kecilnya itu penuh dengan hehehe ... tahu lah sendiri. Ih ... Jorok banget ....


"Jendral Akmal, semua sudah siap."


"Ya, ayo!"


Dia pun menyimpan foto itu kembali ke dalam dompetnya. Lalu meletakkan di dalam salah satu saku celananya.


Langkahnya menjadi ringan saat keluar dari ruangannya. Menuju tanah lapang. Disana telah menunggu pasukan kecil. Hanya 12 orang. Yang akan dibimbingnya dengan Robby Dan juga seorang prajurit wanita. Untuk sedikit memperkenalkan pesawat mereka.


Meskipun dirinya bukan bagian pasukan udara. Namun untuk masalah penerbangan pesawat, Jangan ditanya! Sejak remaja Akmal sudah menguasainya. Ini disebabkan orang tuanya memiliki beberapa unit pesawat pribadi. Sehingga dia bisa dengan leluasa belajar. Apalagi saat ini, dirinya termasuk dalam tim. Yang merancang pesawat tersebut ada. Sehingga sedikit banyak dia mengetahui tentang seluk beluk pesawat itu dan cara pengoperasiannya.


Maka pada saat komandan memberikan tugas. Untuk melatih pasukan yang akan menerbangkan pesawat tersebut, Dia tidak canggung lagi.


Bukan tanpa alasan mereka memperkenalkan pesawat pada pasukan kecil itu. Karena sebenarnya dari pihak Indonesia telah merencanakan untuk membeli pesawat tersebut. Bahkan sudah ada MOU tahap awal untuk melakukan pembelian 2 unit pesawat yang mereka buat.


Dari jauh, dia sudah tersenyum menatap sepasukan kecil itu. Apalagi dengan adanya satu prajurit wanita dengan baju yang dia kirimkan. Busananya menutup rapat seluruh tubuh. Hanya terlihat bola matanya yang indah saja. Dia semakin bersemangat.


Kurasa dia Jamilah. Meski dirimu sekarang telah menjadi dewasa. Aku tak melupakanmu. Tak peduli Apakah engkau masih mengingatku atau tidak. Yang jelas semakin kau dewasa semakin diriku ingin memilikimu. Tentu dengan cara yang halal. Moga-moga belum terlambat dan diterima ....


Dia berdiri paling depan. Sendiri tak ada yang menemani baik di depan di samping maupun di depannya. Tapi dia begitu gagah. Tidak tampak sedikit pun keraguan dalam sinar matanya. Yang masih tetap fokus mengarah pada pesawat yang kini ada di belakangku..


Apakah dia begitu penasaran akan pesawat baru itu. Sehingga tak memperhatikan diriku yang sudah ada di hadapannya.


"Hai!" Tangan ku kibaskan. Namun dia tak beraksi.


Oh ... Alangkah malang diriku. Ternyata Aku tersaingi oleh sebuah pesawat. Benda mati yang bisa terbang di angkasa. Oh ... Oh ... Hehehe ... Ini membuat Dia semakin lucu.

__ADS_1


Entahlah, aku kok ingin sekali untuk menggoda dia seperti waktu kecil dahulu. Tapi sayang ... Aku sedang ada tugas khusus dari komandan, menemani mereka. Tapi semuanya bisa diatur, kan?!


"Kamu, maju ke depan!"


Bola matanya seketika membulat. Terlihat makin cantik. Apalagi saat tertegun dan menatapku lama ... Whuuaalllahhh ... Kepalaku terasa membesar seketika ... GR ... Tapi yang Ku suka, saat satu kata meluncur tanpa sadar dari bibirnya.


"Kak Bara?!"


"Ya. Ada apa Jamilah?"


Untuk sejenak dia masih bingung. Mungkin antara percaya dan tidak. Atau mungkin masih ragu dengan penglihatannya. Lalu kembali Dia berucap yang membuatku sedih juga.


"Maaf Jenderal Akmal. Ku kira anda Kak Bara."


Jamilah pun tertunduk sedih lalu mengalihkan pandangannya pada rumput yang terhampar di bawah kakinya. Apa yang dipikirkannya, aku tak tahu.


Dia masih mengingatku tapi dia tak tahu kalau aku adalah Bara. Ah, sudahlah ... Tak mungkin aku menerangkan siapa diriku saat ini.


Kenapa dipilih Tazkia terlebih dahulu karena untuk menemani Jamilah dalam mengoperasikan pesawat ini. Nanti baru Robby.


" Kamu ikut saya." Ku tunjuk seorang pria yang berdiri paling depan. Sesuai dengan amanah yang ku terima.


"Siap!"


"Jamilah, kamu ikut sersan Tazkia."


"Baik Jenderal Akmal."


Kini semua menuju ke tempat masing-masing. Kami berempat menuju ke tempat pesawat yang sedang parkir. Sedangkan yang lainnya mengikuti Robby ke dalam ruangan khusus.

__ADS_1


Saat aku memasuki pesawat dengan seorang prajurit. Ku lihat Jamilah dan Tazkia juga telah memasuki pesawatnya. Dengan cepat melesat ke udara. Kemudian Aku mengikutinya. Dengan cepat, diriku mengejar keduanya yang telah lebih dahulu sampai di angkasa.


Untuk sementara aku berkonsentrasi dalam menjelaskan kondisi pesawat. Dan juga mengajarkan padanya cara mengoperasikannya. Dengan tanpa kata. Tetapi melalui tindakan semata. Rupanya dia cukup cerdas. Sehingga tidak memerlukan waktu lama dia telah memahaminya dan menguasai pesawat tersebut. Tak salah bila dari pihak sana merekomendasikan dia untuk nantinya yang akan membawa pesawat ini.


Tapi yang membuatku lebih takjuk lagi adalah Jamilah. Pesawatnya kini telah meliuk-liuk di angkasa seolah-olah sedang memeragakan formasi-formasi perang. Bahkan sekali-kali dia dengan berani melintas di depanku atau di sampingku dengan sangat dekat. Rupanya dia ingin bermain-main. Tapi tak apalah untuk saat ini aku tak hendak meladeninya. Karena kalau urusan seperti ini sepertinya pria di sampingku, jauh ketinggalan di banding kemampuan Jamilah.


Oke Jamilah. Jempol untuk kamu. Silahkan terbang. Aku acungkan, begitu melihat dia melintas di sampingku.


Telah ku lihat dia tinggi di atas Awan Dan itu tepat di atas sebuah lautan dengan gelombang yang amat tinggi dan ganas. Tak sangka, Aku lihat sesosok tubuh terlempar dari pesawat itu dan sepertinya sengaja dilemparkan.


"Tazkia Tazkia apa yang terjadi. Ada apa dengan Jamilah." Entahlah, aku begitu panik dengan kejadian yang tiba-tiba ini.


Tak Ada Jawaban darinya. Yang kulihat pesawat itu sepertinya pergi menjauh. Sebenarnya siapa yang jatuh. Aku tak tahu. Kalau melihat dari pakaian yang dikenakan, sepertinya Jamilah.


"Tazkia, jawab."


"Maaf Jendral."


Setelah itu tak ada lagi suara yang kudengar hanya aku lihat pesawat yang ditumpanginya pergi menjauh menghilang entah kemana.


Astaghfirullah al adzim ... Sebenarnya apa yang kamu lakukan, Tazkia. Apa salah dia sama kamu. Sehingga kamu begitu jahat dan kejam.


Akmal segera menurunkan ketinggian pesawatnya. Memandang dengan nanar pada lautan yang terbentang luas. Dengan ombaknya yang bergulung gulung. Untung sistem deteksi pada pesawat tersebut berfungsi dengan baik. Sehingga dia dapat menemukan dengan cepat keberadaan Jamilah.


Tampak tubuh yang timbul tenggelam di antara ombak-ombak yang menggulungnya. Sesekali terlihat Dia berenang melawan ganasnya ombak tersebut


Di satu sisi Akmal bersyukur sudah dapat menemukan Jamilah. Di sisi lain, dirinya sangat khawatir dengan kondisi Jamilah. Yang jatuh dari ketinggian beribu-ribu kaki dari permukaan laut. Kalau bukan orang yang terlatih tentu nyawanya sudah tak tertolong lagi.


Dia pun bersiap untuk terjun ke laut dengan memakai baju pelampung dan menyiapkan satu set baju pelampung lainnya.

__ADS_1


"Aku percayakan pesawat ini padamu."


__ADS_2