Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
ke Laboratorium


__ADS_3

"Kenapa dia?"


"Aku juga tak tahu," ucap Robby.


"Oh ya sudah kalau gitu. kita langsung balik aja ke rumah," ajak Akmal kemudian. Otaknya sudah benar-benar lelah, tak mau diajak berfikir lagi.


Robbi mengangguk lalu berjalan ke arah mobilnya diikuti Akmal dan yang lain.


Akmal langsung saja membuka pintu depan, duduk tenang di samping kursi kemudi, menunggu Robby yang kini masih membukakan pintu untuk tamunya.


Setelah semua sudah duduk tenang di tempatnya masing-masing, tanpa banyak cakap, Robby pun menjalankan mobilnya keluar bandara. Memasuki jalanan yang sunyi, menembus gelapnya malam bermandikan embun dingin yang mulai turun menyelimuti alam.


Alhamdulillah Abid hanya merintih sebentar saat turun ada keributan kecil dengan Ahmad, setelah itu dia tenang kembali. Lalu terlelap di pangkuan Papanya. Kalau William jangan ditanya, begitu duduk matanya sudah terpejam sempurna. Biarkan saja, besok masih banyak tugas untuk dia.


Rupanya AkmaI pun tak tahan untuk menyusul mereka semua. Dia tak bisa lagi menahan kantuk. Ingin meneruskan kembali tidurnya, Akhirnya Dia pun pulas di sisi Robby yang tetap fokus mengemudikan mobil di jalanan yang sepi. Hanya sekali-kali saja mereka berpapasan dengan mobil yang berjalan berlainan arah.


🌟


Uuuuaahhh ... Alhamdulillah ... Akmal mulai membuka matanya setelah hampir satu jam tertidur.


"Bagaimana keadaan di sini selama aku pergi?" Kini pikirannya sudah kembali fresh, siap digunakan.


"Semua cukup aman terkendali. Hanya saja tadi pagi Profesor Amar nanya kamu. "


"Baru juga kutinggal 3 hari?"


"Tadi siang juga telepon lagi. Kenapa juga dia tidak telepon langsung ke Jenderal"


Hehehe ... Akmal tersenyum. Dia baru ingat kalau telepon yang biasanya dia gunakan untuk tugas sehari-hari, hari ini sengaja dia matikan. Supaya pikirannya tidak terpecah sehingga urusan cepat beres tak ada yang mengganggu.


Mau telepon sekarang rasanya tidak sopan. Profesor juga mungkin masih tertidur lelap. Besok habis subuh saja aku temui dia.


"Bisa kita mampir ke markas sekarang?"


"Oke Boss."


Robbi membelokkan mobilnya ke tempat yang dituju yang kebetulan tak jauh dari jalan yang kini dia lalui.


"Tunggu di sini sebentar!"


"Ya."


Akmal membuka pintu mobil dengan sangat hati-hati. Begitu pula saat menutupnya. Agar tidak mengganggu mereka yang sedang tertidur lelap.


Dia memasuki kompleks tempatnya mengabdi itu tanpa kesulitan. Lalu dia pun segera menuju ke ruangan khusus Penelitian. Yang sampai saat ini masih terlihat sangat terang.


Sunyi, sepi, hanya suara angin lembut yang melintas saat ini terdengar. Dia tak bertemu dengan seorang pun saat menuju ke ruangan itu. Sampai di sana pun tetap sama. Hanya ada Abbas yang terlihat terjaga sendiri di ruangan itu sambil melihat dan mencatat sesuatu. Sesekali matanya melirik ke meja observasi.


Ngiiiik ... Suara lembut dari pintu ruangan itu seketika membuatnya gembira.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kamu kembali. Aku benar-benar menunggumu." Abbas segera bangkit menghampiri Akmal yang tangannya baru melepas pintu kaca ruangan itu.


"Memangnya ada apa?"


Akmal segera mengambil baju khusus, sarung tangan serta penutup kepala sebelum membuka ruang kaca yang menutup meja observasinya. Demikian juga Abbas. Dia melakukan hal yang sama.


Lalu Akmal segera mendekati meja observasi di mana Tazkia berbaring terbujur kaku sampai dengan saat ini. Mengamati seksama. Sesekali menyentuh nadi tangannya dan juga hidungnya. Memeriksa apakah Tazkia masih bernafas atau tidak.


"Analisismu kelihatannya kurang tepat atau bisa dikatakan salah."


"Hemmmm ..." Seketika Akmal mengangkat alisnya. Walaupun bukan hal yang aneh, karena data awal yang diberikan padanya tidak valid. Namun tetap saja membuat Akmal terkejut. Bila keterangan yang diberikan William benar. Maka Tazkia adalah manusia bukan mayat.


"Memangnya ada apa?"


Dia berusaha tenang, agar bisa menganalisis kembali semuanya dengan baik sebelum menarik kesimpulan.


"Bukan akar dari chips itu yang membuatnya hidup, tapi ..." Belum selesai Abbas berbicara, AkmaI sudah memotongnya.


"Benar."


Tiga hari yang lalu, di bagian dada Tazkia ada pergerakan. Sekarang jangankan bertambah. Bahkan kini terhenti total. Tapi sekilas dia melihat mata Tazkia terbuka, hanya sesaat namun tertutup kembali.


"Apa yang terjadi sama dia?" Gumam Akmal pelan. Lalu dia melihat catatan yang baru saja Abbas berikan.


"Pagi tadi dia sadar, cari kamu."


Setelah dirasa cukup, Akmal pun berbalik akan meninggalkan meja observasi itu.


"Aaaaeea ... Kak ..."


Samar-samar Akmal mendengar Tazkia berbicara. Dia pun kembali ke arah Tazkia, mengurungkan niatnya untuk menyudahi observasinya kali ini.


"Tuh, dia memanggilmu," goda Abbas.


"Itu bukan aku."


Alis Abbas terangkat. Dia tak percaya dengan jawaban Akmal.


"Dia tak pernah memanggilku dengan sebutan kakak."


"Oh ya, aku lupa. Dia memanggilmu Jenderal," sahutnya kemudian saat menyadari kesalahannya.


Saat sudah dekat, Akmal menatap kembali wajah Tazkia. Dia terlihat pucat, detak jantungnya tak ada, suhu badannya sangat rendah, seperti tak ada kehidupan. Tapi dia bisa sadar.


"Tazkia ... Aku Akmal." Dia mencoba membisikkan kata itu di telinga Tazkia.


Tak ada respon sama sekali. Sekali lagi berbisik, " Tazkia bukalah matamu, aku Akmal."


Reaksinya masih tetap sama. Padahal, saat chips itu masih tertanam di tengkuknya, Tazkia mudah sekali respon dengan apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Akmal tak patah semangat. Ditunggunya lagi beberapa saat sambil membisikkan namanya di telinga Tazkia. Sehingga dirinya yakin Tazkia tak mungkin lagi meresponnya.


"Hasil dari Chris sudah keluar?"


"Ya sudah. Semua sandi dalam chips itu mengarah ke kamu."


"Pantas saja. Saat chips itu sudah tak menempel di raganya, Dia tak lagi mengenaliku."


"Kecewa dong, hehehe ..." Tawa Abbas membuat AkmaI tersenyum.


"Ada saja kamu."


"Gimana khitbah kamu, lancar. Kapan menikah?"


"Alhamdulillah lancar. Ya ... Nanti kalau sudah waktunya aku undang."


Setelah menutup kembali meja observasi, Akmal melepas pakaikan khususnya, dengan mata yang tak lepas dari Tazkia. Bukan karena apa-apa, hanya saja 3 hari meninggalkan seakan sudah banyak perubahan. Barangkali dia akan menemukan sesuatu untuk memecahkan masalah ini.


Lalu dia menuju lemari yang teramat khusus, tebuat dari kaca yang teramat tebal. Dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan. Benar-benar alat yang sangat khusus. Hanya dia yang mempunyai akses untuk membukanya. Bahkan profesor Amar pun tak berikan hak sedikitpun.


Hanya suara dan sidik jarinya saja pintu lemari itu dapat dibuka. Karena di tempat itulah zat Y21MNS14 tersimpan.


"Semua perkembangan sudah kamu laporan ke Profesor Amar, kan?"


"Sudah. Cuman akhir-akhir ini aku curiga sama dia."


"Alasannya?"


"Beberapa kali aku mendapati dia ingin membuka almari itu."


Hemmm ... kok aku jadi kepikiran Ahmad waktu di bandara tadi. Mungkinkah ada hubungannya?


"Lalu apa saja yang kamu tahu."


"Baru itu."


"Hanya feeling, nggak bisa dijadikan bukti." Bukan maksud membela Profesor, tapi lebih tak ingin menduga-duga yang tidak-tidak pada orang yang belum tentu salah.


"Mungkin dia sangat khawatir dengan Tazkia. Maksudnya baik, untuk disuntikkan pada Tazkia seperti saranku waktu itu."


"Entahlah. mungkin iya."


"Tadi juga dia kirim Ahmad ke bandara untuk jemput aku."


"Ahmad?" Abbas terkejut, alisnya sempat terangkat.


"Ya. Memangnya ada apa?"


Abbas tak menjawab. Dia hanya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2