
"Sabar dan doakan."Naura menepuk-nepuk bahu putranya. Bukan hanya Akmal yang sedih, Naura sebagai Mamanya turut sedih.
"Kalian Siapa?"
Kembali Jamilah bertanya. Ini membuat Akmal semakin sedih. Dia tertegun menatap Jamilah. Benarkah Jamilah telah melupakan semuanya.
Dalam keadaan demikian dirinya cukup dapat menguasai diri. Akmal berjalan mendekati Jamilah. Lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya. Dia tetap menjaga senyumnya seraya berkata," Panggil saja aku Kakak."
"Tidak. Kamu bukan kakakku. Kamu bermata biru. Dan kamu berpakaian seperti itu. Apa Aku seorang penjahat sehingga harus ditunggu olehmu?"
Fix ... Dia amnesia. Hampir Tak ada yang tersisa dari ingatannya. Aku hanya dapat berdoa semoga cobaan ini hanya sementara. Dan dia bisa kembali mengingat semuanya. Terutama bagaimana kejadian saat itu.
"Tak apa kalau kamu tak mengenalku. Yang penting Kamu sehat dulu. Jangan takut sama Kakak. Sedih Kakak kalau kamu curigai."
"Terima kasih, Kak."
"Itu lebih baik."
Aku senang saat melihat senyum tipis menghiasi bibirnya. Meskipun keadaan dirinya masih pucat dan lemah. Aku tak tahu mengapa dia begitu sensitif dan mencurigai banyak hal. Apa itu pembawaannya ataukah itu bawaan dari amnesianya. Apapun itu Tuhan. Berilah dia kesembuhan.
"Akmal, Mama tinggal. Mau sholat."
Saat mendengar ucapan Mama Naura yang demikian, ku lihat Jamilah gelisah. Merasa ada sesuatu yang ditinggalkannya.
"Aku tak sadar sudah terlewat berapa waktu shalat?Ini jam berapa. Aku juga mau sholat."
Ternyata tak semua dilupakan. Ada beberapa hal yang penting yang nggak bisa dia tinggalkan dan mungkin yang tak bisa dilupakan. Kewajiban sebagai muslimah. Alhamdulillah ... Mungkin dari sisi ini akan ku coba untuk masuk dalam memori-memorinya.
" Ada 2 waktu yang terlewat saat kamu pingsan. Dzuhur dan ashar. Dan sekarang sudah Maghrib. Berarti ada 3 waktu."
"Tapi aku tak bisa berwudhu. Untuk tayamum pun sepertinya susah."
Memang saat ini Jamilah dalam keadaan sangat kesulitan untuk bergerak. Tangannya yang satu terdapat infus cairan bening. Tangan yang lainnya ada selang transfusi zat yang lain. Kemudian di hidung juga ada selang. Ditambah pula keadaan tubuhnya yang masih lemah. Demikian Jamilah tetap berusaha untuk melakukan tayamum.
Mama Naura menghentikan langkahnya, saat mendengar ucapan lirih dari Jamilah.
"Mama bantu, Nak."
__ADS_1
Mama ... Kakak ... aahhh ... Kepala ini mengapa menjadi pusing saat mengingat siapa kalian. Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi denganku. Mengapa Aku seperti ini?
Jamilah membiarkan tangan Naura mengusap wajah dan telapak tangannya. Matanya lekat memandang wajah Naura yang tertutup cadar. Dari warna matanya, sama dengan Kak Akmal, biru. Beda dengan dirinya.
Sebenarnya siapa mereka?
"Sudah. Sholatlah. Mama juga mau sholat."
"Makasih, Ma." Naura tersenyum mendengar Jamilah memanggilnya Mama. Tanpa mengiyakan atau melarangnya. Mungkin ini lebih baik, pikirnya. Karena bagaimanapun Jamilah saat ini berada di negerinya. Tanpa saudara maupun keluarga yang menemaninya.
"Akmal, Mama tinggal."
"Ya, Ma. Makasih."
Begitu bayangan Naura menghilang di balik pintu kamarnya, Jamilah bersiap-siap akan melakukan shalat.
"Kakak bisa keluar sebentar."
Akmal pun mengangguk sambil berkata,"Ok. Kalau sudah selesai tolong panggil Kakak ya."
"Pasti, Kak." Ada sesuatu kenyamanan sendiri saat dia menyebut Akmal dengan sebutan 'Kakak'. Meskipun saat ini dia tak mengetahui siapa mereka. Adakah hubungan keluarga dengannya. Atau kah orang lain. Beberapa kali Jamilah memejamkan mata. Berusaha dengan keras untuk mengingat apapun tentang dirinya. Namun belum juga berhasil.
"Iya, Kak." Jamilah akhirnya menyiapkan diri untuk segera melaksanakan shalat. Beberapa gerakan yang bisa dilakukan, dilakukannya. Adapun yang terlalu sulit untuk dilakukan karena keadaannya saat ini, dia pun melakukannya dengan isyarat saja. Semua itu tak lepas dari perhatian Akmal. Namun sejenak kemudian dia pun meninggalkan Jamilah untuk melakukan shalat sendiri dengan tenang.
Adapun dirinya menuju keluar ruangan. Menemui Papa Akmal duduk di kursi sambil membaca koran. Dia pun menghampiri Papanya dan duduk di sisi yang lain. Beberapa kali Dia mengambil nafas panjang. Saat ini memang dirinya sedang berpikir keras. Dengan permasalahan yang menimpanya.
"Papa, Aku tak bisa angkat tangan dengan keadaan Jamilah saat ini."
"Papa mengerti. Lalu?"
"Aku tak tahu. Sepertinya lebih rumit dari yang ku bayangkan."
"Apanya yang rumit."
"Entahlah."
"Apakah tentang keinginanmu itu."
__ADS_1
"Iya, Pa. Aku belum sempat mengungkapkannya."
"Sejauh ini, apa yang kamu lakukan tak salah. Memang untuk niatmu itu, apakah kamu sudah memikirkan dengan matang."
"Maksud Papa?"
"Sejak dulu kamu selalu fokus dengan penelitian-penelitian. Apa dia tak menghalangi cita-citamu selama ini."
"Papa tak setuju Aku sama dia?"
"Kamu sudah dewasa. Secara lahir batin, sudah siap. Kamu juga yang menjalani. Apa hak Papa soal itu. Bukan berarti Pap tak merestuinya. Hanya Papa minta ke kamu, pikirkan dahulu sebelum bertindak. Kalau perlu istikharah."
"Terima kasih, Pa. Akmal akan coba saran Papa."
"Ya." Kembali Ulya fokus dengan bacaannya. Meski dirinya ada keberatan. Tapi tak tega untuk mengucapkan pada putranya. Hanya satu keyakinannya, apapun yang terjadi semua itu merupakan kehendak Yang Kuasa. Dan tentu saja itulah yang terbaik yang harus terjadi.
Akmal menengok keadaan Jamilah, melalui jendela yang ada di sampingnya. Jamilah telah selesai shalat. Kini terlihat tenang dan diam. Meski demikian terlihat sedang berdzikir, dengan menggerakkan jari-jarinya yang seirama dengan apa yang diucapkannya.
Saat dirinya beranjak dari tempat duduk, ingin menjumpai jamilah kembali, terlihat di ujung lorong komandannya dan juga komandan Jamilah menuju ke arahnya. Dia pun mengurungkan niatnya. Menunggu kedatangan kedua orang tersebut. Mungkin punya maksud yang sama yaitu menemui Jamilah.
"Akmal. Bagaimana keadaan Jamilah?"Seperti biasa Komandannya akan bicara, langsung pada pokoknya.
"Alhamdulillah sudah sadar."
"Apa bisa diajak pulang ke Indonesia?" Wajahnya tampak serius.
Komandan yang satu ini tak jauh beda yang dia punya. Tak ada basa-basinya sedikitpun."Sepertinya belum. Keadaannya belum stabil benar."
"Aku tak enak meninggalkannya di sini."
"Jangan khawatir. Kami akan rawat dengan baik. Dan kalau memang sudah siap, akan kami antar," jawab Akmal mewakili komandannya.
"Boleh jenguk dia?"
"Silahkan."
Mereka bertiga memasuki ruangan itu dalam diam. Karena masih menyaksikan tangan Jamilah yang bergerak-gerak. Seperti seseorang yang sedang berhitung. Bibirnya mengucapkan sesuatu dengan lirih. Hanya dirinya saja yang mampu mendengarnya.Tapi matanya terpejam.
__ADS_1
Di sana hanya ada dua kursi. Dan itu sudah diduduki oleh kedua komandan tersebut. Akhirnya Akmal dengan suka rela berdiri di sisi lain dari ranjang Jamilah.