
“Hei, makannya cepatan tuch, nanti ketinggalan loh.” Akmal mencoba mengalihkan perhatian.
“Halah Kamu. Menghindar nih ceritanya. Makanya jangan sok pilih-pilih. Jadi bujang lapuk baru tahu rasa. Atau kamu menunggu si Jamilah itu?”
Lagi-lagi hanya dijawab dengan senyum oleh Akmal. Bikin Christ gemessss !! Sayang tidak bisa berbuat apa-apa, agar sahabatnya ini bisa membuka diri.
“Nanti kalau sudah saatnya, pasti kalian akan aku kasih tahu.”
“Aku tunggu itu.”
Mereka pun kembali menikmati makanannya yang tinggal beberapa sendok saja. Dan tak berapa lama mereka pun telah menghabiskan semua yang ada dalam piring mereka. Sampai benar-benar bersih tanpa sisa sebutir pun.
Belum juga beranjak dari tempat duduknya, Ahmad dan Robby menghampiri mereka. Salah seorang dari mereka menunjukkan jam tangannya kepada Christ. Sesaat Chris terperanjat.
“Eh, maaf Akmal, aku duluan.”
“Memangnya ada apa, kok buru-buru?”
“Ada panggilan dari ketua batalyon.”
“Ya, silahkan. Aku juga sudah selesai.”
“Maaf Akmal kita bawa dulu Christ,” kata Ahmad yang dijawab anggukan kepala oleh Akmal.
Oke, seperti biasa Chris akan meninggalkan bekas piringnya tergeletak begitu saja. Untunglah ada teman baik hati macam dia, hingga Kak sampai Jadi urusan. Cuma ya gitu, jadi catatan pengawas ruangan. Akhirnya sulit kali naik pangkat. Moga-moga kalau di rumah istrinya sabar deh.
Akmal membereskan bekas-bekas makanan mereka dan mencucinya dengan bersih. Lalu meletakkannya pada rak-rak yang sudah tersedia. Ditemani oleh Robby, asisten sekaligus pengawal setia.
Tapi kalau urusan bersih-bersih Akmal tak suka dibantu. Dia lebih baik melakukannya sendiri. Pokoknya enak dech jadi pengawalnya, nggak repot-repot amat.
Setelah makan siang, dia menyempatkan diri untuk menjenguk teman-temannya yang sudah bersiap-siap berangkat untuk latihan perang bersama. Cukup dari Masjid tempat dia mengistirahatkan diri saat ini, sudah dapat melihat aktifitas mereka.
Dia pun melambaikan tangan saat pesawat kargo membawa mereka semua. Ingin dirinya ikut seperti dulu dulu. Sayang kita punya tugas yang berbeda, tak apalah jika harus terpisah.
Kini hanya satu teman yang tersisa bagi dirinya. Siapa lagi kalau bukan Robi, asisten maupun pengawal pribadinya.
“Robby, Kila lanjutan yang tadi.”
“Oke.”
Sementara masalah tentang Jamilah biarlah ditangani oleh teman-temannya yang sudah ahli. Diriku akan fokus kepada penelitiannya saat ini. Sebenarnya tak enak juga, tapi bagaimana lagi. Dia tak ada waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi. Fokus dan fokus pada penelitian.
Beruntung punya teman seperti mereka. Hanya saja ... Semoga teman-teman tak ada selingkuh. Atau diambilnya si Jamilah. Merana lah diriku jika terjadi seperti itu. Jangan teman!
🌟
Baru juga bergerak beberapa hari Akmal sudah menerima data dari Chris tentang Jamilah secara keseluruhan. Tinggi, berat, riwayat pendidikan, alamat terakhir, dan lain-lain pokoknya lengkap banget. Membuat dirinya yakin kalau Jamilah yang saat ini berhadapan di medan pertempuran latihan perang adalah Jamilah yang dikenalnya. Adik kecilnya yang bandelnya luar biasa.
Teman-teman Akmal dibuat kewalahan, menghadapi sepak terjang Jamilah. Dia seakan menguasai udara tempat mereka mengadakan latihan bersama. padahal ini kan bukan daerahnya. Sungguh luar biasa.
__ADS_1
Dia seorang penerbang yang handal. Sangat ahli dalam mengendalikan pesawat tempur. Membuat mereka babak belur dihajarnya.
“Akmal! ini gimana, susah banget ditaklukkannya,” kata Christ pada suatu malam.
“Kamu sudah janji, membawa dia padaku.”
“Aku ragu kalau dia yang kamu cari.”
“Memang kenapa?”
“Agak barbar. Apalagi kalau di medan pertempuran.”
Hehehe ... Senyum Akmal mengembang. Ternyata masih seperti dulu.
“Jangan katakan kalau kalian yang akan ketangkap sama dia.”
“Ah, yang bener saja.”
“Bisa jadi.”
“Akan aku buktikan, kalau aku bisa menangkap dia untukmu.”
“Kutunggu itu.”
“Susah Juga, cari pasangan buat sang jendral.”
“Makasih Christ, atas doanya. Aku belum jendral.”
“Hai Christ jangan macam-macam Kamu.”
“Hai temanku bisa khawatir juga nih. Belum tentu Kamu diterima.”
“Pokoknya jangan Kamu apa-apa kan dia.”
“Jangan khawatir, Teman. Dah, assalamualaikum.”
“Wa alaikum salam.”
Handphone sudah ditutup, tapi angan ini tak bisa ditutup. Bahkan leluasa mengembara entah ke mana. Bersyukurlah di tangan masih ada bacaan yang senantiasa jadi temannya. Sehingga angan yang sejenak liar bisa kembali tenang.
Tapi hati tak bisa berdusta kalau saat ini sedang senang, gembira atau entahlah. Mungkin lebih tepatnya berbunga-bunga, macam anak muda yang sedang jatuh cinta. Karena mendengar namanya telah membuat hatinya bahagia. Kalau urusan yang seperti ini, sholatlah yang tepat sebagai tempat menenangkannya. Dia pun meletakkan Al Qur’an kecilnya di atas meja, beranjak meninggalkan tempat tidurnya, keluar ruangan ingin berwudhu.
“Sir, kenapa senyum-senyum. Tak biasanya,” sapa Robby yang tengah duduk-duduk di ruang penjagaan.
“Tak ada apa-apa. Sudah malam, kok belum tidur?”
“Nggak bisa tidur?”
“Ya, kebayang anak-anak.”
__ADS_1
Akmal manggut-manggut. Dia memahami benar keadaan asistennya ini yang sudah berumah tangga dan telah mempunyai seorang anak.
“Besok kamu bisa ambil cuti kan nggak ada tugas luar.”
“Penginnya gitu, tapi bolehkah?”
“Pasti bolehlah. Bukankah kamu sudah 6 bulan ini tidak pulang. Anak dan istrimu pasti kangen juga.”
“Terima kasih, Sir.”
Mereka pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Robby yang kini juga merasa bahagia karena cuti yang diberikan olehnya
🌟
Sementara itu, jauh dari tempat Akmal sedang menikmati kesendiriannya, tampak sesosok manusia yang sedang mengendap-endap menghampiri pesawat tempur.
Secara perlahan-lahan dia membuka tangki tempat bahan bakar pesawat itu.
“Maaf, aku kurangi sedikit ya. Supaya kamu besok enggak macam-macam ke kita.”
Lalu dengan mengendap-endap dia pun pergi.
Sayang disayang, langkahnya harus terhenti manakala ada sebuah tangan memegang pundaknya. Alamat dach ....
“Berani kali kamu masuk ke sarangnya.”
Sepertinya suara itu sudah dikenalnya, tapi tak berani menolah, Jangan-jangan musuhnya. Sampai tangan itu membalikkan arah kepalanya.
Ketika melihat jelas siapa yang menghentikan langkahnya. Dia pun tersenyum.
“Bastian?”
“Kamu juga.”
“Pusing aku sama prajurit satu itu.”
“Sama. Sudah Yo cepat keluar. Keburu ketahuan.”
Belum sempat mereka melangkah, Ada 2 orang yang menghampiri mereka, tak tahu kapan datangnya dan dari mana.
“Berhenti!”
Sontak mereka menghentikan langkahnya. Ingin menoleh, tapi sebuah senjata berlaras panjang menyentuh pipinya.
“Jalan!”
Dengan terpaksa mereka berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Laras panjang itu.
Alamat besok tak bisa melihat aksi Jamilah lagi. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Maksud hati supaya besok nggak berat-berat amat saat pertempuran dan dapat menangkap Jamilah dengan elegan. Tapi malam ini malah mereka yang sudah tertangkap duluan.
__ADS_1
Naas amat nasib mereka. Lebih tragisnya lagi, alamat tak ada kenaikan pangkat. Cuma satu harapannya, doa. Moga-moga kepala divisinya baik hati. Tak sampai menurunkan pangkat mereka. Akibat kecerobohan, akhirnya mereka kini menjadi tawanan musuh.