
Akmal tak peduli dengan senyum dan lirikan William, mau meledek kah atau apa lah dia tak ambil pusing. Segera dirinya meraih dan meletakkan tubuh mungil itu di atas bahunya.
Dia merasakan kalau Abid tidak baik-baik saja. Meski mata terpejam, terdengar rintihan lirih yang keluar dari bibirnya serta geliatan tubuh gelisah yang tak pernah berhenti di dadanya.
Dia segera membaringkan tubuh mungil itu di pembaringan yang lebih lebar dari tempat tidur yang satunya dengan pelan-pelan saat tiba di ruang tamu. Abid menggeliat sambil merintih sebentar. Lalu tertidur kembali.
Siapa yang akan tega melihat penderitaan yang ditanggung anak sekecil itu. Dia menepuk-nepuk tubuhnya dan meniup ubun-ubunnya lembut sebelum menyelimuti sampai leher.
Sedangkan William dan juga Hasan menyeret koper dan meletakkannya begitu saja. Lalu mendaratkan beban tubuhnya di sofa.
"Papa, kalau ingin membersihkan diri dulu, silahkan. Biar Abid, saya jaga."
"Ya, Nak. Badan Papa ini masih lepek. Nggak nyaman buat istirahat."
Hasan segera beranjak dari duduknya, mengambil peralatan pribadi dan juga baju ganti dari dalam koper kecilnya, sebelum ke kamar mandi, meninggalkan William dan Akmal.
Sepeninggal Hasan, Akmal turun dari ranjang menuju ke tempat William duduk. Dia menghempaskan badannya di samping William dengan telapak tangan di belakang kepala. Membiarkan matanya terpejam sejenak, serta membuang nafasnya berlahan. Sebelum membuka matanya sempurna.
"Zat itu sudah aku ambil. Habis subuh sudah bisa kita mulai observasinya."
"Benarkah?" Dia menyahut dengan segera. Ada pancaran kebahagiaan di raut mukanya.
"Ya. Semakin cepat semakin baik. Biar kamu segera ketemu sama adikmu."
"Apa kamu akan membawanya kemari."
"Akan aku usahakan. Sabar ya ... agak ribet dikit dengan prosedur."
"Ya, Aku maklum."
"Segera halalin kalau nanti sudah normal biar jadi adik sungguhan, bukan adik-adikan. Kamu juga bisa menjaganya selalu."
"Insyaallah, moga-moga Papa Mama merestui."
"Pastilah. Orang tua mana yang tak ingin anaknya bahagia."
"Aamiin ya Allah."
Tok tok tok ...
"Assalamualaikum ...."
Akmal berjalan ke pintu. Dia segera membukanya untuk mengetahui gerangan siapa yang datang.
Ada seorang muslimah yang sudah cukup berumur berdiri di depan pintu. Dia membawa sebuah napan berisikan minuman hangat dan camilan kecil untuk mereka. Dia adalah bibi Umaimah. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi di keluarga Papa Ulya sejak Akmal masih baru saja dilahirkan.
"Waalaikumsalam. Masuk aja, Bi." Akmal tersenyum melihat siapa yang datang. Tanpa diminta dia selalu sigap tugasnya. Meski saat ini hari masih gelap. Waktu sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
"Ini diletakkan dimana, Tuan?"
"Di nakas itu saja, Bi."
Dia segera meletakkan napan itu seperti yang diminta Akmal.
"Nona Ayu tidak ikut, Tuan?"
"Tidak, Bi. Nanti kalau sudah benar-benar halal saja, dia akan ke sini."
"Kapan itu, Tuan. Bibi kangen. Sepi nggak ada dia."
"Insyaallah bulan depan."
"Bibi doakan semoga lancar sampai hari H."
"Aamiin. Terima kasih, Bi."
Setelah meletakkan nampan itu, dia segera berlalu.
"Sebentar, Bi."
Akmal berjalan menghampirinya, berbincang-bincang lirih yang disahuti dengan anggukan kepala oleh bibi Umaimah. Tak lama kemudian dia pun menghilang di balik pintu.
"William, Aku tinggal dulu."
"Nanti kalau kamu lapar, bisa langsung ke meja makan nggak usah tunggu aku."
"Nggak, Akmal. Itu sudah cukup. Nanti saja kalau sudah waktunya."
"Ya sudah," pamit Akmal sebelum meninggalkan William yang masih santai menunggu Papa Hasan keluar dari kamar mandi dengan duduk di sofa.
Akmal kembali ke kamarnya yang tiga hari sudah tidak dia sentuh. Meskipun demikian ruangan ini masih tetap rapi dan bersih. Karena bibi tak pernah telat untuk membersihkannya.
Alhamdulillah, Robby sudah membawakan barang-barangnya ke dalam kamar. Dia tak perlu bersusah payah lagi. Termasuk termos es yang berisi zat Y21MNS14. Yang dia letakkan di atas meja di salah satu bagian kamarnya yang luas itu. Maklumlah kamar sekaligus tempat kerja. Kalau laboratorium pribadi ada di sebelah kamarnya. Dan tentu saja dengan pintu rahasia di balik ornamen ruangannya.
Dia segera menuju ke kamar mandi untuk bersih diri dan juga bersuci. Membasuh diri dari keringat yang membuatnya gerah dan lepek setelah seharian penuh melakukan aktivitas.
Guyuran air dingin dari shower di kamar mandi yang begitu mewah, kini menyentuh di pori-pori kulit tak membuatnya menggigil. Bahkan membuat badannya kian terasa segar.
Dengan menggunakan bath robes atau jubah handuk, dia keluar dari sana. Lalu mengambil baju khusus untuk sholat, bersiap-siap menghadap pada Sang penguasa jiwa dan raganya. Rasa dan inderanya. Angan dan nyatanya dalam takdir yang sudah tertulis di lahfud Mahfud sana.
Setelah siap, Dia segera mengelar sajadah di samping tempat tidur. 8 rekaat tahajud dan 3 rekaat sholat witir kini usai dilaksanakan. Bertepatan dengan kumandang Azan subuh. Dia pun segera turun.
Ingin keluar menuju masjid terdekat, tapi sekarang dirinya ada tamu. Tak tega meninggalkannya. Apalagi ada Abid yang sedang sakit.
Pintu ruang tamu terbuka. Terlihat Hasan dan William pun keluar disertai dengan Abid yang masih merintih kesakitan.
__ADS_1
Bersama mereka menuju ke mushola keluarga untuk melakukan sholat subuh berjamaah bersama dengan pegawai-pegawainya. Dari art, satpam sampai dengan ajudan yang beragama Islam. Demikian dengan Abid. Meskipun hanya berbaring saja di samping Papa, dia tidak ikut sholat.
Selesai sholat, Akmal berpamitan.
"Papa, saya ada perlu sama William. Kalau perlu apa-apa bilang saja sama bibi."
"Nggak apa-apa, Nak. Cepat sembuhkan Abid."
"Kami akan usahakan, Pa. Mohon doanya. Moga bisa segera digunakan."
"Ya, Nak."
Turun dari tempat sholat, hari memang sudah agak terang. Akmal segera mengajak William ke laboratorium khususnya yang pintunya hanya ada di kamarnya. Tanpa melepas pakaian sholat mereka.
"Akmal, apa kamu tak takut aku mengkhianatimu. Kamu bawa aku ke ruangan ini?"
Menyaksikan Akmal menggeser vas bunga yang ada di interior ruangannya. Disusul kemudian dengan berputarnya interior itu sehingga membawa mereka ke dalam sebuah ruangan khusus. Dengan peralatan laboratorium lengkap.
"Aku tahu. Aku hanya bisa berlindung kepada yang membolak-balikkan hati semoga temanku tidak akan mengkhianatiku."
"Aku salut padamu. Pasrah total. Tapi setidaknya waspadalah."
"Kalau sampai Kamu mengkhianati, aku nggak mengembalikan Tazkia sama kamu, itu yang pertama. Yang kedua, akan ku obrak-abrik balik laboratoriummu. Memangnya aku nggak tahu laboratoriummu dimana." ucap Akmal dengan wajah serius sambil mengepalkan tangannya.
"Astaghfirullah al adzim, sadis amat .... "
"Sudah. Jangan banyak omong. Mana cairan itu."
Saat ini bukan waktunya berdebat tentang keamanan atau yang lainnya. Yang penting adalah bagaimana menyembuhkan Abid dan Tazkia.
"Iya. Nich!" William segera mengulurkan botol kecil berisikan zat X10MZBY1 yang selalu dia bawa kemana-mana.
Hampir dua puluh tetes Akmal tuangkan Zat X10MZBY1 pada tempat observasinya baru kemudian dia tambahkan satu tetes zat Y21MNS14.
"Akmal. Kok hanya segitu."
"Maumu seberapa? Kan baru percobaan. Semoga ini sudah cukup membuatnya musnah. kalau kurang ya ... kita tambah lagi."
Mau tak mau akhirnya William menurut juga dengan perbandingan itu.
Belum satu detik keduanya sudah bereaksi. Cairan bening itu semakin tampak berwarna ke arah merah darah. Sedangkan cairan bening terlihat memisahkan diri.
Tidak sampai satu menit. Zat merah darah telah kembali, menyisakan cairan bening yang tak lagi aktif.
Sontak keduanya mengucap syukur Alhamdulillah atas hasil eksperimennya kali ini.
"Sekarang siap diujicobakan pada Abid," ujar William.
__ADS_1
"Sebentar aku mau sholat dulu. Aku benar-benar takut ini," jawab Akmal dengan wajah pucat-pucat bahagia. Dan kaki dan tangan bergetar hebat.