Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Bastian


__ADS_3

Tumben, Jamilah memberikan kejutan padanya. Segera saja Hasan mengejar putrinya itu menuju ke Rumah utama. Di sana dia telah disambut oleh Jamilah yang baru saja keluar dari kamar. Dengan membawa sebuah amplop berwarna putih. Waduh jangan-jangan ....


Bukan lagi hadiah yang terbayangkan dalam benak Hasan. Tetapi sebuah masalah. Biasanya kalau amplop putih itu pasti dari sekolah Jamilah. Apalagi yang diperbuat oleh Jamilah saat ini ya ... Pusing kali dia memikirkan tentang putrinya itu.


“Jadi ini yang kamu bilang sesuatu untuk Papa?”


Hehehe ... Dengan tertawa, Jamilah memberikan amplop itu kepada Papanya. Seperti tanpa beban gitu loh ....


Untunglah Papa Hasan sudah kebal dengan perilaku putrinya itu. Kesabarannya luar biasa tanpa batas. Mungkin karena tidak bersama dengan seorang ibu maka perilaku Jamilah ya ... seperti itu. Semaunya sendiri. Biasalah, nakalnya anak-anak. Tapi perlu diberi peringatan juga nich anak ...


“Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sekolah?” Nadanya tajam mengancam seolah-olah berkata kepada bawahannya yang sedang melakukan kesalahan.  Sayangnya yang dimarahi tidak merasa. Dengan cueknya Jamilah senyum-senyum saja. Bikin hati Papa Hasan jadi gemessss ....


“Duduk!” Nadanya semakin tinggi dan keras.  Dengan terpaksa Jamilah pun duduk di kursi yang ada di hadapan Papa Hasan. Tapi dengan senyum yang mengembang sempurna. Seakan mentertawakan sikap Papanya saat ini.


“Papa kok marah-marah sih, buka dulu dong amplopnya.”  Pintar juga Jamilah bernegosiasi. Buktinya Papa Hasan membuka amplop itu, meski dengan wajahnya seram dan bersungut. Matanya tetap tertuju pada Jamilah. Khawatir anak semata wayangnya itu akan lari meninggalkan dirinya.


Saat membaca surat tersebut Hasan terkejut. Ternyata dugaannya salah. Surat itu berisikan pemberitahuan bahwa Ananda Jamilah sudah  mengikuti akselerasi selama 3 bulan ini. Maka di bulan ini dia akan mengikuti ujian  kenaikan kelas. Itu yang pertama.


Sedangkan bagian keduanya, ini yang bikin pusing kepala Papa Hasan. Jamilah telah memecahkan kaca kelas akibat tendangan bola yang salah arah. Astaghfirullah al adzim ....


“Bagaimana, Papa?”


Kali ini Hasan tidak menuruti amarahnya. Dia duduk sambil mengelus dada dan juga mengambil nafas dengan berat. Salah juga dia sih, kenapa dulunya suka mengajak Jamilah main sepak bola. Jadilah gini, dia cenderung kelaki-lakian, daripada sifat kewanitaannya, alias tomboi.  Hobbinya main sepak bola. Ah sudahlah ... Mau gimana lagi, Hasan bisanya itu. Mau main boneka-bonekaan, atau masak-masakan, tak mungkin lah. Dia laki-laki ....


“ Yang pertama Papa doakan kamu sukses menempuh ujian. Untuk masalah kaca yang pecah itu, kamu lapor ke Paman Ridwan,” Instruksi dari sang Papa yang tak menerima penolakan.


“Ya, setoran hafalan lagi dong?” Begitulah Paman Ridwan kalau memberi hukuman padanya. Hafalan dan hafalan lagi. Paman nggak tanggung-tanggung kalau memberi tugas karena hukuman. Murojaah plus tambahan. Coba bayangkan, muroja’ah nya saja sudah 3 juz, nanti tambahannya 1 halaman.


Bukan dia tak suka atau tak bisa, tapi kadang membosankan. Duduk manis menghadap paman. Itu yang jadi masalah. Mending suruh lari daripada suruh duduk manis. Itu sangat menyiksa sekali.

__ADS_1


“Atau kamu yang memperbaiki jendela sekolahmu? Beli dan pasang sendiri, nggak boleh ada bantuan.”


“Ya ... Papa. Ini mah lebih berat. Kan Jamilah belum punya uang sendiri Pa! Beli pakai apa?”


“Makanya nurut. Jangan buat kesalahan, biar nggak dapat hukuman.” Dia melihat wajah putrinya yang cemberut, membuatnya tak tega juga.


“Oke ... Kalau sudah hafal 5 juz, papa kasih hadiah ke kamu. Kita umroh bareng-bareng ke tanah suci.”


“Tanah suci itu di Timur Tengah ya, Pa? Asyiiiik ... Bisa ketemu Kak Bara dong,” Terlihat wajahnya bersinar cerah, bibirnya pun tersenyum sempurna. Sorot matanya seakan-akan mengikuti bayangan impian yang indah.


“Makasih Pa.” Jamilah dengan cepat memeluk Papa Hasan dengan sangat erat. Membuatnya tersenyum dan juga geleng-geleng kepala. Setyawati ... putriku  Setyawati ....


🌟


Sementara itu nun jauh di sana, di sebuah camp tentara, Bara alias Akmal Sedang bersantai di depan bangunan kecil, tempatnya mengadakan penelitian. Ya ... itulah labolatorium untuknya saat mengikuti pelatihan tentara.


Sambil menunggu adzan maghrib,  dia  murojaah ayat-ayat yang sudah dihafalnya. Dengan ditemani teh hangat dan juga makanan kecil hasil olahannya sendiri.


Aku kok jadi teringat sama Jamilah. Bagaimana dia sekarang ya ... Apa masih suka menyeberang ke kebunku. Jadi kangen sama dia nich ...


Astaghfirullah al adzim, sampai di mana ya, hafalanku tadi. Teringat kamu, lupa dech dengan hafalanku. Akmal segera membuka Al Qur’an-nya kembali. Melanjutkan murojaahnya yang sempat terjeda.


Baru juga mendapatkan 4 halaman, datang gangguan lagi. Bukan gangguan sih, hanya saja temanku yang satu ini sedang kepo banget dengan agamaku.


Bastian, teman dekat, meski kita berbeda keyakinan. Karena kita selalu mendapatkan tugas bersama. Dia seorang sniper yang handal. Aku banyak belajar darinya saat menembak. Dan kita suka saling curhat. Maklumlah, jauh dari keluarga.


“Wah kapten serius banget, sedang baca Alquran?”


“Kamu Bastian. Ya, sambil nunggu azan magrib.”

__ADS_1


“Tapi, tadi aku lihat kapten senyum-senyum sendiri. Hayo ada apa?”


“Aku teringat Indonesia.”


“Indonesia?”


“Ya, negeri yang indah dan juga subur. Papa kandungku berasal dari sana. Dulu aku sering berlibur ke sana.” Nggak mungkin kan kalau diriku menceritakan apa yang ada dalam pikiran. Toh itu hanya bayang-bayang saja.


“Tapi tadi yang kulihat beda. Mikirin apa hayo ....” Bastian menarik alisnya ke atas seakan tak percaya dengan kata-kata Akmal. Apalagi dengan melihat air mukanya, sudah pasti Akmal menyembunyikan cerita di balik itu semua. Bikin penasaran dech ....


“Ada saja kamu itu. Oh ya, ada apa kok ke sini?”


“Lanjutkan cerita kemarin dong. Aku benar-benar penasaran.”


“Tapi ini sudah mau magrib. Aku ambil kan bukunya saja. Kamu baca sendiri, kalau nggak ngerti bisa kamu tanya.”


“Boleh.”


Akmal meninggalkan Bastian menuju ke laboratoriumnya, untuk mengambil buku yang Bastian butuhkan. Sesaat kemudian dia telah kembali dengan buku yang dimaksud bersamaan dengan datangnya suara adzan dari masjid di camp itu.


“Ini.”


“Makasih.”


“Aku tinggal dulu ya, mau shalat.”


“Ya, sholatlah. Waktunya aku piket  jaga lab ini.”


Sebenarnya ada 2 orang temannya lagi untuk menjaga labolatorium itu. Tapi karena dia yang beragama selain Islam, mau tak mau dia yang dipercaya untuk menjaganya saat Akmal sholat.

__ADS_1


Sudah banyak yang dihasilkan oleh penelitian Akmal. Yang itu bermanfaat sekali bagi pertahanan. Hingga mereka punya misi khusus, menemani sang profesor tanaman dan hasil-hasil penelitiannya. Cintanya pada negara membimbing dirinya untuk selalu menjalankan kewajibannya dengan baik. Tak ada sedikit pun niat untuk mengkhianati tugasnya. 


__ADS_2