
Selesai setoran hafalan, Jamilah berjalan menyusuri kebun belakang seorang diri.Sampai di pojokan, dia duduk di dahan pohon kelengkeng yang rendah. Sesekali memandang ke arah tembok tinggi pemisah antara kebun Panti Asuhan dan kebun Bara.
Semenjak kerusakan laboratorium, dia tidak pernah lagi melompati tembok. Meski kadang-kadang rindu sekali untuk melakukannya. Kapan lagi dirinya bisa menikmati buah yang masak langsung dari pohon. Membayangkannya saja sudah membuat air liurnya keluar, apalagi kalau bisa memakannya. Wah, benar-benar nikmat, bayangan itu kini sungguh-sungguh menggoda dan tidak bisa terbendung.
Berlahan-lahan dia memanjat pohon yang dulu pernah dipakainya untuk menyeberang tembok. Sampai di atas dilihatnya kebun Bara tampak sunyi. dan laboratorium pun terlihat tidak ada kehidupan. Kak Bara belum kembali. Kapan ya dia kembali? Coba aku tanya Mang Maman, semoga dia tahu. Diriku benar-benar merindukannya. Apalagi dengan sifatnya yang lembut, telaten, meski marah dia diam. Semua itu membuatku rindu. Baiklah aku lanjutkan saja, daripada penasaran. Jamilah benar-benar terlupa dengan niatan awal.
Jamilah berjalan di atas tembok mencari dahan yang dekat untuk digunakan turun. Dahan yang sama yang pernah digunakan dulu. Bahkan kini sudah semakin besar. Sehingga kini bisa membantu dirinya menyeberang dengan lebih mudah.
Dia melihat Mang Maman sedang menyapu halaman belakang, dekat laboratorium. Lalu Jamilah turun berlahan sampai di atas tanah dengan selamat. Dia menghampiri nya.
"Nak Ayu kok ada di sini?" tanya Mang Maman dengan wajah berkerut, bahkan terkejut saat Jamilah yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Gadis kecil yang sudah lama sekali tidak nampak bermain-main di kebunnya. Jamilah hanya tersenyum tipis. Matanya memandang liar ke arah mana saja, mencari sosok yang lama dalam angannya.
"Nak Ayu mencari siapa?"
"Maaf mang Maman. Ayu ingin ketemu Kak Bara."
Dia tersenyum, menatap Ayu lembut. Sebagai seorang bapak ia mengerti dengan apa yang sekarang dipikirkannya. Hanya saja merasa aneh dengan gadis sekecil Jamilah bisa merindukan Den Bara, majikannya?
"Nak Ayu, Den Bara mungkin tidak akan kembali lagi ke sini."
"Mengapa?"
"Mang Maman tak tahu persis. Mungkin melanjutkan sekolah biar tambah pintar." Semoga saja penjelasannya bisa diterima Jamilah. Lha, kalau cari alasan yang lain nggak bisa e...
Jamilah pun mengangguk-angguk meski dengan wajah yang menampakkan kekecewaan. Keinginan untuk bertemu dengan orang yang dirindukannya pupus sudah.
"Memangnya Kak Bara darimana?"
"Wah ... jauh Non. Kalau tak salah Timur Tengah."
__ADS_1
"Oh ...." Terlihat wajahnya makin sendu. Berarti sudah ada harapan lagi untuk bertemu dengan Kak Bara. Jamilah pun diam, sesekali mengambil nafas panjang dan membuangnya berlahan sambil pandangannya menatap pada buah-buahan yang terlihat lebat dan menggiurkan untuk dinikmati. Tapi tidak untuk Jamilah. Karena memandang buah-buahan yang ditanam oleh Bara, hanyalah untuk mengobati kerinduannya pada pemiliknya.
"Nak Ayu pingin?"
"Nggak Mang." Jamilah pun mengalihkan pandangannya, menatap rumput-rumput yang ada di sekitarnya, namun sesaat saja. Kemudian berbalik pada Mang Maman yang masih setia mengikutinya dari belakang. Bukannya curiga, tapi kasihan lihat Jamilah yang murung seperti itu. Ingin menghiburnya tapi tak bisa. Bisanya hanya mengikutinya saja. Siapa tahu Jamilah membutuhkan tenaganya untuk mengambil buah-buahan. Kan pesannya Den Bara seperti itu. Kalau untuk Ayu dan anak panti asuhan dibolehkan, bahkan suruh kirim, kalau tak salah ingat ....
Jamilah yang sudah ada lagi yang dapat dilakukan, dan menganggap penyeberangannya kali ini sia-sia segera balik badan, ingin kembali ke tempat semula, pulang.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan mang Maman, menuju ke arah pojok kebun, tempat dia datang.
"Lho Nak Ayu, kok ke situ?"
"Ya Mang, mau pulang," jawabnya tanpa menoleh.
"Mang Maman antar ya?"
"Nggak usah Mang, Ayu sudah sembuh."
"Insya Allah, baik-baik saja Mang. Yang penting jangan doakan Ayu jatuh. Doakan selamat. Oke."
"Ya sudah, Non. Hati-hati ya ...."
Mang Maman memandang kepergian nya dengan sedih. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kalau mengantarkan juga pakai apa? Lha dia nggak punya mobil, adanya sepeda hordoks kesayangan yang sudah berbunyi ngik-ngik kalau dinaiki. Mang Maman pun melanjutkan kegiatan kembali, menyapu halaman belakang seluas lapangan bola.
Sedangkan Jamilah tetap meneruskan langkahnya. Baru berhenti manakala sampai di sebuh pohon yang digunakan untuk turun, saat dia datang. Dengan hati-hati, dia kembali memanjat, hingga sampai di puncak, lalu berjalan di tembok pelan-pelan sambil merenung.
"Kak Ayu, ayo turun ... dicari Umi. Papa Kak Ayu datang." Teriakan Mariana yang cukup keras, mengagetkan dirinya. Hampir-hampir membuatnya terjatuh. Beruntung ada sebuah dahan yang dapat diraihnya saat tiba-tiba merasa keseimbangan tubuhnya goyah.
"Ya, Ana," Berlahan-lahan Jamilah bergelantungan di dahan itu, sebelum menginjakkan kakinya di dahan yang kuat. Dan meraih batang pohon, memeluknya erat agar dapat turun. Tak lama kemudian Jamilah telah sampai di tanah, menemui Ana yang menyaksikan aksinya dengan hati was-was.
__ADS_1
"Benarkah Papa datang. Apa dia datang bersama wanita."
"Tidak tahu, Kak. Nah itu Papa Kak Ayu." Seorang pria yang berjalan cepat ke arah mereka. Untung Jamilah sudah di bawah, bahkan sudah berjalan menyusuri jalan setapak di kebun belakang. Ia tak bisa membayangkan kalau Papa Hasan menemukan dirinya masih di atas tembok. Pasti disuruh setor hafalan lagi ke paman, capek dech ....
Cepat-cepat Jamilah menghampiri Papanya. Memeluknya dengan manja.
"Papa, Setyawati kangen." Dalam dekapan Papa tercinta, Jamilah bisa melupakan sesaat kesedihannya soal Bara. Apalagi saat Papa Hasan memberi kecupan di pucuk kepalanya yang tertutup jilbab. Hampir-hampir dirinya tak bisa menahan untuk meneteskan air mata. Segera cepat-cepat diusapnya air mata yang akan keluar.
"Tumben, putri Papa menangis." Eh ... akhirnya ketahuan juga. Padahal mati-matian dirinya menyembunyikan kesedihan itu.
"Setyawati bahagia banget, Papa pulang nggak bawa wanita."
"J ... u ... j ... u ... r ... Papa nggak suka kalau dibohongi, apalagi sama putri Papa satu-satunya." Mengapa kata-kata Papa membuat diriku makin terharu.
"Hiks ... hiks ... hiks ... Papa, Kak Bara sudah pergi, nggak mungkin kembali. Ini semua gara-gara Jamilah yang merusak laboratorium nya." Tangis Jamilah pun pecah, menumpahkan segala kesedihannya di pelukan Hasan. Bahkan dirinya sampai lupa kalau di hadapan papanya menyebut nama asli.
Mendengar alasan Jamilah menangis, membuat Hasan ingin tertawa. Tapi tak tega. Dia hanya membiarkan Jamilah meneruskan tangis di dadanya, dengan membelai lembut kepala putrinya.
"Belum tentu juga karena itu, siapa tahu karena yang lain."
"Nggak, bener karena itu. Kak Bara ngomong gitu kok waktu itu, saat terakhir ketemu Setyawati." Kini mata membulat, mencoba mengingat-ingat sesuatu dari kenangan yang tersisa dalam ingatannya. Dan terlupa dech pada tangisnya yang terjeda oleh bayangan indah saat dirinya diantar oleh Bara ke panti asuhan. Hingga terlihat senyum tersungging di bibirnya.
Whuuaalllahhh .... anak-anak. Bentar nangis, bentar tertawa. Asalkan jangan melamun saja. Kalau itu sampai kejadian, bingung dirinya.
"Pa, aku ada sesuatu untuk Papa."
"Benarkah?"
Jamilah segera melepaskan pelukannya, dan berlari menjauh dari dirinya, menuju ke rumah utama.
__ADS_1
"Papa, kejar aku!!"