Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz

Peluru Cinta Sang Jenderal Hafidz
Rencana Akmal


__ADS_3

"Aku berharap kamu tidak segera menuju Turki."


William yang mendengar kata-kata Akmal jadi bingung sendiri. Mengapa harus ditunda-tunda. lni saran ataukah larangan. Tak tahukah hatiku akan semakin galau dan merindu. Eh ... sebentar. Tak mungkin Akmal mengatakan itu jika tak punya cukup alasan.


"Mengapa?"


"Kamu sudah siap ketemu Tazkia?"


Inikah yang menjadi pertimbangannya?


"Siap tak siap. Kalau ketemu kan bisa lebih tenang."


"Benarkah?" tanyanya sanksi.


Membuat William semakin curiga.


"Akmal, tolong kamu jujur. Saat ini Tazkia dimana?" William sudah tak kuasa lagi menyembunyikan kegelisahannya.


Akmal diam sesaat. Beberapa kali mengambil nafas panjang dengan memejamkan mata. Haruskah dirinya terus terang saja, agar semua jelas.


"Maafkan aku Will. Aku tak punya maksud menyembunyikan Tazkia dari kamu. Ini demi kebaikan kita bersama. Termasuk Tazkia."


"Maksudmu gimana, Mal. Aku benar-benar tak mengerti." Dia memandang Akmal dengan sorotan mata penuh selidik.


"Memang pertama kali dia datang, sekitar 6 bulan yang lalu, dia baik-baik saja dan sikapnya wajar, tak ada yang mencurigakan. Sampai saat dia mencelakai seseorang, baru kami sadar bahwa ada sisi lain yang selama ini belum kami ketahui."


"Dia mencelakai seseorang?" William terperanjat.


Bagaimana mungkin dia bisa percaya dengan apa yang Akmal katakan.


Ini benar-benar di luar kebiasaan Tazkia yang selama ini dikenalnya. Itu bukan Tazkia yang dia tahu.


"Kamu jangan mengada-ada, Mal."


"Ya. Aku pun sama tak percaya dengan apa yang kulihat. Sampai dia datang lagi dan bertindak hal yang sama. Mencelakai orang yang sama pula."


"Hmmm ...." William terlihat termenung saat mendengar cerita Akmal.


"Hanya saja saat itu kondisinya benar-benar menyedihkan. Seperti mayat hidup. Berdetak dan bernyawa namun tak punya nafas kehidupan. Darahnya sudah tak merah lagi. Sudah berganti sempurna dengan cairan yang kamu pegang, Will." ucap Akmal sambil melirik botol kecil yang masih dalam genggaman William.


"Berarti saat ini Tazkia bersamamu."


Akmal mengangguk sambil menunduk. Sejujurnya ini berat bagi Akmal. Khawatir mengatakan pada orang yang salah.

__ADS_1


"Ya. Saat ini aku sedang serius mengobservasi dia. Semoga ada hal baik akan bisa kita dapatkan dari peristiwa ini."


Ada senyum harapan yang menghias bibirnya. Namun ada genangan air di telaga beningnya. Mungkinkan tetes air mata bahagia.


"Bisakah kita bekerja sama?" Akmal berharap William bisa membantunya untuk membuat serum itu. Siapa tahu bisa mengobati Abid dan juga Tazkia atau orang-orang yang kini belum diketahuinya.


"Maksudmu?"


"Kita buat serum bersama. Bagaimana?"


William belum merespon. Masih bingung dengan rencana Akmal. Tapi siapa tahu dengan serum yang mereka buat akan bisa menyembuhkan Tazkia juga. Itu harapannya saat ini.


"Terima kasih, Mal. Aku kini sedikit lega. Tapi bisakah engkau pertemukan aku dengannya."


Untuk kali ini Akmal hanya bisa menggelengkan kepala sebagai jawaban. Terang saja wajah William berubah seketika. Dia tampak geram.


"Kamu mau bermain-main denganku?"


"Lha mana mungkin aku bawa. Berat kali ...." jawab Akmal dengan canda.


"Isssh Kamu!" Ingin dia menjitak kepala Akmal. Tapi urung diakukan ketika tampak kesedihan di wajah Akmal.


"Kita bikin serum dulu ya ... Masalah Tazkia sudah ditangani. Insyaallah aman."


"Tolong jangan desak aku masalah ini. Kita fokus ke serum. Maaf aku tak terima penolakan. Karena lebih cepat lebih baik."


"Sebegitu serius kah keadaan Tazkia saat ini?"


"Sangat."


William merenung sejenak. Keinginan untuk bertemu Tazkia sangat kuat. Sedangkan Akmal mendesaknya untuk membuat serum. Dua-duanya sangat penting.


"Oke, aku turuti kemauanmu. Tolong jaga Dia dengan baik. Kapan kita mulai?


"Segera. Kurasa lebih cepat lebih baik."


William tersenyum. Ada secercah harapan menyapu wajahnya yang kusut.


Akmal pun tampak senang dengan perubahan William yang kini sudah tak lagi terbelenggu dengan obsesinya yang hanya mencari Tazkia. Yang membuat tak bisa mengontrol emosinya. Seperti William yang dikenalnya dulu.


Meski hati ini teramat gelisah, galau, campur aduk menjadi satu. Tapi itu semua tak mengurangi jiwa penelitian-nya. Syukurlah ....


"Anak ini masih sama. Kalau masalah beginian pasti cepat respon. Dan lebih hidup dari pada saat datang." Gumamnya berlahan dalam diam.

__ADS_1


"Aku pasti bantu kamu, Insyaallah."ucap Akmal.


"Jazakumullah Khoiron Katsir."


"Sama-sama."


"Kita akan mulai setelah urusanku di sini selesai. Tidak lama.


"Baiklah," jawab William sambil berdiri dan mengusap wajahnya dengan selembar sapu tangan yang keluar dari kantong celananya. Agar coreng-moreng yang terlukis indah di wajahnya hilang tak berbekas. Malu ah, kalau terlihat orang. Wajahnya yang tampan pasti musnah. Rugi kan ....


"Mampir ke rumahku, yuk!" Ajak Akmal.


"Rumah belakang Panti Asuhan itu?"


"Boleh. Aku bisa gunakan lab-mu di sana." Tanya-tanya sendiri, Jawab-jawab sendiri.


Akmal mengangguk dan tersenyum , melihat William yang kini jadi satu tim, tampak punya semangat seperti yang dia harapkan. Ya Allah mudahkanlah urusan ini.


"Kalau gitu aku balik dulu, ambil barangku di hotel."


"Ya. Terima kasih sekali, Will. Aku tunggu kedatanganmu." ucapnya. "Masuk saja kalau aku belum ada. Ada masalah yang mau kuselesaikan. Moga-moga tak lama."


Akmal menengok ke arah mobil yang sesaat lalu dia tinggalkan karena sibuk. Dia terkejut, ketika melihat tak ada seorangpun dalam mobilnya.


Lho .... Kok kosong. Ke mana Ayu Jamilah pergi?


"Hai! mengapa bengong. Cari siapa?"


"Kamu melihat wanita yang ada di sampingku tadi."


"Tidak."


Ya ... William sejak awal hanya fokus ke satu orang dengan segala amarahnya. Mana mungkin bisa melihat manusia lain.


Akmal bangkit dari duduknya. Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh tempat parkir. Tapi tak juga ditemukan wanita yang dicarinya.


"Istrimu, kah?"imbuhnya.


Akmal tersenyum sekilas.


"Belum, doakan." ucapnya tanpa menoleh sedikitpun pada William. Dia masih sibuk mencari-cari.


"Hai, aku di sini," seru Jamilah yang berdiri tak jauh dari mereka berdua ngobrol. Tepatnya di belakang mereka.

__ADS_1


Sejak kapan dia ada di sana. Jangan-jangan di menguping lagi. Aku tak tahu apa yang mesti kulakukan kalau Jamilah tahu semua. Tentang Abid, Tazkia atau apa yang sedang aku rencanakan bersama William. Bisa ruwet ....


__ADS_2