
Ya ... Senyuman dengan menyimpan tawa. Baru juga mulai, sudah ada batu sandungan. Batu sandungan dari Komandan sudah menghadang. Bukan main-main bongkahan batu sandungannya. Beraaat ... Pakai istilah pengkhianat pula. Wow ... na'udzubillahi.
Apakah karena diriku ada hati pada Jamilah. Seenaknya Ia menyebutku penghianat. Tega nian Engkau, Komandan.
Tak tahu kah dirimu. Bahwa Aku masih menyimpan geram ... pakai geram sekali ... pada orang yang bernama Tazkia dan Bastian. Kalau terjadi apa-apa dengan Jamilah, rasanya Aku sulit memaafkannya.
Tuhan, janganlah Engkau buat ini menjadi rumit ....
Ternyata Tuhan benar-benar Ar-Rohman Ar-Rohim. Dia mengirimkan seseorang yang selalu membuatku tentram di sisinya.
Handphone yang tersimpan dalam saku, terasa bergetar. Ada notif masuk. Ku buka, ternyata dari Mama. Lupakan sejenak kata Komandan. Sambut keceriaan bersama Mama. Wanita yang selalu mendukungku dan selalu bikin otak jadi cemerlang. Clink ....
"Akmal, Mama sudah di sini. Kamu di mana?"
"Maaf Mama, Akmal lagi di depan."
Bolehlah kini aku berjalan dengan sangat cepat. Karena tak ingin wanita yang ada di ujung telepon itu menunggu terlalu lama. Kasihan bukan? Dan tentu saja tak sopan.
Dari ujung lorong sudah ku lihat Mamaku tersayang. Tampak mondar-mandir di depan kamar rawat dan tentu dengan pasangan romantisnya. Siapa lagi kalau bukan Papa ku yang sedikit mulai beruban. Jangan salah sangka. Sayangku padanya sama dengan dengan sayangku pada Mama.
Untung saja kak Akram dan Aisye tak ikut mereka. Malu kalau ada mereka. Apalagi kalau bawa pasangan halal masing-masing. Diledeknya diriku habis-habisan.
"Mama, Dia sedang kritis."
"Ya. Mama sudah lihat. Berdoalah, semoga lekas sadar."
Mereka bertiga pun masuk dalam ruang, tempat Jamilah dirawat. Sesaat semua diam dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Akmal tertunduk sedih. Pandangannya pun beralih ke lantai yang berhiaskan keramik batu pualam asli. Ada sesal yang tak mampu disembunyikan lagi. Saat dia berharap berjumpa. Agar dapatlah berterus terang apa yang lama dipendamnya dalam penantian. Tapi tak mungkin dilakukannya. Karena kini Jamilah berbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa infus dan juga selang.
"Akmal ... Akmal. Ternyata Dia yang selama ini kamu tunggu. Bukankah Dia gadis kecil yang sepuluh tahun ke rumah kita. Putrinya Pak Hasan. Tetangga kita dulu."
"Papa masih ingat?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar suara adzan dari lingkungan rumah sakit.
"Pa, aku mau sholat dulu."
"Papa juga."
"Ya sudah. Mama yang akan tunggu. Gantian."
Akmal dan Ulya meninggalkan Mama Naura bersama dengan Jamilah. Untuk melakukan sholat magrib berjamaah di masjid. Sepeninggal mereka, Naura duduk di tepi ranjang Jamilah. Dia membelai lembut jilbab Jamilah. Siapa tahu dengan begitu Jamilah sadar.
Tak dikira olehnya, berlahan-lahan mata Jamilah tersadar. Matanya terbuka, melirik ke sana kemari secara berlahan. Menengok ke arahnya.
"Aku di mana?"Jamilah membuka suara.
"Alhamdulillah. Kamu sudah sadar, Nak."
Tapi sayang hanya kata itu saja yang terucap dari bibirnya. Lalu kembali mata Jamilah terpejam. Dia pun tertidur lagi. Naura bingung dengan apa yang terjadi. Seketika Dia menekan bel yang ada di samping tempat tidur Jamilah. Memanggil perawat jaga agar segera memeriksa keadaan Jamilah. Siapa tahu ada kabar baik yang bisa Dia dengar.
"Jamilah ... Bangunlah Nak!" Dengan bisikan pelan Naura memanggil-manggil nama Jamilah. Berharap suaranya dapat didengar oleh Jamilah sehingga dia dapat sadar kembali.
"Tante siapa?"
"Kamu tak ingat tante, Ayu Jamilah?"
"Ayu Jamilah ... Ah." Tangan Jamilah terangkat dan menyentuh bagian kepalanya. Seakan-akan ada sesuatu yang dirasakan di sana.
"Ada apa, Ayu?"
"Ayu .... Ayu Jamilah." Pandangannya masih belum fokus Dan seperti belum menyadari dengan apa yang dikatakannya. Bahkan Jamilah terlihat mempertanyakan tentang nama itu.
Jangan-jangan .... Astaghfirullah al adzim. Apakah ini yang dinamakan amnesia? Aku buta soal ini. Semoga saja bukan.
Tak lama kemudian Seorang perawat masuk ke ruangannya. Lalu memeriksa dengan teliti keadaan Jamilah. Tampak senyum di wajahnya. Menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan dalam keadaan baik-baik saja.
"Alhamdulillah, Nona sudah sadar. Sudah melewati waktu kritisnya Nona."
__ADS_1
Sesaat Naura merasa gembira. Tapi ada satu pertanyaan dalam dirinya, tentang apa yang baru saja terjadi.
"Suster Apakah dia baik-baik saja?"
"Sejauh ini baik-baik saja. Ada apa Nyonya?"
"Apakah dia terluka di bagian dalam?"
"Maksudnya Nyonya?" Sesaat perawat itu terdiam. Ia mengerti dengan apa yang akan ditanyakan oleh Naura. Tapi bukan haknya untuk menjawab.
"Sebaiknya Nyonya bertemu dengan dokter yang merawatnya. Insyaallah dia baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Terima kasih, Suster."
"Sama-sama."
Perawat itu pun pergi, seiring dengan kedatangan Akmal dan juga papa Ulya. Mereka tampak terkejut melihat Seorang perawat yang keluar dari kamar Jamilah. Tapi saat melihat mata Jamilah terbuka Sepertinya dia sudah sadar, Mereka pun bersyukur.
"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar, Jamilah."
"Kalian siapa? Jamilah itu siapa?"
Mereka pun saling berpandangan. Bagaimana mungkin dia tak mengenal namanya sendiri. Dan juga nama Akmal yang biasa dipanggil dengan sebutan jenderal. Kalau dengan Mama Naura dan Papa Ulya, bolehlah lupa. Karena memang sudah sangat lama mereka tidak berjumpa.
Naura merasakan kegelisahan pada diri putranya. Lalu dia mendekatinya serta menepuk pelan pundaknya. Dia mengerti benar keadaan putranya. Bila memilih seseorang untuk menjadi tamu dalam hatinya maka dia akan komitmen di orang itu saja. Tak mau berpindah ke yang lain. Bahkan dia sanggup bersabar menunggu dalam waktu yang sangat lama, 10 tahun. Menunggu sampai dia dewasa.
Beberapa kali Naura menawarkan gadis padanya untuk dijadikan istri. Tetapi selalu saja dia menolak. Bahkan umurnya kini sudah 27 tahun. Adik dan kakaknya sudah pula menikah. Dia belum juga berkeinginan menikah.
Meskipun dia seorang laki-laki. Sebagai orang tua, agak khawatir juga. Khawatir terseret pada hal yang tidak dihalalkan. Sama saja laki-laki atau perempuan pasti ada punya rasa ketertarikan. Bila tak hati-hati bisa terjerumus dalam dosa. Semua tentu tak menginginkannya, bukan?
Untuk apa putranya menghindari menikah. Usut punya usut ternyata ada yang dinantikannya. Ini dia ketahui dari kakak kembarnya yang bernama Akram. Sebagai orang tua setuju-setuju saja. Bahkan bersyukur, Dia sudah bisa memilih sendiri. Tak peduli asalnya dari mana. Beda negara atau senegara tak penting. Yang penting Akmal segera dapat jodoh.
Dia sangat gembira saat Akmal menelpon untuk memperkenalkan calon istrinya dalam waktu dekat. Tapi tak disangka ternyata kecelakaan menimpa Jamilah.
"Sabar dan doakan."
__ADS_1