
Sehari boleh lah bersantai dengan memandang foto Jamilah. Tapi sayang belum juga puas, panggilan tugas lagi-lagi datang. Mau tak mau gambar itu harus sembunyi dulu, melayang ke dalam mbah Google, agar tak hilang.
“Oke, Jamilah. Kamu baik-baik saja di sana ya,” kata Akmal sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Dia memandangi gambar itu sampai puas sebelum semua lenyap dari galeri handphonenya.
Akhirnya, Dia bisa menikmati istirahatnya dengan tenang di camp yang memang dikhususkan baginya. Ya ... tempat yang mana lagi kalau bukan di Laboratorium.
🌟
10 tahun kemudian, Akmal telah sukses dalam meniti karir di bidang kemiliteran. Tak perlu waktu lama untuk mencapai pangkat yang sekarang. Seorang Letnan Jenderal bidang tertentu. Hebat bukan? Harap maklum, karena dia seorang penemu senjata biologi.
Tugas dan penelitian membuat Akmal menyimpan nama Jamilah dalam angannya saja. Sampai saat ini.
“Hai Akmal, kita mau berangkat latihan bersama, dengan negara Indonesia,” sapa Bastian pada suatu hari.
Indonesia ... Akmal yang saat itu sedang mengamati sesuatu di bawah mikroskop, berhenti sejenak. Lalu dia memandang Bastian dengan penuh perhatian.
“Benarkah?”
Akmal jadi teringat akan sebuah negara yang dulu menjadi tempat pelariannya, untuk menghindar daripada keinginan papa Ulya. Ya Indonesia. Tapi sayang, semua sia-sia karena ada campur tangan gadis kecil itu. Sehingga pada saat ini dia berada di tempat ini.
Ternyata keinginan Papa membuat dirinya lebih berkembang. Akmal bisa mengembangkan apa yang menjadi cita-citanya, mendapatkan ilmu dan keterampilan baru juga. Tentu saja semua ini dinikmati dengan bahagia. Siapa yang tak senang, apa yang sudah dicita-citakan sejak kecil terwujud . Tampa sadar Akmal tersenyum.
“Kelihatannya kamu senang, kita dapat latihan bersama Indonesia?"
“Hm ... Ya tentu saja, karena Papa kandungku dari sana. Sayangnya aku tak bisa ikut. .”
Akmal mencoba berkelit dari suatu bayang-bayang tentang Indonesia. Padahal bukan itu yang ada dalam pikirannya. Tapi tak mungkin untuk menceritakan hal itu kepada Bastian. Dia mencoba untuk menceritakan sesuatu yang lain meskipun itu nyata.
Biar lah apa yang jadi pikirannya, akan menjadi rahasia dalam dirinya saja. Toh itu cerita lama. Jamilah ... Jamilah, adik Abang yang lucu dan bandelnya luar biasa.
“Papa kandung?”
“Ya. Papa Ulya itu Papa sambung. Sebenarnya Papa meninggal saat aku masih 1 bulan di dalam kandungan. Aku tak tahu sama sekali tentang papaku. Yang aku tahu, Papaku yaitu papa Ulya. Karena semenjak lahir, Papa Ulya lah yang menemani kami.”
“Akmal ... Akmal. Bibir dan matamu nggak bisa bohong. Itu kan cerita lama, sudah sering aku dengar.” Siapa sih yang tak tahu tentang diri sahabatnya itu. Tak cerita pun Bastian sudah bisa menebak.
“Kamu itu tahu apa Bastian?”
__ADS_1
“Sudah, akui saja. Siapa tahu aku bisa menolongmu.” Bastian tahu bahwa semakin ke sini, Akmal jarang terjun di lapangan.
Akmal yang menekuni pengembangan senjata biologi, jarang sekali berada di lapangan. Dia lebih sering berada di laboratorium. Sedangkan Bastian yang menguasai bidang persenjataan umum, sering berada di lapangan.
“Menolong apa?” Akmal mencoba menyembunyikan getar kerinduan yang sempat berbisik dalam jiwanya. Tentang dia yang jauh di sana. Entah masih ingat padanya atau tidak. Terakhir berjumpa dia masih kanak-kanak yang baru tumbuh menjadi besar. Sekarang apakah sudah besar dan dewasa.
“Eh, Karena kamu sudah menawarkan diri ... carikan informasi tentang Jamilah.” Akmal tertawa. Orang rumah kalau ditanya tentang Jamilah, semuanya pada diam. Apalagi kak Akram. Aku kok jadi curiga padanya. Apakah Kak Akram ada berselingkuh di belakangku? Ah tak mungkin.
Astaghfirullah ... kok jadi kepikiran yang aneh-aneh. Mungkin memang benar-benar tak ada kabar tentang Jamilah. Jadi tak ada yang bisa mereka ceritakan padaku. Khusnudhon saja.
Dari pada curiga yang tidak-tidak, tak ada salahnya kalau sekarang memanfaatkan bantuan teman. Hehehe ....
“Akhirnya kamu buka suara. Oke nanti aku sampaikan sama Crist, dia ahlinya selidik-menyelidik. Tapi enggak bisa janji karena mereka yang ke sini, bukan kita yang ke sana.”
Dia yang menawarkan diri, orang lain yang mengerjakannya. Bastian ... Bastian. Ada saja ....
“Kukira kamu yang bergerak, Crist juga yang kamu suruh. Tapi tak apalah, aku tunggu kabar dari kalian.”
Hehehe ... Bastian tertawa tanpa beban. Dasar!!
“Oke, semoga sukses untuk semua.”
“Aamiiin.”
Sepeninggal Bastian, Akmal membereskan semua peralatan penelitiannya. Seperti biasa, istirahat sejenak, sebelum bersiap diri untuk sholat dhuhur.
Selepas salat zuhur, Akmal melafalkan bacaan Al Qur’an sekedar mengisi waktu. Hitung-hitung sebagai murojaah agar hafalannya tak hilang. Puas sudah Murojaah, baru kemudian dia beranjak dari masjid di lingkungan milik departemen pertahanan ini. Dia menuju ruang makan, sekedar untuk mengisi perut, bersama-sama dengan prajurit-prajurit yang lain.
Begitu selesai seperti biasa, dia akan menuju bagian pojok kanan, menyendiri agar dapat menikmati makanannya dengan tenang. Entah lah meski saat makan kalau ada yang melintas di otaknya, maka akan segera dicatatnya, agar tak hilang. Makanya dia lebih suka memilih tempat pojok yang sepi.
Tanpa dia sadari, Christ menghampirinya.
“Hai Akmal,”
“Kamu Christ. Bikin kaget saja.”
“Sepertinya Jamilah ada dalam pasukan mereka dech. Tapi apakah itu Jamilah yang kamu maksud atau bukan, aku tak tahu,” kata Crist tanpa basa-basi. Membuat jantungnya berdebar, meskipun samar. Mungkinkah ini bertanda, tak tahulah.
__ADS_1
“Cepat kali kamu dapat informasi.”
“Apa kamu meragukanku?”
Akmal tersenyum lebar, sambil menikmati makanannya yang tinggal sedikit. Siapa yang tidak tahu kemampuan Chris. Masalah membobol data, merusak radar atau yang lainnya, dia ahlinya.
“Terima kasih, Kawan. Tak ada salahnya kalau kamu cari tahu selengkapnya tentang dia.”
Entah mengapa, kata hati Akmal menunjukkan kalau Jamilah itu adalah adik kecil yang selama ini dia cari, sekaligus yang dirindukannya.
“Atau perlu dia aku bawa ke mari.”
“Bisa saja kamu.”
“Kita itu kasihan sama kamu, masak sudah berpangkat, masih juga belum punya pasangan. Kalah dengan kita-kita. Pangkat masih di bawah kamu, tapi sudah berani berumah tangga. Bahkan Bastian sudah dua kali. Tapi gagal maning ... gagal maning.”
Panjang kali lebar juga si Christ kalau menerangkan soal teman-teman. Untung ini terjadi di antara kita saja. Karena kita sahabat. Tapi jangan tanya bagaimana diamnya dirinya kalau sedang bertugas. Lawan akan menyangka kalau dirinya bisu, karena saking sulitnya untuk bicara.
“Bisa saja Kamu, Christ. Lha kamu?”
“Hehehe ... Jangan ngomong-ngomong. Aku sebenarnya sudah nikah.”
“Maksudmu?”
“Ya, gimana lagi. Kasihan dia ditinggal sama kakakku, dari pada keponakanku nggak ada yang rawat, aku nikahi dia.”
“Sama Kakak ipar?”
“Ya, makanya aku nggak suka kalau ada yang tahu. Hanya kamu yang aku kasih tahu.”
“Selamat ya ... Aku ikut senang. Temanku sudah melepas masa lajangnya.”
“Terima kasih. Makanya kapan kamu nyusul.”
Hehehe ... Akmal hanya bisa tersenyum dengan agak-agak getir.
__ADS_1