
"Baiklah Akmal, sepertinya ini penting sekali buat kamu. Akan ku usahakan semua yang kamu minta. Setelah habis 2 botol infus, insyaallah dia bisa langsung pulang. 2 hari sekali aku akan ke rumahnya."
"Makasih banget, Irsyad. Aku mengandalkan kamu. Bisa jadi dengan bantuanmu ini banyak jiwa terselamatkan."
"Jangan berlebih-lebihan."
"Tidak Irsyad. Inilah yang sebenarnya."
Irsyad pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tugas yang diberikan Akmal kelihatan ringan tapi ini tanggung jawab yang besar. Kalau bukan Akmal tak ingin dia menerimanya.
Dia teringat waktu di pondok dulu. Seringkali Akmal membantu dia. Baik segi keuangan dan lainnya. Bahkan keluarganya pun tak luput dari bantuan Akmal sampai dia seperti sekarang ini. Mereka tak pernah mengingat bantuan yang diberikannya. Ini terbukti Akmal tak segera mengenalinya saat mereka berjumpa lagi.
Kalau soal membantu observasi bukan hal baru baginya. Karena dulu hal itu pernah dia lakukan untuk membantu Akmal. Meski tak sering. Karena memang Akmal suka melakukan segalanya sendiri.
"Yaudah, aku balik. Syukron Katsir."
"Afwan ... Oh ya, jangan lupa undang kalau nikahan."
"Insyaallah."
"Assalamualaikum warahmatullahi ..
"Waalaikum salam warahmatullahi wa alaikum."
Mereka berpelukan hangat sebelum berpisah. Akmal kini berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Irsyad yang masih tersenyum. Mengungkapkan kebahagiaannya bisa berjumpa teman lama.
Sedangkan Akmal kembali ke ruang perawatan Abid. Mendapati Jamilah sedang membelai lembut kepala Abid. Sesekali tanpa sadar kepalanya mengangguk-angguk. Rupanya dia sedang mengantuk. Mungkin juga karena kelelahan setelah main kejar-kejaran dengan penculik itu.
Sebenernya Akmal tak tega untuk membangunkannya, tapi gimana lagi. Di ruangan itu dia sendiri, rasanya sangat membosankan. Ingin sekali dia mengajaknya berbincang-bincang, untuk mengusir rasa jenuh ini.
"Ayu Jamilah," sapa Akmal lembut.
"Ee ... ae ... Ah Kakak. Lama kali Kakak perginya," ujarnya dengan tergagap-gagap. Dia pun mengusap mata, lalu kedua tangannya menutup mulut untuk menahan menguap.
"Maaf. Habis tak bisa ditahan sich."
Ini bukan alasan loh, tapi memang beneran. Saat akan kembali ke sini, aku memang mampir dulu ke toilet.
"Enggak apa-apa kok Kak. Cuman Ayu jadi ngantuk nggak ada temennya ngobrol. Mana Abid tidur lagi."
Ternyata sama yang kita rasa saat ini. Siapa sih yang tak ngantuk kalau lagi sendiri, tubuh sedang lelah lagi.
"Papa sudah kamu kasih tahu?"
"Sudah. Tapi belum datang."
"Sabar ... Mungkin sebentar lagi." Aku pun mendekatinya dan memperhatikan Adit yang tertidur pulas di depannya.
__ADS_1
"Kak Kenapa Adit tidur terus, tidak terjadi apa-apa kan dengan Abid?"
"Pikiran yang buruk nanti akan mempengaruhi hasilnya. Pikirkan yang baik-baik aja. Insya Allah nggak akan terjadi apa-apa."
"Boleh-boleh." ucapnya cepat. Meski dia masih terlihat mencoba mengerti. "Tapi bener kan, Kak? Ayu bener-bener khawatir nih Kak."
"Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa. Ini semua juga karena kesalahan Kakak, nggak bisa menjaga kalian."
"Tak ada yang salah, Kak. Justru Ayu bersyukur Kakak ada di sana saat kejadian. Ayu tak bisa bayangkan kalau saat itu Kakak tak ada."
"Sudah, Alhamdulillah Abid bisa kita selamatkan."
"Iya, Kak. Tapi Ayu masih khawatir."
Aku bisa memaklumi kegelisahannya. Bagaimana pun dia seorang wanita yang sangat perasa. Meskipun di luar terlihat tegar, dan semaunya sendiri. Tapi rasa pedulinya lebih menonjol daripada egoisnya.
"Kak. Bisa nggak Kakak dan orang tua Kakak datang ke orang tuaku jangan nanti malam, besok pagi saja. Gimana?"
Nah bener kan ... apa yang dia pikirkan. Pada akhirnya dia akan mengorbankan urusannya demi orang lain. Apalagi orang itu adalah orang yang sangat disayanginya. Tapi kalau untuk masalah ini.Aku maklum kok. Kita semua juga nggak akan melakukan hal itu di tengah-tengah kesusahan mereka. Pasti Papa Mama juga akan mengerti akan hal itu. Cuma akunya aja yang agak beraaaaaat ... menerima ini. Selalu saja tertunda. 😢
Dan aku harus minta terpanjangnya waktu dari Profesor Amar lagi, agar aku bisa lebih lama tinggal di sini. Menyelesaikan semua, termasuk tujuan utamaku.
Kali ini aku tak peduli diijinkan atau tidak. Yang penting bilang. Aku tak ingin menundanya hanya dengan menuruti keinginannya tentang Tazkia. Lebih tepatnya obsesinya untuk menghidupkan lagi Tazkia. Dia harus menunggu sampai urusanku selesai.
Maafkan aku profesor ... Kurasa Kamu akan membuat keputusan yang sama, bila berada di tempatku saat ini. Ok!
"Assalamualaikum, Bagaimana keadaan Abid?"
Kami berdua menengok kearah sumber suara, yang ternyata Bunda Zulfa yang diikuti oleh kak Malika dengan suaminya. Mereka kini telah berdiri di tengah-tengah pintu masuk kamar paviliun.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah Bunda, sudah lebih baik."
"Papa nggak ikut?"
"Papa sekarang sedang ke kantor polisi." jawab Kak Malika.
Bunda Zulfa segera menghampiri Abid, lalu memeluknya dengan hangat. Dan juga menciumnya. Sampai-sampai membangunkan Abid yang sudah tertidur lelap.
"Bunda ...."
"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?"
"Ada Kak Ayu, Om Akmal juga."
Ayu terlihat sendu menatap mereka. Seakan iri dengan kehangatan yang Bunda Zulfa nampakkkan pada Abid. Sesekali aku lihat dia mengusap ujung matanya dengan tangan. Kurasa dia terharu.
Dia pelan-pelan berjalan keluar dari kamar itu. Meninggalkan Bunda Zulfa Kak Malika dan suaminya. Dia berdiri bersandar di dinding dengan tatapan sendu. Tak tega aku melihatnya. Aku pun menghampirinya.
__ADS_1
"Ayu, ada apa?"
"Tak ada apa-apa Kak."
"Kok pergi?"
"Aku rindu pelukan Mama."
Mau tak mau Akmal tersenyum sendiri, mendengar pengakuan Jamilah.
"Memangnya kamu enggak pernah dipeluk sama Bunda Zulfa."
"Sering bahkan sebelum Abid lahir, aku sering tidur sama Bunda."
"Segedhe gini?"
"Bunda nggak pa-pa kok," jawabnya manja.
"Ya deh." Sungguh Aku ingin tertawa terbahak-bahak. Jika tak ingat dia sudah dewasa. Daripada menyinggung perasaannya lebih baik kusimpan tawaku dalam senyum dikulum. Yang membuat Jamilah makin kesal
"Apa masalahnya buat Kak Akmal?"
"Aku tak sanggup membayangkan kalau kamu menjadi istriku, lalu tiba-tiba malam hari terbangun. Teringat papa bundamu, lalu menangis, minta pulang. Jadi lucu deh ...."
"Iiiiihhhh ... Kakak. Keterlaluan dech!" Kedua tangannya mengepal. Bersiap-siap ingin meninju Akmal.
"KDRT ini namanya."
Jamilah menghentikan gerakannya dengan wajah dongkol.
Dia berdiam diri sejenak. Lalu berkata, " Rasa-rasanya Aku merindukan Mama. Ingin aku berziarah ke makamnya."
"Saat ini?"
"Ya. tapi itu tak mungkin."
"Moga-moga besok Kakak bisa antar kamu ke makam Mama."
"Kita nanti ke sana sama Papa."
"Kakak nggak diajak."
"Ijin Papa dulu."
"Itu Papa."
Mengapa dia berjalan dengan tergesa-gesa. Wajahnya sedikit tegang. Ada masalah apa?
__ADS_1